Selasa, 29 November 2016

Anak Nakal Jadi Ulama #3




Oleh: Ridwan Hidayat 

Di Madrasah Sumatera Thawalib, Malik harus menghafal Matan Taqrib (nahwu). Beberapa kaidah tentang nahwu dan sharaf mesti hafal. Malik yang baru 10 tahun harus duduk bersila di atas lantai, menghadap guru, mendengarkan penyampaian materi tentang kedudukan baris tiap-tiap kalimat, mengapa jadi baris atas (nasab), atau di depan (rafa'), atau baris bawah (djar) dan mati (djazam). Hafalan-hafalan itu sangat memusingkannya. 

Ketika berhadapan dengan guru yang agak keras, hampir semua pelajaran yang diberikan tidak ada yang masuk. Disuruhnya juga menghafal hadist empat puluh (Arba'in An-Nawawiyah). Bagi yang tidak hafal di hukum berdiri lama-lama. Malik adalah anak yang selalu berdiri jika masuk pelajaran hafalan hadist.

Satu materi yang menarik hatinya adalah pelajaran Arudh, yaitu timbangan syair Arab. Syair-syair dalam pelajaran itu dengan mudah dihafalnya. Berbeda dengan pelajaran lain yang lebih banyak mengantuk. Kalau pun matanya melihat kitab, pikirannya jauh di tempat lain. Setiap selesai pelajaran langsung diletakkan kitab-kitab yang berat itu, “berat diangkat dan berat dipelajari.” Diletakkan di atas rak, dan tidak dipegang lagi. Ditengoknya pun tidak sampai hari berikutnya. Ia langsung berlari ke Pasar Usang untuk menonton film di bioskop, main layang-layang, menonton adu sapi, atau sepak bola. “Tidak ada waktu untuk menghafal. Main! Main yang perlu,” kata Hamka.

Wajah Malik tiba-tiba pucat ketika salah seorang murid terbaik Ayahnya yang juga guru Malik di Madrasah Sumatera Thawalib datang ke rumah. Ketika itu ayahnya sedang santai sedangkan Malik sedang asik bermain dengan adiknya. Kedatangan murid ayah yang sangat di sayangi Haji Rasul ini disambut dengan bahagia. Tetapi tidak dengan Malik yang penuh ketakutan.

 “Hai Malik, Engkau sakit? Itu sebabnya Engku datang kemari hendak melihatmu,” kata murid ayahnya yang biasa dipanggil Malik Engku Mudo. “Tidak Engku,” jawab Malik. “Kenapa?” Ayahnya bertanya dengan mata yang mulai tajam. “Sudah lima belas hari Malik tidak datang ke sekolah,” kata Engku Mudo melaporkan. Sontak ayahnya marah besar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar