Rabu, 26 Oktober 2016

Seberuntung Ukasyah dan Abu Thalhah




Oleh: Wahyu Setyawan

Bagaimana perasaan hati, jika didoakan masuk surga? Bagaimana perasaan jiwa, jika menjadi orang yang pada puncak kebajikan (yang semupurna)? Tentu, yang merasa didoakan akan menjadi senang, yang dikabarkan akan merasa lezatnya kemulian pahala di sisi Allah.

Persis dengan apa yang dirasakan sahabat-sahabat mulia ini. Siapa yang tidak merasa bahagia, jika yang mendoakan masuk surga adalah Rasulullah, manusia mulia yang merupakan kekasih Allah? Tentu, seneng ra karuan (senang banget). Apalagi mendapatkan pahala kebajikan dariNya, tentulah perasaan orang-orang seperti mereka senangnya luar biasa.

Begitu pula yang dirasakan Ukasyah dan Abu Thalhah, dalam sebuah kisah sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah saat beliau diperlihatkan dalam peristiwa Isra’.

“Inilah umatmu dan bersama mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk jannah tanpa hisab dan tanpa adzab.” (HR. Bukhari) 

Ketika kabar tentang kaum yang masuk jannah tersebut disampaikan, seketika diresponlah oleh Ukasyah bin Mihshan. Seakan-akan beliau takut kedahuluan yang lain.

Beliau berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk di antara mereka.”

Maka Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah jadikanlah dia (Ukasyah) termasuk di antara mereka.”

Saat itu orang-orang pun serentak meminta didoakan oleh Rasulullah, tapi beliau bersabda, “Ukasyah telah mendahului kamu.”

Begitu juga dengan Abu Thalhah dengan semangatnya untuk meraih derajat manusia yang mendapatkan kesempurnaan kebajikan, yang dikabarkan Rasulullah. Serta merta Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, Allah berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai ke dalam kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,” sementara harta yang aku cintai adalah biiraha’ (kebun yang paling produktif), maka sekarang aku sedekahkan karena Allah, saya berharap kebaikan dan tabungan pahala di sisi Allah.” Maasya Allah

Sekiranya sahabat-sahabat mulia tersebut mengungkapkan perasaannya, betapa senangnya perasaan mereka. Semoga kita terus berusaha berjuang menyusul rombongan Ukasyah tanpa lelah, dan meneladani cara Abu Thalhah dalam mengharapkan ganjaran (balasan) derajat kebajikan. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar