Jumat, 30 September 2016

Menulis dan Menulislah




Oleh: Wahyu Setyawan

Menulis adalah menulis. Menulis merupakan sebuah aktivitas yang melibatkan aktivitas tangan dengan menuangkan ide pikiran dari kepala, serta melibatkan juga perasaan hati. 

Banyak kalangan ulama dan penulis-penulis ulung menyampaikan hakikat dari aktivitas mencatat atau menulis ini. Misal, Ibnu Katsir dalam sebuah atsar-nya, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Kemudian pula, pesan Imam Syafi’i rahimahuLlah yang menilai orang:  tidak mau mencatat ilmu yang didengar seperti pemburu yang tidak mengikat hasil buruannya.

Bahkan di kalangan sahabat RasuluLlah pun, aktivitas menulis begitu dihormati, ini yang dikatakan oleh seseorang yang digelari gurunya para huffazh hadits; yakni Abu Hurairah. Kata beliau yang mengomentari kebiasan Abdullah bin Amr bin Al-Ash.“Di antara para sahabat, tidak ada yang menyamai saya dalam hal hafalan hadits-hadits RasuluLlah ShallaLlaahu ‘Alaihi Wasallam, kecuali dia selalu mencatat segala apa yang disabdakan RasuluLlaah ShallaLlahu ‘Alaihi Wasallam, sedangkan saya hanya mengandalkan ingatan saja.”
 
Dari kalangan ulama kontemporer, Syeikh Yusuf Al-Qaradawi mengatakan, “Jika dulu Islam itu dimenangkan dengan pedang, maka sekarang kita jaya dengan pena”.               

Bahkan dari segi kesehatan, tulisan yang tertuang di atas kertas dari pikiran-pikiran terlintas dalam benak kita yang menjadi catatan kelak akan bermanfaat, bahkan bisa membantu meringankan beban pikiran otak. Tidak terlalu stres, Sehingga manfaatnya bisa bikin awet muda.

Dari kalangan penulis ulung zaman sekarang, Ustadz Salim A. Fillah, mengutip dari tulisan beliau dalam sebuah artikel, “Menulis bukanlah bermain kata-kata. Kehausan pada ilmulah yang membuat tiap goresan pena jadi bermakna.”

Menulis juga salah satu media dakwah bagi manusia dan ilmu Allah yang terbentang luas itu tersimpan untuk kemudian dijadikan pembelajaran bagi manusia. Maka, menulislah! Akan kau temukan luasnya ilmu; dengan menulis akan kau rasakan kokohnya ilmu; dengan menulis kau akan rasakan nikmatnya berbagi; dengan menulis kau dapati dirimu sebagai pelaku sejarah. 

Jadi, sudah siap menulis? Siap berbagi kebaikan? Siap menjadi pelaku sejarah? Kalau belum siap, siapkan diri untuk mengambil manfaat dari menulis ini. Menjadi pelaku sejarah, serta akan kau temukan hal yang berbeda. 

Yaa Rabbi, tambahkanlah ilmu dan kepahaman kepada kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar