Rabu, 31 Agustus 2016

Tentang Sosok Tertulis




Oleh: Amin Novianto
Siapakah namanya? 

Orang yang membuatmu tergugah menjadi lebih baik. Orang yang jika disebut namanya, kamu teringat akan perjuangannya. Sosoknya boleh jadi tidak dikenal banyak orang atau sebaliknya. Meski belum pernah bertemu dengannya, kamu begitu tertarik meniru kesuksesannya, prestasinya dan kebaikannya. Meski ia hanya sempat menyapamu dalam tulisan kisah hidupnya. Kamu mengenalnya lewat membaca!

Kisah pasti tak lepas dari keberadaan tokoh utama. Kisah tentang tokoh utama in sering kali membekas di hati pembaca sebab ia memiliki sisi human interest. Oh ya, human interest itu sendiri apa sih? 

Pada kesempatan sekolah jum'at (12/08/2016) inilah salah satu hal yang dibahas dalam tema kepenulisan. Bersama Pak Fatan Fantastik, peserta diajak untuk belajar bersama tentang "Menulis Manusia." Sebagai contoh: survivor of disaster, reuni keluarga, kisah orang mengejar cita-citanya, kisah yang mengaduk emosi, subjek yang luar biasa, kegiatan teman kelas. Itulah contoh tulisannya. 

Jadi human interest itu sendiri apa? 

Human interest dalam sebuah tulisan adalah ketika suatu tulisan mempunyai pengalaman atau aspek-aspek emosi yang memikat pembaca. Misalnya tulisan tentang sosok seseorang. Dalam tulisan sosok setidaknya ada tiga hal yang dibahas yaitu: orang dan masalahnya, kegelisahannya dan pencapaiannya. 

Melalui penulisan sosok ini pembaca diharapkan termotivasi melakukan seperti sosok yang ditulis. Maka bagaimana caranya? Pak Fatan menyampaikan di antara hal yang harus diperhatikan adalah perhatikan pada awal paragraf dalam tulisan atau disebut lead. Lead harus mempunyai daya pikat yang kuat. Untuk penulisan sosok ini biasanya berupa softnews. Oleh karena itu selain pembukaan yang kuat, di akhir tulisan pun harus ditutup dengan penguat pula. 

Nah sobat, kamu sudah pernah membaca atau bahkan menulis sosok? Sejauh mana bacaanmu atau tulisanmu itu memiliki daya pikat yang kuat? Tulisan tentang sosok ini penting untuk diperhatikan, sebab kita berkepentingan untuk menebar kebaikan, untuk membangun SDM yang lebih baik. Dan berbincang soal SDM, kami ingin turut membangun SDM melalui forum sekolah jum'at. Jadi jangan lupa luangkan waktu untuk hadir ke Rumah Nah ya...

Bedah Nih Edisi Ke-9




Oleh: Amin Novianto

Tak ada gading yang tak retak. Setiap karya manusia pasti memiliki cela, sedikit ataupun banyak. Sehingga tidaklah pantas seseorang itu merasa dirinya sempurna. Memuja dirinya, jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Inilah yang perlu kita sadari dalam berbagai aktivitas kita. Sibuk mencari aib sendiri untuk dibenahi, betul?

Saat ini Buletin Nih telah tercetak hingga sembilan edisi. Tahun ini alhamdulillah atas izin Allah telah rutin terbit sekali dalam sebulan. Tentu perjalanan yang ditempuh oleh tim redaksi masih begitu pendek. Banyak hal harus selalu diperbaiki. Di antara yang terpenting adalah kualitas tulisan yang tersaji.

Jum'at 29 Juli 2016 tim redaksi mendapat kesempatan berharga untuk mengevaluasi Buletin Nih. Secara khusus untuk mengulas edisi ke-9. Proses ini menjadi inti acara dalam Sekolah Jum'at di pekan kelima ini. Alhamdulillah pada kesempatan ini semua kolom dapat diulas bersama. Oh ya sebagai informasi (untuk yang belum kenal Buletin Nih) ada tiga kolom dalam buletin ini. Kolom sastra, sinau dan kisah.

Setiap peserta yang hadir mendapat kesempatan untuk memberikan koreksi. Poin-poin yang dikoreksi meliputi tata tulis dan isi. Alhamdulillah melalui proses ini tim redaksi mendapat berbagai masukan yang amat berarti. Selanjutnya, mohon doa dari segenap sahabat agar kami senantiasa mampu berbenah diri.

#sekolahjum`at 

Kamis, 25 Agustus 2016

Bikin Munajat Selezat Coklat



Siswa SMP N 8 Yogyakarta sedang sholat

                                                        Oleh: Deniz Dinamiz

Syaikh Zarnuji meracik formula sedap untuk para pemburu ilmu. Agar belajar kian menggelegar, hadirkan 5 hal: niat ikhlas, cita-cita tinggi, cinta ilmu, dekat dgn guru, dan kesungguhan untuk tetap berjuang.

Formula ini pun yang menginspirasi lahirnya "Bikin Belajar Selezat Coklat". Berawal dari curhat waktu pelatihan-pelatihan ke sekolah, tidak sedikit yang bersedih karena tidak dapat mesra dengan yang namanya belajar. Padahal mereka pelajar. Tugas dan passion mereka sudah layaknya adalah belajar.

Maka ikhlas adalah pembuka cinta pada belajar. Belajar bukan karena nilai tinggi, orang tua yang memuji, guru yg menasehati, teman yg meng-ihii... Tetapi belajar karena perintah Ilahi. Agar tiap gores pena, tatap mata, simak guru, duduk khusyu` kala belajar dapat berbalas surga.

Maka ikhlas adalah nikmat. Anugerah terhebat yang didapat atas ijin Allah, Sang Penggenggam Hati. Sebagai hamba, kita layaknya meminta agar senantiasa ikhlas dalam tiap laku, termasuk belajar kita.

Semoga Allah lahirkan generasi kebanggaan umat dari pelajar-pelajar hebat yang senantiasa bermunajat.