Rabu, 10 Agustus 2016

Cerdas dengan Gagal

Agenda Outbound JAN bersama MTs Jatimulyo (15 Feb 2015)

Oleh: Deniz Dinamiz

“Selamat! Anda Gagal! Kesempatan untuk menjadi lebih cerdas!”

Pernah mendapat kata-kata seperti ini setelah gagal melakukan sesuatu? Entah itu gagal memasukkan bola di gawang, mengerjakan soal di depan kelas, mengerjakan ujian semester, atau berlomba di tingkat nasional? Kalau belum pernah mendengarnya, saatnya mengatakan kata-kata tersebut pada dirimu sendiri! Terutama ketika gagal berhasil ditemui.

Yup. Psikolog Carol Dweck, Ph.D. juga setuju. Kegagalan dapat mencerdaskan otak. Hal ini bisa terjadi karena kegagalan dapat memicu neuron otak untuk tumbuh dan membentuk koneksi neuron baru. Koneksi terjadi ketika otak sedang belajar. Begitu menurut psikolog yang meneliti cara manusia menghadapi kegagalan selama 40 tahun.

Hasil penelitian Bu Carol juga mendapatkan hal lain yang tak kalah menarik. Mereka yang otaknya cerdas karena bertemu dengan “si gagal”, punya suatu pola pikir atau mind set tertentu. Namanya growth mind set. 

Beda dengan lawannya, yaitu fixed mind set, pola pikir tumbuh (growth mind set) memiliki keyakinan bahwa bakat bukan segalanya. Usaha dan belajarlah yang membuat seseorang dapat mencapai tujuan. Tentu saja dengan ridha Allah, sang Penguasa Kekuatan.

 Nah, ini beda banget dengan pola pikir macet (fixed mind set). Menurut dia yang memiliki pola pikir ini, bakat diyakini bersifat genetis. Seseorang dilahirkan menjadi seniman hebat dunia, juara renang tingkat nasional, atau juara matematika di sekolah. Menurut dia, sukses tanpa kerja keras itu wajar. Udah dari sononya pinter!Katanya.

Walhasil, ketika dia sendiri menemui kegagalan, harga dirinya serasa dicabik-cabik. Untuk membuat dirinya lebih nyaman, dia akan menyalahkan orang lain, berbohong, dan menghindari tantangan atau risiko di masa depan.

Nah, yang manakah pola pikir kamu?              

Sumber: Buletin Nah #15
@buletinnah
Buletin “Penguat Semangat, Pengobar Belajar”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar