Kamis, 15 September 2016

Sayangnya Yang Teramat Besar




Oleh: A.K. Hardew 

Saat perang Badar, Muhammad berdoa dengan bahu terguncang isak, “Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!” 

Sekilas, isak Muhammad adalah ancaman. Tapi, apakah kita tidak jeli? Atau malah rasa yang kita miliki sudah mulai berkurang kepekaannya? Isak Muhammad juga dapat berarti kekhawatiran. Kekhawatiran akan tertutupnya hati manusia dari karunia Sang Pencipta, karena keraguan yang ada di dada mereka. 

Dialah Muhammad, bata penyempurna bangunan rumah kesempurnaan. Dialah Muhammad, manusia teragung di langit dan di bumi. Dialah Muhammad; yang dengan segala keterpujiannya, tak merasa marah ketika dihina dan dilempari hingga berdarah. Mengutuk? Tidak. “Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Ucap lisan Muhammad menjawab tawaran malaikat penjaga gunung yang hendak meratakan orang bodoh dan tercela yang telah menghinakan beliau kala itu.

Di segala sisi kesempurnaan akhlak Muhammad, akan senantiasa ada pahala yang berlipat ketika kita menirunya. Ya, hanya sekadar menirunya saja.  Yang tentunya juga harus dilandasi dengan rasa harap mendapat ridha Allah. Cara makannya, cara minumnya, cara tidurnya, cara berjalannya, bahkan cara tersenyumnya, dapat mengantarkan kita ke dalam surga. 

Surga yang di dalamnya terdapat satu danau, yang dengan meminum airnya kita akan merasakan kesejahteraan. Bukan hanya airnya saja yang dapat menyejahterakan hati kita, bahkan bila kita melihat sosok yang memberikan minum tersebut, kita akan merasakan bahagia, bahagia yang tak terkira. 

Dialah Muhammad; yang menanti umatnya di pinggir Al-Kautsar, yang kasih sayangnya teramat besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar