Kamis, 28 Juli 2016

Kata dan Asa


Oleh: Wahyu Setyawan

Kata dan asa. Kata ialah sesuatu yang terucap dari lisan seseorang yang memiliki makna, namun ada juga yang tak bermakna atau omong kosong. Ada pula kata yang mengandung do’a atau harapan. Nabi menyukainya dengan istilah al-ja’lu atau tafa’ul. Imam al-Marwadi menjelaskan manfaat tafa’ul yang baik, “Tafa’ul itu bisa menguatkan tekad, mendorong kesungguhan dan membantu kesuksesan....”.

Inilah kenapa tafa’ul atau sebuah kata yang menggugah, memiliki asa yang akan menggugah seseorang yang mulia seperti  Imam Muhaditsin al-Bukhari, yang tertantang untuk mencoba membuat karya yang besar. Yaitu perkataan dari gurunya,yang bernama Ishaq bin Rahawaih, “Andai saja di antara kalian ada yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi ShallaLlaahu`alaihi wa Sallam yang shahih kemudian menulisnya dalam satu kitab.”

Begitu pula dengan Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika menulis kitab Fathul Bari`, apa yang membuat beliau menulis kitab tersebut? Ini semua bermula dari harapan Ibnu khaldun, yang beliau menulisnya di dalam karyanya. Curhatan beliau dalam bukunya, "Sesungguhnya, untuk menulis syarah (penjelasan) dari shahih bukhari, menjadi hutang bagi umat islam hingga waktu sekarang ini." Lalu ini kata-kata inilah Ibnu Hajar tergugah untuk melunasi hutang itu.

Dan, dialami pula oleh Imam adz-Dzahabi, seorang pakar hadits yang hingga kini selalu dibutuhkan ilmunya. Sedikit kata-kata harapan yang tercetus dari lisan gurunya, sanggup mengantarkan beliau menjadi pakar hadits sekaliber dunia. Keajaiban itu bermula saat gurunya mengomentari goresan pena yang ia tulis, “ Sesungguhnya tulisanmu ini seperti tulisan para pakar hadits.” Akhirnya sindiran merupakan kata-kata yang menggugah asa beliau untuk menjadi pakar hadits.

Beginilah para ulama ketika merangkai kata-kata untuk menggugah asa para generasi-generasi yang memiliki keinginan perbaikan. Wallahu a'lam bishowab.

Liputan Bedah Buletin Nah Pasca Ramadhan




Lebih dari sebulan kiranya tak berjumpa dalam forum spesial ini. Setiap hari Jum'at di Rumah Nah. Ya, Sekolah Jum'at. Selama Ramadhan bukankah kita tak bejumpa dalam forum ini?

Nah, pada kesempatan ini (22/07/2016) Sekolah Jum'at edisi perdana setelah Ramadhan kembali dimulai. Apa yang diperbincangkan? Tentang sebuah buletin karya tim kami. Buletin Nah!

Pada pertemuan ini sekolah jum'at diisi dengan bedah Buletin Nah edisi ke-41. Secara khusus mengulas tentang kolom sajian spesial (saspel). Sebagaimana teman-teman yang akrab dengan buletin ini ketahui, kolom saspel ini isinya paling panjang jika dibandingkan dengan kolom yang lain. Namanya juga sajian spesial, maka harus ada yang spesial untuk dibaca.

Sebelum mengulas kolom saspel ini, peserta yang hadir juga diminta untuk memberikan tanggapan terhadap dua lembar calon naskah yang rencananya akan dipilih untuk diterbitkan. Melalui proses ini juga para peserta berkesempatan untuk memberikan ulasan terhadap naskah-naskah yang tersedia. Kemudian tak kalah penting, tim redaksi Buletin Nah juga mendapat masukan yang berharga untuk perbaikan selanjutnya. Oh ya sobat, kalian sudah baca Buletin Nah terbaru? Kalau belum segera baca! (@Am1Nov)

Rabu, 27 Juli 2016

Kisah: Nabi Yunus dan Ikan Paus


Oleh: M. Chazim 

Sobat sudah pernah mendengar kisah Nabi Yunus? Beliaulah utusan Allah untuk menyerukan hanya menyembah Allah dalam beribadah. Akan tetapi kaumnya tidak menerima dakwah Nabi Yunus. Justru semakin larut dalam kekafiran. Nabi Yunus pun pergi meninggalkan kaumnya dengan marah. Sehingga bertemu dengan suatu kaum penumpang sebuah kapal. Mereka pun membawa serta Nabi Yunus.

Setelah Nabi Yunus naik dan masuk ke dalam kapal, tak lama kemudian kapal oleng, miring ke kanan dan ke kiri. Kemudian ada salah seorang dari penumpang kapal tersebut bertanya, “Mengapa kapal yang kita tunggangi seperti ini?” Para penumpang menjawab, “Kami tidak mengerti penyebabnya.” Orang itu malah berkata, “Tetapi aku tahu apa penyebabnya, yakni ada di antara penumpang kapal ini yang durhaka kepada Tuhannya, sementara itu Demi Allah, kapal ini tidak bisa berjalan tenang sebelum orang yang durhaka itu kalian tenggelamkan ke dalam laut.”

Para penumpang kapal berkata, “Demi Allah, jika engkau wahai Nabi Allah yang harus dilemparkan, maka kami tidak akan melakukannya.” Nabi Yunus berkata, “Kalau demikian adakanlah undian, siapa yang kena undian dialah yang harus dilemparkan!” Mereka pun mengundi dan jatuh pada nama Yunus. Undian dilakukan sebanyak tiga kali, dan nama yang keluar selalu saja Yunus.

Kemudian Nabi Yunus dilemparkan ke dalam laut. Allah pun mengutus ikan paus untuk menelannya tanpa menyakiti dan meremukkan tulangnya serta membawa ke dasar laut. Kemudian atas ilham Allah, Nabi Yunus berdo'a di dalam perut ikan paus,

“...Maka dia menyeru dalam keadaan sangat gelap: bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zhalim.” (Q. S. Al-Anbiya': 87).

Allah pun mengabulkan doa Nabi Yunus. Ikan paus atas perintah Allah memuntahkan Nabi Yunus dan kemudian Nabi Yunus terdampar di pantai. Begitulah atas kuasa-Nya, Allah selamatkan Nabi Yunus meski seakan kematian sudah dekat. Bagaimana dengan sobat? Pernah dalam keadaan putus asa? Jangan pernah berputus asa terhadap pertolongan Allah ya.

Sumber: Buletin Nih #9

Kabar Sekolah Jum`at Pekan ini: Bedah Buletin Nih!


Sekolah Jum'at JAN

Bedah Buletin Nih!

dengan tema ”Qadha dan Qadar"

📝Jum'at, 29 Juli 2016


⏰Jam 16.00-17.30


 di : Rumah Nah

👤bersama : Tim Redaksi Buletin Nih

Pendaftaran, via SMS/WA, ketik: 

Daftar_SJ5_Nama_Instansi

Kirim ke:

085729329304
GRATIS

Selasa, 26 Juli 2016

Review Buku: Beginilah Seharusnya Menjadi Guru


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Ada sebuah hadits sangat menarik yang dicantumkan penulis dalam mukaddimah buku ini. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah, dia berkata, Rasulullah ShallaLlaahu`alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, bahkan hingga semut di lubangnya, dan bahkan hingga ikan di lautan, benar-benar memohonkan shalawat (pujian dan rahmat) bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”

Hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan orang yang mengajarkan ilmu. Maka sesuai dengan pembahasan penulis dalam buku ini, yaitu berkaitan dengan mu’allim. Sering kita mengartikan kata tersebut dengan istilah guru atau pengajar. 

Untuk seorang pengajar atau pendidik yang mereka mengajarkan ilmunya, maka janji Allah baginya sangat jelas dan tidak bisa dipungkiri. Ialah dijanjikan sebuah permohonan shalawat. Sebuah janji yang sangat menarik bukan? 

Buku ini memiliki judul asli Al-Mu’allim Al-Awwal ditulis oleh Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub. Dan buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Beginilah Seharusnya Menjadi Guru” yang di terbitkan oleh Darul Haq.

Buku yang tidak terlalu tebal ini membahas sesuatu yang berkaitan dengan seorang guru. Secara garis besar, isi buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Apa itu? 

Pertama, karakter-karakter yang harus dimiliki seorang guru. Segala sesuatu berawal dari perbaikan diri. Sebelum guru mengajarkan kebaikan kepada seorang murid, haruslah menjadi panutan melakukan kebaikan itu. Guru adalah seorang teladan. Dalam bagian pertama ini, Asy-Syalhub menyebutkan ada 11 hal yang harus diperhatikan guru untuk perbaikan karakter. Salah satunya adalah mengikhlaskan niat karena Allah. Segala yang dilakukan oleh seorang guru, khususnya mengajarkan ilmu, hendaknya senantiasa diniatkan karena Allah. Bukan mencari ridha manusia ataupun bentuk gemerlapnya kenikmatan dunia. Niat ikhlas menjadi satu kunci agar ibadah seseorang bisa diterima, termasuk urusan mendidik.

Bagian kedua, tugas dan kewajiban seorang guru. Seorang guru sepantasnya mengetahui apa sebenarnya tugas menjadi guru. Apakah hanya mengajar kemudian pulang tanpa ada tugas yang lain? Ya, seorang guru memiliki tugas yang wajib dilakukan. Fu’ad asy-Syalhub menyebutkan tugas pertama seorang guru adalah menanamkan akidah yang benar dan memantapkan kualitas iman siswa pada saat belajar mengajar. Jadi entah guru matematika IPA, IPS, terlebih guru agama, maka kewajibannya menanamkan akidah murid. Pondasi pada diri  murid harus dibentuk. Sehingga tugas penanaman akidah ini tidak hanya menjadi kewajiban guru agama, tetapi guru semua mata pelajaran. 

Tugas guru yang lain di antaranya; memberikan nasihat, lembut kepada anak didik, tidak menyebut nama saat menegur, memberi salam, menerapkan sanksi, dan memberikan penghargaan kepada anak didik. Dan bagi seorang guru setelah melakukan perbaikan karakter-karakter pribadi, maka wajib baginya mengatahui tugas dan kewajibannya menjadi seorang guru.

Bagian ketiga, sistem dan metode pengajaran. Ingin tahu?

Yang perlu diingat, jangan sampai terbalik dalam menempatkan ketiga hal tadi. Jangan sampai kita sibuk dalam metode sehingga lupa karakter utama guru dan kewajiban.
Semua yang ada di buku ini sumbernya dari Rasulullah. Pertanyaannya, kenapa harus Rasulullah? Kenapa bukan metode barat yang “katanya” maju? Jawaban dari pertanyaan itu sekaligus menjadi dasar kenapa penulis menyandarkannya kepada Nabi ShaLlaahu `alaihi wa Sallam. Dan Jawabanya sudah dijelaskan Allah  dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya telah ada pada  (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”(QS. Al-Ahzab: 21).

Bagaimana masih ragu dengan Rasulullah? Allah sendiri yang telah menjamin akan keteladanan Rasulullah. Apa yang diajarkan Rasulullah pastilah terbaik, karena beliaulah gurunya umat ini, pendidiknya umat ini. Dan sudah seharusnya kita sebagai umatnya meneladani beliau, tak terkecuali dalam urusan pendidikan.
-