Jumat, 19 Agustus 2016

Resep Sehat Penuntut Ilmu

Foto Kegiatan OutAc JAN di Bhumi Merapi
Oleh: Annafi`ah Firdaus

Termasuk galau, ragu-ragu, dan was-was yang kamu derita, pertanda surat sakit bisa kamu dapatkan. Termasukkah penyakitmu sekarang? 

Setiap orang yang diberi pilihan mau sakit atau sehat, pasti kebanyakan akan pilih sehat. Termasuk kamu yang senantiasa jadi penuntut ilmu. Karena nikmatnya belajar itu memang makin nikmat kalau tidak sedang sakit. Kepala tidak berat karena pusing, punggung bisa ditegakkan, mata bisa fokus membaca, telinga konsentrasi mendengarkan, dan badan terasa segar dan tak lemah karena kurang asupan.

Pertanyaannya, apakah nikmat sehat itu bisa dibeli? Dengan harga yang mahal sekalipun?

Jawabannya nikmat sehat harganya mahal dan tidak dapat dibeli dengan harta seberlimpah apapun. Baik itu sehat ruhani maupun fisik.

Sehat yang pertama; sehat ruhani. Meski ada di antara kalian yang lahir dari keluarga kaya raya, menjadi juara serta berwajah mempesona, tiada artinya jika ruhanimu tak sehat yakni tentang imanmu. Contohnya saja, adakah kalian yang masih mencontek saat ujian? Semoga tidak. Karena kalau iya, artinya ia sedang sakit sakit imannya. Ia telah dusta. Baik kepada Allah, Rasulullah, dan orang-orang di sekitarnya. Dan inilah penyakit yang harus diobati.

Selanjutnya sehat yang kedua yakni sehat fisik. Sehat fisik termasuk pula nikmatNya yang tak bisa dibeli dengan materi. Pernah kenal dengan orang yang bergaji melebihi kebutuhan bulanannya namun atas kehendak Allah ia menderita banyak penyakit alias komplikasi? Sehingga ia tak bisa menikmati manisnya gula karena penyakitnya yang bernama diabetes. Begitupula rasa asinnya pada makanan yang tersaji, karena penyakitnya; hipertensi.

Dan kita tahu dalam fase penyakit diabetes parah, apabila luka atau tergores sedikit saja kulitnya akan lama kering dan sembuh. Sedangkan keluhan hipertensi yang mendadak pusing tiada henti menjadi kondisi kesehariannya. Tentu itu sangat merepotkan bagi penderita untuk bermajelis ilmu. Dan jangan salah, dua penyakit itu sekarang tidak menyerang kalangan lanjut usia (lansia) saja, tetapi para remaja. Ya. Sehat tak bisa dibeli dengan materi. Hanya sembuh atas izinNya.

Lalu, bagaimana agar senantiasa sehat? Dituliskan Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya terjemah “Thibun Nabawi” yakni “Praktek Kedokteran Nabi” ada dua cara untuk menjaga kesehatan. Pertama, memelihara sehat supaya tidak sakit. Kedua, pencegahan dan pengobatan penyakit apabila sudah sakit agar tidak semakin parah. Kesemuanya, ada caranya. Diteladankan oleh Rasulullah, manusia pilihanNya.

Apa salah satu contoh menjaga kesehatan yang diteladankan Rasulullah? Berdoa. Meminta kepada Sang Pencipta agar senantiasa sehat dan apabila sakit diangkat penyakitnya. Dia Allah yang menurunkan segala penyakit, Dia pula yang punya obatnya.

Dari Jabir bin Abdillah raadhiyaLlaahu`anhu, dari Nabi ShallaLlaahu`alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila penyakit telah bertemu dengan obatnya, maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Agung” (HR. Muslim).

Kita tidak seharusnya segera bergegas dalam doa-doa kita sebelum terucap permintaan sehat. Karena dengan sehat, berharap sangat optimal beribadah dan belajar. Lebih kuat duduk tegak, konsentrasi mendengarkan guru, berjalan menuju sumber ilmu, serta tidak menjadi murid penguap. Bukankah begitu?

“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit yang tak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tiada Allah yang disembah kecuali Engkau ...” (HR. Bukhari).

Jagalah sehat sebelum sakit. Dengan bersyukur dan menggunakannya untuk semakin taat. Apabila sakit? Ia ada obatnya. Berdoalah dan obatilah. Sehatkanlah badanmu dan ayo berjalan menuju majelis ilmu.

Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Berjalanlah!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar