Selasa, 29 November 2016

Adab-adab Berpuasa

Foto Bedah Buletin Nih di SD N Kintelan (19/11)
Oleh: Silvia Maharani
Sesungguhnya di surga ada delapan buah pintu. Salah satunya bernama Ar-Rayyan. Pintu ini hanya bisa dimasuki orang-orang tertentu. Siapakah dia? Apakah sobat termasuk di dalamnya?
Karena pintu Ar-Rayyan itu spesial untuk orang-orang yang rajin berpuasa karena Allah, mari kita belajar bersama beberapa adab berpuasa di edisi Buletin Nih ini. Adab-adab berpuasa ini kami ringkaskan dari buku “Ensiklopedi Adab Islam” karangan 'Abdul 'Aziz Fathi as-Sayyid Nada. 

  1. Niat yang baik
Hendaknya orang yang berpuasa niatnya untuk mencari ridha Allah. Bukan karena hal-hal yang lain seperti: disuruh oleh guru atau orang tua, mengirit uang saku, dan lain-lain.

  1. Bersahur walaupun hanya meminum seteguk air
Apakah sobat termasuk  malas bangun untuk sahur? Jika iya, jangan diulangi lagi ya. Karena Nabi Muhammad menganjurkan sahur, meskipun dengan seteguk air. Karena di waktu sahur terdapat berkah di dalamnya. Oh ya, Rasulullah juga menganjurkan kita untuk mengakhirkan sahur.

  1. Menjaga anggota tubuh ketika berpuasa
Berpuasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi kita harus menjaga anggota tubuh kita dari melakukan dosa seperti: menjaga pandangan mata, menjaga hati, dan menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia, bohong, dan kotor.

  1. Menyegerakan berbuka

Apakah sobat sering menunda-nunda untuk berbuka puasa? Sobat sering berbuka puasa dengan makanan apa? Kalau Rasulullah menganjurkan kita untuk berbuka dengan kurma. Beliau tidak pernah menunda-nunda untuk berbuka ketika adzan berkumandang.

Itulah beberapa adab berpuasa sesuai dengan sunnah Rasulullah. Semoga kita bisa mempraktikan adab-adab dalam berpuasa. Sampai berjumpa di pintu Ar-Rayyan! 

Bedah Buletin Nih: Cita-cita Tertinggi Adalah Surga






Siapa yang cita-citanya ingin menjadi guru? Beberapa peserta angkat tangan.
Siapa yang cita-citanya ingin menjadi dokter? Beberapa peserta juga angkat tangan.
Siapa yang cita-citanya ingin menjadi tukang kayu? Tak ada satu pun peserta yang angkat tangan.

Maka, setelah bersama-sama membaca tulisan kisah "Tukang Kayu Pandai Berdoa", peserta Bedah Buletin Nih di SD Kintelan (19/11) menjadi paham bahwa yang menentukan masuk dan tidaknya ke surga bukan karena pekerjaannya. Tetapi karena taat dan patuh atas perintah Allah Ta`ala.

Kamu siap sukses bersama-sama masuk surga?

Anak Nakal Jadi Ulama #3




Oleh: Ridwan Hidayat 

Di Madrasah Sumatera Thawalib, Malik harus menghafal Matan Taqrib (nahwu). Beberapa kaidah tentang nahwu dan sharaf mesti hafal. Malik yang baru 10 tahun harus duduk bersila di atas lantai, menghadap guru, mendengarkan penyampaian materi tentang kedudukan baris tiap-tiap kalimat, mengapa jadi baris atas (nasab), atau di depan (rafa'), atau baris bawah (djar) dan mati (djazam). Hafalan-hafalan itu sangat memusingkannya. 

Ketika berhadapan dengan guru yang agak keras, hampir semua pelajaran yang diberikan tidak ada yang masuk. Disuruhnya juga menghafal hadist empat puluh (Arba'in An-Nawawiyah). Bagi yang tidak hafal di hukum berdiri lama-lama. Malik adalah anak yang selalu berdiri jika masuk pelajaran hafalan hadist.

Satu materi yang menarik hatinya adalah pelajaran Arudh, yaitu timbangan syair Arab. Syair-syair dalam pelajaran itu dengan mudah dihafalnya. Berbeda dengan pelajaran lain yang lebih banyak mengantuk. Kalau pun matanya melihat kitab, pikirannya jauh di tempat lain. Setiap selesai pelajaran langsung diletakkan kitab-kitab yang berat itu, “berat diangkat dan berat dipelajari.” Diletakkan di atas rak, dan tidak dipegang lagi. Ditengoknya pun tidak sampai hari berikutnya. Ia langsung berlari ke Pasar Usang untuk menonton film di bioskop, main layang-layang, menonton adu sapi, atau sepak bola. “Tidak ada waktu untuk menghafal. Main! Main yang perlu,” kata Hamka.

Wajah Malik tiba-tiba pucat ketika salah seorang murid terbaik Ayahnya yang juga guru Malik di Madrasah Sumatera Thawalib datang ke rumah. Ketika itu ayahnya sedang santai sedangkan Malik sedang asik bermain dengan adiknya. Kedatangan murid ayah yang sangat di sayangi Haji Rasul ini disambut dengan bahagia. Tetapi tidak dengan Malik yang penuh ketakutan.

 “Hai Malik, Engkau sakit? Itu sebabnya Engku datang kemari hendak melihatmu,” kata murid ayahnya yang biasa dipanggil Malik Engku Mudo. “Tidak Engku,” jawab Malik. “Kenapa?” Ayahnya bertanya dengan mata yang mulai tajam. “Sudah lima belas hari Malik tidak datang ke sekolah,” kata Engku Mudo melaporkan. Sontak ayahnya marah besar.