Kamis, 29 Desember 2016

LESEHAN JUM`AT SPESIAL PEKAN KE LIMA







Lesehan Jum`at Spesial Pekan ke-5:
"Agar Menikah Jadi Barokah"
Bersama Arif Jadmiko
Jum`at, 30 Desember 2016
Jam 16.00 - 17.25
di Rumah Nah!
Gratis!
Info: 085729329304

MALU


"Jika engkau tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu."

Maksudnya, sesiapa tidak malu maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan. Malu adalah benteng. Malu adalah penghalang. Maka, dipastikan orang yang tak punya (karakter) akhlak malu, ia akan melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Apapun itu.

Pertanyaannya, siapa yang tak ingin nilai bagus dalam studinya? IPK bagus ataupun nilai rapot bagus. Namun, sesungguhnya ia tidak ada gunanya bahkan sia-sia jika mendapatkannya dengan cara yang buruk. Mungkin, ia tak malu mencontek, tak malu beradab yang buruk kepada guru/ ulama.
Semoga bukan kita.

karakter n 1 tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak; 2 Komphuruf, angka, ruang, simbol khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik berkarakter vmempunyai tabiat; mempunyai kepribadian; berwatak: anak itu ~ aneh.

Sumber: Kamus Bahasa Indonesia edisi elektronik (2008)

Rabu, 28 Desember 2016

Zakat Yoo!




Oleh: Fajar Yunan Fanani

Kalau ada orang yang memakai baju sama terus-terusan, berhari-hari, berbulan-bulan, tanpa pernah dicuci, apa yang Sobat pikirkan? Sekalipun orang tersebut tidak berkeringat dan kotor, bukankah tetap harus dicuci? Begitu pula dengan harta kita. Meskipun kita mendapatkan harta dengan halal, tetap saja harus dibersihkan. Caranya? Salah satunya dengan zakat. 

Zakat adalah sejumlah harta khusus yang diberikan kepada sekelompok orang yang berhak menerimanya. Harta yang khusus itu  berupa emas, perak, makanan pokok, binatang ternak seperti sapi, unta, kambing dan lain-lain. Dan orang yang berhak menerimanya adalah orang miskin, anak yatim, janda, dan masih ada lima orang lagi yang berhak menerimanya.
Bagi seorang Muslim yang ingin mendapat derajat takwa, petunjuk, keberuntungan, dan Surga Firdaus, pasti akan berzakat dengan harta yang telah melebihi nisab. Sobat tahu apa itu nisab? Nisab adalah jumlah atau ukuran harta yang wajib zakat.

Misalnya, kita ambilkan dari buku Minhajul Muslim yaitu nisab binatang ternak sapi. Kalau Sobat punya 30 sapi selama 1 tahun, itu namanya sudah masuk nisab. Zakatnya sebesar satu anak sapi berumur 1 tahun. Contoh lainnya, cari sendiri ya ...

Sobat, diperintahkannya zakat ternyata mempunyai beberapa hikmah lho, antara lain:
1.    Mensucikan jiwa manusia dari sifat kikir, pelit, rakus, dan tamak.
2.    Membantu fakir miskin dan meringankan beban mereka yang kesusahan dan kesulitan.
3.    Untuk membiayai kepentingan mereka dan membuat mereka bahagia.
4.    Membatasi bertumpuknya kekayaan hanya pada orang-orang kaya, para pedagang, dan para pengusaha. 

Sobat sudah tahu kan, apa itu zakat? Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Jangan lupa zakat yaa jika harta Sobat sudah melebihi nisab. Sampai bertemu di edisi Buletin Nih berikutnya ...

Sumber: Buletin Nih #13 

Selasa, 27 Desember 2016

BULETIN NIH EDISI 13 SUDAH BISA SOBAT BACA






Sobat punya jendela? Fungsinya untuk apa? Tentu ia sangat penting untuk pencahayaan di dalam rumah. Begitu pula diri kita. Jendela kita adalah dengan membaca. Terutama membaca Al-Qur`an, serta bacaan-bacaan yang bergizi dan menyehatkan. Bacaan yang membuat kita makin semangat untuk meraih kesuksesan. Bukankah begitu?

Taat nan Berkuasa

  
Oleh: Zakiy Zakaryya Ali 
Ada yang keren nih kawan. Bagaimana tidak keren? Bayangkan, ada seorang nabi yang bisa memahami bahasa hewan. Lalu bisa menjinakkan angin dan menguasai jin. Siapa dia? Cari tahu di bawah ini ya.

Pada suatu hari nabi ini mengumpulkan bala tentaranya yang terdiri dari golongan manusia, jin, dan hewan. Lalu mereka berbaris dengan tertib untuk melakukan perjalanan. Saat di perjalanan, nabi ini menemukan lembah semut. Kemudian dia mendengar ada seekor semut yang berkata kepada semut-semut yang lain, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang kalian, agar kalian tidak diinjak oleh nabi ......... (namanya dicari sendiri ya) dan bala tentaranya. Karena mereka sebentar lagi akan melintasi kawasan ini.” 

Ketika ia mendengar perkataan semut tersebut, ia hanya tersenyum dan tertawa. Lalu nabi ini berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kedua orangtuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml:19).

Apakah kalian pernah mendengar kisah tersebut? Jika pernah, kisah nabi siapakah itu? Ya, itu adalah kisah Nabi Sulaiman. Nabi yang sangat kaya. Dengan istananya yang sangat megah dan semua serba ada. Dan dia sendiri yang jadi rajanya. Dia juga memiliki pasukan yang tidak seperti biasanya. Pasukannya terdiri dari manusia, jin, dan hewan. Akan tetapi dengan kenikmatan itu, Nabi Sulaiman tetap taat kepada Allah. 

Nah, dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajarannya. Yaitu, jika kita memiliki kelebihan maka jangan sombong. Dan segeralah memuji Allah agar Allah menambahkan nikmat kepada kita. Apakah kalian sekarang ingin menjadi orang yang mulia seperti Nabi Sulaiman?

Sumber: Buletin Nih #13 

Kamis, 22 Desember 2016

Lesehan Pendidikan JAN Bulan Desember


Info Kegiatan JAN
"Lesehan Pendidikan"
Jum`at, 23 Desember 2016
Bersama Tim Pendidikan JAN
Jam 16.00-17.25
di Rumah Nah (Jalan Gotong Royong No. 276 Yogyakarta)
Gratis!

Tepung dan Garam




Oleh: Annafi`ah Firdaus

Pernah membuat roti? Apa bahan dasar yang dibutuhkan? Tentu yang utama adalah tepung. Sedangkan bumbu rasanya adalah garam. Sedangkan ukurannya? Apakah semisal tepungnya satu baskom, garamnya juga satu baskom? Dijamin, ketika memasak dengan cara seperti itu, tak akan ada yang mau makan roti itu. Sangat dan sangat asin. Bagi penderita hipertensi, tentu dapat meningkatkan tekanan darah. Mau coba?

Sesungguhnya, hal ini seperti “meracik” diri kita. Bahwa semua ada ukurannya yang harus kita pahami dan kerjakan. Seperti membuat roti dengan ukuran tepung tertentu, akan menghasilkan roti yang menguatkan bahkan bergizi jika menggunakan ukuran garam tertentu pula. Sedangkan diri kita? Tepung ibaratnya adalah adab, sedangkan garam adalah amal perbuatan yang akan “menarik” perhatiannya Allah.

Ya. Tepung itu ibarat adab, sedangkan amal adalah garam. Dan ukurannya ialah tepung jauh lebih banyak dibandingkan garam. Begitupula diri kita, hal yang harus utama diperbanyak adalah adab. “Perbanyaklah adab hingga perbandingannya seperti perbandingan tepung dan garam dalam suatu adonan. Banyak adab dengan sedikit amal shalih lebih baik daripada amal shalih sedikit adab.” 

“Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”
-Ibnu al-Mubarak-

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar menjadi manusia yang beradab? Dituliskan dalam buku “Ensiklopedi Adab Islam” tulisan `Abdul `Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada adalah dengan melaksanakan seluruh perintah Allah, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah. Meninggalkan seluruh laranganNya, baik yang haram ataupun makruh. Gampang atau susah? Jelas, butuh kesungguhan dan istiqomah melakukannya.

Sesungguhnya semua aturan Islam mengandung kebaikan untuk seorang Muslim. Baik di dunia, maupun di akhirat. Mulai dari sisi badan, akal, agama, harta, kesehatan, dan yang lainnya. Maka, sesiapa yang menerapkan seluruh yang menjadi aturan Allah dan diteladankan Rasulullah, ia telah beradab dengan adab Islami. Sementara jika meninggalkan adab-adab ini, ia telah jauh dari Islam.

Bukankah memang ada syarat penting yang harus kita penuhi supaya segala yang kita lakukan tidak sia-sia? Ialah lurus untuk Allah (ikhlas) dan mengikuti caranya Nabi. Contohnya hal kebiasaan kita, yakni masalah makan. Ia akan menjadi pahala ketika niatnya karena Allah. Bukan sekadar membuat perut kenyang. Caranya? Ya sesuai Rasulullah. Seperti mengawali makan dengan membaca “bismillah”, makan dengan duduk tidak bersandar, makan pakai tangan kanan, makan sampai bersih bahkan menjilati piring, dan yang lain-lain.

Semoga apa-apa yang kita lakukan tidak sia-sia di mataNya. Yuk, jadi manusia yang semakin baik! Dengan adab-adab Islami sebagai bahan utamanya!

Rabu, 21 Desember 2016

Galeri Foto: Bedah Buletin Nih di BCB Temuwuh




Belajar adalah kebutuhan. Siapakah kelak yang akan memetiknya? Tentu yang menjalaninya. Ia akan mendapatkan ilmu. Ilmu pengantar dirinya ke surga.

BCB adalah singkatan dari Bimbingan Cinta Belajar. Dan agenda Sabtu, 17 Desember 2016 adalah membaca bareng-bareng Buletin Nih edisi 12. Kamu mau baca?

Perintah Allah pertama kepada Rasulullah adalah membaca. Ayo kita amalkan! Terutama membaca Al-Qur`an.

"Si Kancil"




Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Masih ingatkah dengan si Kancil? Binatang "cerdik" yang selalu diceritakan dengan judul "Kancil Nyolong Timun" (Kancil Pencuri Timun). Dulu saya juga korban dari cerita itu. Bahkan saya masih ingat, bagaimana "kecerdikan" kancil saat mencuri timunnya Pak Tani. Lalu “apesnya”, dia tertangkap dan berusaha kabur dengan membohongi anjingnya Pak Tani. Tapi sejak memahami dampaknya, cerita semacam itu sudah saya singkirkan jauh-jauh.

Sepintas menarik, sepintas juga mengesankan. Tapi betapa bahayanya jika cerita si kancil ditanamkan pada anak-anak. Sadar atau tidak, secara terang-terangan mereka diajari cara-cara mencuri, jurus-jurus ”jitu” berbohong, dan segala bentuk kelicikan lainnya. Bicara soal kancil, sepertinya sekarang sudah bukan zamannya. Bukan sebuah tren lagi untuk menceritakan ceritanya. Atau, adakah yang masih mendapati kisah si kancil?
 
Sebenarnya si Kancil memang sudah tidak terkenal, tapi ada yang serupa dengan si Kancil, cerita-cerita fiktif yang lebih horor lagi. Bahkan didesain semenarik mungkin dengan sebuah film. Misalnya saja Supermen, Batman, Spiderman, Upin-Ipin, Boy Boy Boy, Krisna, Balvir. Dan semua itu menjadi konsumsi anak-anak -meskipun tidak semua-. Silahkan, bisa diperkirakan sendiri akibat dari semua cerita itu pada anak-anak. Yang dewasa saja bisa terpengaruh, apalagi mereka.

Lalu bagaimana jika cerita yang ditanamkan kepada anak-anak itu diganti kisah-kisah nabi, kisah Rasulullah, kisah sahabat, kisah orang shalih, dan kisah-kisah yang jelas terbukti kebenarannya. Sama-sama memberikan pengaruh, tapi efeknya berbeda.
 Karena didalam kisah-kisah ini akan kita temukan bagaimana teladan-teladan kebaikan bukan bohongan. Akan kita temukan pengokohan iman, kejujuran, kesungguhan, pengorbanan, dan semua itu nyata.

Begitu juga sebaliknya, ketika yang kita dapatkan kisah shahih tentang orang durhaka, akan kita temukan juga balasan bagi mereka; balasan yang menghinakan. Sehingga kita akan menjauhi perbuatan yang serupa.

Nah, coba renungkan. Yang satu diberi kisah fiktif -si kancil, Superman, Balvir, dan kawan-kawannya-Satu lagi diberi kisah shahih dengan segala bentuk keteladanannya. Maka, mana yang akan lebih beres dan kokoh?


Selasa, 20 Desember 2016

Abnormalkah Anda?



                                                          Oleh: Deniz Dinamiz 

Berdasarkan data dari rekan saya yang bekerja di UNDP, hanya sebagian kecil dari tingkat SMA sederajat yang melanjutkan kuliah. Tepatnya, hanya sebesar 15 % dari lulusan SMA. Dari 15 % tersebut, 14 % masuk PTS dan hanya 1 % masuk PTN. Berarti, mereka yang lanjut kuliah setelah SMA bisa kita sebut abnormal. 

Lalu, apakah banyaknya mahasiswa di sebuah negara menandakan negara itu maju?

Di Amerika serikat, 80 % dari lulusan SMA sederajat melanjutkan S1. Lanjut S1 menjadi hal yang normal bagi mereka. Tetapi hanya 23% dari S1 melanjutkan S2. Sehingga, ada beasiswa dari negara agar SDM mereka bisa melanjutkan S2. Tapi, beasiswa ini baru bisa dilunasi dengan bekerja kepada negara selama 10 tahun, bahkan lebih!! Apa efeknya? Mereka lebih memilih untuk tidak berkeluarga karena hanya akan menjadi beban utk membayar hutang ke negara. Akhirnya, SDM mereka menjadi sangat materialistis dan jauh dari nilai-nilai keluarga.

Terus, bagaimana solusinya? Apakah kuliah menjadi pilihan atau beban? Atau adakah kompetensi lain yang lebih layak diperjuangkan?

Inilah pekerjaan kita bersama-sama. Tentang SDM kita. SDM yang harusnya memiliki long term orientation dalam hidupnya. Bukan sekadar hidup. Hidup kita haruslah “abnormal”!