Rabu, 12 Oktober 2016

Perut Kempis


@buletinnah

Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Hati ini mulai teraduk-aduk, mendengar kabar bahwa perut mereka sering kempis, tenggorokan dan mulut mereka sering kering, seakan telah lama makanan tidak melewatinya. Sehari tidak makan, itu hal biasa bagi mereka. Dua hari, tiga hari, bahkan lebih dari itu mereka pernah.  

          Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka membenci makanan?

         Bukan itu masalahnya. Mereka sudah tidak punya apa-apa. Bekal mereka telah habis. Tetapi keinginan mereka terhadap ilmu masih membara. Ilmu seakan jadi pengganti lezatnya makanan untuk perut mereka.

            Demikianlah para ulama dulu. Hari-harinya disibukkan dengan ilmu. Perjalanan yang panjang seakan tidak masalah. Yang terpenting ilmu bisa didapatkan. Meskipun hanya mendapat satu hadits, itu juga bukan persoalan. 

Perjalanan yang panjang, hendaknya juga disertai dengan bekal yang banyak. Akan tetapi, jika memang sudah kehabisan. Apa yang bisa diperbuat? Mungkin bisa dengan bekerja. Atau bisa juga dengan menjual apa-apa yang masih tersisa, bisa baju bahkan kitab-kitab berharga mereka. Yang lebih parah lagi, jika mereka memilih untuk tidak makan. Bahkan tidak mau meminta. Akan tetapi dengan itulah mereka mulia.

Lantas bagaimana jika itu terjadi kepada kita? Semua serba kekurangan. Semua serba terbatas. Mungkin sebagian dari kita ada yang demikian, tetapi seberapa parah penderitaannya. Sudahkah sebanding dengan mereka? Coba sekarang perhatikan mereka.

Namanya Sufyan Ats-Tsauri, sudah tiga hari beliau tidak makan apa pun. Ketika beliau melewati sebuah rumah yang tengah mengadakan pesta. Dirinya terdorong untuk mendatanginya. Akan tetapi Allah menjaga kemuliaan beliau. Akhirnya, beliau pergi ke rumah putrinya. Di sana, putrinya menyuguhkan roti yang pipih. Ya, beliau makan hingga keluar sendawa.

Hal yang hampir sama juga dialami ulama satu ini, Imam Ahmad bin Hambal. Kehidupan duniawinya seakan sangat sempit. Sampai-sampai beliau kerap tidak makan selama beberapa hari. Jelas, itu karena keadaan yang serba sulit dan tidak adanya dana. 

Bahkan selama beberapa tahun, beliau tidak memiliki pakaian untuk mengganti bajunya yang sudah usang. Sampai suatu ketika, untuk mendapat bekal perjalanan mencari ilmu ke Yaman, beliau menjual sandalnya kepada tukang roti. Ditambah lagi, beliau bekerja sebagai kuli angkut. 

Kali ini Imam Abu Hatim Ar-Razi, adalah salah seorang dari para imam “Al-Huffazh Al-Atsbat”. Beliau terkenal lantaran ilmu dan keutamaannya. Suatu ketika sahabatnya datang untuk yang kesekian kalinya. Dia ingin mengajak Abu Hatim menuntut ilmu. Hingga terjadi perbincangan di antara mereka, 

“Marilah kita pergi untuk belajar.”

“Aku tidak sanggup. Aku lemah sekali.”

 “Mengapa engkau lemah begini?”

“Aku tidak akan menyembunyikannya darimu. Sudah dua hari aku tidak makan apa-apa.”

“Aku mempunyai uang satu dinar dan akan kubagi dua, setengah untukmu dan setengah lagi untuk sewa.” Akhirnya mereka pun pergi keluar. 

Ya, Abu Hatim. Demi ilmu, beliau sembunyikan rasa laparnya. Ketika benar-benar sudah terpaksa, dan tidak mungkin untuk berdusta. Maka beliau sampaikan kepada sahabatnya bahwa dirinya belum makan selama dua hari. 

Rasanya diri ini sangat malu jika dibandingkan mereka. Mereka rela lapar demi ilmu, mereka rela menjual apa-apa yang masih tersisa demi ilmu. Dan itulah kemuliaan.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar