Rabu, 16 November 2016

Tak Sekadar Bekerja



Oleh: Wahyu Setyawan

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” (Buya Hamka)

Kutipan di atas saya temukan ketika melangkahkan kaki pertama di gerbang utama kampus (saya) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, tepat ketika membaca di papan LCD yang berada di depan gedung kembar; gedung yang diberi nama A.R. Fachruddin A dan B. Sekilas mungkin hanya tulisan yang terpampang agar terlihat menarik oleh orang yang melintas. Namun, pihak kampus tentu punya maksud dan tujuan.

“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (Q.S. At-Taubah: 105).

Ada pesan dari Allah kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada kita; umatnya. Apa pesan itu? Kita diperintahkan bekerja, namun tak sekadar bekerja, kemudian menikmati apa yang telah dikerjakan. Kita diperintahkan belajar, namun tak sekadar belajar, kemudian demi nilai belajar tinggi melakukan hal-hal yang tercela.

Mulailah sekarang kita lihat “pekerjaan” kita dari sisi Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Sudah sesuai dengan standar Allah? Sudah belajarkah kita? Untuk apa kita belajar? Apakah sekadar memenuhi perintah-perintah orang tua? Sekadar mencari ijazah demi pekerjaan yang kita anggap “wah”? Sebagaimana pula kera bekerja demi memenuhi nafsu-nafsu dunia? Bekerja untuk memenuhi kebutuhan perutnya; tanpa ada tujuan hakikat hidup.

Inilah yang perlu kita perhatikan. Yaitu menaikkan standar-standar dari apa yang kita kerjakan. Maka kalaulah bekerja, janganlah sekadar bekerja. Kalaulah belajar, janganlah sekadar belajar. Kita bekerja dan belajar adalah demi ridha dan cinta Allah semata. Kita bekerja dan belajar sebagai persiapan jawaban ketika kelak bertemu Allah,


“Untuk apa engkau hidup?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar