Jumat, 04 November 2016

Ikhlas Kunci Hafal Al-Qur’an


Oleh: Isna Nurbaiti

Dalam melakukan aktivitas ibadah apapun, perkara pertama yang harus diperhatikan adalah niat. Karena niat menjadi syarat diterimanya amal. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas atau memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama....” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Juga sabda Rasulullah, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya masing-masing orang akan mendapatkan sesuai yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” (HR Bukhari dan Muslim).  

Menghafal Al-Qur’an bukan hal yang sepele yang bisa diremehkan begitu saja. Menghafal Al-Qur’an adalah mega proyek yang harus dikerjakan dan merupakan cita-cita yang luhur. Seharusnya bagi setiap muslim, berkewajiban untuk menghafal Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Karena Al-Qur’an merupakan kitab yang Karim, diturunkan oleh Allah Ta’ala melalui perantaranya yaitu Malaikat Jibril.

Untuk itu, setiap muslim harus mempunyai niat yang kuat. Niat ikhlas bersungguh-sungguh untuk mencari ridha Allah. Karena banyak dari para penghafal Al-Qur’an yang mandeg karena berbagai alasan. Seperti: kurang serius dalam menghafal, pekerjaan, tidak punya waktu untuk muraja’ah, menikah, sudah punya anak, tidak ada waktu, sampai pada masalah percintaan yang menghinggapi para anak muda zaman sekarang. Itulah beberapa alasan yang digelontorkan oleh segelintir orang yang tidak serius dalam menghafal Al-Qur’an.

Seorang pengajar Qur’an dari Palestina yang tiap tahunnya meluluskan sepuluh ribu penghafal Al-Qur’an di Gaza dalam buku “Agar Sehafal Al-Fatihah”, Syaikh Syadzi Abu Mu’min berkata, “Jika ada sesuatu yang mengalahkan Al-Qur’an di hatimu; ada sesuatu yang engkau lebih cintai daripada Al-Qur’an, maka tidak ada gunanya engkau capek-capek menghafal.”

Ini menunjukkan betapa pentingnya Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ketika niat seseorang bukan karena Allah, melainkan kepentingan duniawi, biasanya akan mudah putus asa di tengah jalan. Ia tidak akan mendapatkan apa-apa di sisi Allah. Untuk itu, kita harus tahu dan memahami keutamaan menghafal Al-Qur’an sehingga kita tergerak untuk melakukannya dan beristiqamah dalam menjalaninya.

Referensi :
Yasin, Arham Bin Ahmad, MH. Al-Hafidz, 2015, Agar Sehafal Al-Fatihah, Bogor: Hilal Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar