Selasa, 26 Juli 2016

Review Buku: Beginilah Seharusnya Menjadi Guru


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Ada sebuah hadits sangat menarik yang dicantumkan penulis dalam mukaddimah buku ini. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah, dia berkata, Rasulullah ShallaLlaahu`alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, bahkan hingga semut di lubangnya, dan bahkan hingga ikan di lautan, benar-benar memohonkan shalawat (pujian dan rahmat) bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”

Hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan orang yang mengajarkan ilmu. Maka sesuai dengan pembahasan penulis dalam buku ini, yaitu berkaitan dengan mu’allim. Sering kita mengartikan kata tersebut dengan istilah guru atau pengajar. 

Untuk seorang pengajar atau pendidik yang mereka mengajarkan ilmunya, maka janji Allah baginya sangat jelas dan tidak bisa dipungkiri. Ialah dijanjikan sebuah permohonan shalawat. Sebuah janji yang sangat menarik bukan? 

Buku ini memiliki judul asli Al-Mu’allim Al-Awwal ditulis oleh Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub. Dan buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Beginilah Seharusnya Menjadi Guru” yang di terbitkan oleh Darul Haq.

Buku yang tidak terlalu tebal ini membahas sesuatu yang berkaitan dengan seorang guru. Secara garis besar, isi buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Apa itu? 

Pertama, karakter-karakter yang harus dimiliki seorang guru. Segala sesuatu berawal dari perbaikan diri. Sebelum guru mengajarkan kebaikan kepada seorang murid, haruslah menjadi panutan melakukan kebaikan itu. Guru adalah seorang teladan. Dalam bagian pertama ini, Asy-Syalhub menyebutkan ada 11 hal yang harus diperhatikan guru untuk perbaikan karakter. Salah satunya adalah mengikhlaskan niat karena Allah. Segala yang dilakukan oleh seorang guru, khususnya mengajarkan ilmu, hendaknya senantiasa diniatkan karena Allah. Bukan mencari ridha manusia ataupun bentuk gemerlapnya kenikmatan dunia. Niat ikhlas menjadi satu kunci agar ibadah seseorang bisa diterima, termasuk urusan mendidik.

Bagian kedua, tugas dan kewajiban seorang guru. Seorang guru sepantasnya mengetahui apa sebenarnya tugas menjadi guru. Apakah hanya mengajar kemudian pulang tanpa ada tugas yang lain? Ya, seorang guru memiliki tugas yang wajib dilakukan. Fu’ad asy-Syalhub menyebutkan tugas pertama seorang guru adalah menanamkan akidah yang benar dan memantapkan kualitas iman siswa pada saat belajar mengajar. Jadi entah guru matematika IPA, IPS, terlebih guru agama, maka kewajibannya menanamkan akidah murid. Pondasi pada diri  murid harus dibentuk. Sehingga tugas penanaman akidah ini tidak hanya menjadi kewajiban guru agama, tetapi guru semua mata pelajaran. 

Tugas guru yang lain di antaranya; memberikan nasihat, lembut kepada anak didik, tidak menyebut nama saat menegur, memberi salam, menerapkan sanksi, dan memberikan penghargaan kepada anak didik. Dan bagi seorang guru setelah melakukan perbaikan karakter-karakter pribadi, maka wajib baginya mengatahui tugas dan kewajibannya menjadi seorang guru.

Bagian ketiga, sistem dan metode pengajaran. Ingin tahu?

Yang perlu diingat, jangan sampai terbalik dalam menempatkan ketiga hal tadi. Jangan sampai kita sibuk dalam metode sehingga lupa karakter utama guru dan kewajiban.
Semua yang ada di buku ini sumbernya dari Rasulullah. Pertanyaannya, kenapa harus Rasulullah? Kenapa bukan metode barat yang “katanya” maju? Jawaban dari pertanyaan itu sekaligus menjadi dasar kenapa penulis menyandarkannya kepada Nabi ShaLlaahu `alaihi wa Sallam. Dan Jawabanya sudah dijelaskan Allah  dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya telah ada pada  (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”(QS. Al-Ahzab: 21).

Bagaimana masih ragu dengan Rasulullah? Allah sendiri yang telah menjamin akan keteladanan Rasulullah. Apa yang diajarkan Rasulullah pastilah terbaik, karena beliaulah gurunya umat ini, pendidiknya umat ini. Dan sudah seharusnya kita sebagai umatnya meneladani beliau, tak terkecuali dalam urusan pendidikan.
-           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar