Rabu, 14 Desember 2016

Adab Belajar Malaikat Jibril


Oleh: Annafi`ah Firdaus

“Ini Jibril yang datang kepada kamu mengajarimu tentang agamamu,” sabda Rasulullah kepada `Umar bin Khatab beserta para sahabat yang saat itu sedang membentuk lingkaran majelis ilmu. 

Ada yang tahu apa saja yang diajarkan Jibril saat itu? Yap. Ialah adab belajar. Jibril mengajari kita apa-apa yang harus dilakukan ketika hendak belajar. 

Dari Umar bin Khatab berkata, “Suatu hari, ketika kami duduk-duduk di hadapan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang laki-laki kepada kami, pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam, pada dirinya tidak tampak tanda-tanda bepergian, tetapi tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Akhirnya ia duduk di hadapan Nabi, menyandarkan kedua lututnya kepada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di kedua paha beliau...” (HR. Muslim). 

Hari-hari ini, perlulah senantiasa melihat diri. Sudahkah menjadi insan yang beradab? Beradab dengan melakukan segala sesuatu “pada tempat” seharusnya. Apalagi sebagai seorang pembelajar; orang yang mempelajari ilmu. Maka dari Jibril yang sedang belajar kepada Rasulullah saat itu tentang Iman, Islam, Ihsan, dan hari Kiamat, kita kan dapati bagaimana seharusnya saat belajar. 

1.    Pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam.
Setiap kita pergi menuju majelis ilmu, seperti sekolah, kampus, dan forum keilmuan, sudahkah pakai pakaian yang bersih, rapi, dan terbaik? Menuju majelis ilmu harusnya pakaian yang kita pakai adalah pakaian terbaik menurutNya. Bukan malah sebaliknya, pergi ke rumah teman ataupun kondangan pakai pakaian terbaik, akan tetapi ke majelis ilmu dengan pakaian seadanya. Begitu pula tatanan rambut bagi putra dan kerapian jilbab bagi putri. Haruslah dalam kondisi “terbaik” saat dalam majelis ilmu. 

2.    Tidak tampak tanda-tanda bepergian.
Apabila kamu pulang dari bepergian jauh, apa yang terjadi dengan fisikmu? Lelah? Wajah “kusut”? Mengantuk? Maka, menampakkan wajah “ceria” dan kondisi fisik terbaik adalah bagian dari adab belajar. Perlulah kita mengatur diri dan waktu, agar semisal datang ke majelis ilmu tepat waktu. Bahkan jauh dari jam sebelumnya, sehingga bisa mempersiapkan dengan baik apapun ilmu yang akan diterima. Baca buku sesuai tema dari guru atau ustadzah mungkin? 

3.    Duduk di hadapan Nabi.
Ya. Waktu itu Jibril duduk di depan Nabi. Duduk di hadapan sang sumber ilmu langsung. Menyandarkan kedua lututnya kepada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di kedua paha beliau. Bukan duduk bungkuk dan menghadap samping kanan atau kiri bahkan bukan pula membelakangi. Tapi duduk tegak serta menghadapkan diri menuju Rasulullah. Maka, kembali lagi Jibril mengajarkan kita adab belajar; selalu ber-tawajjahu (menghadap ke) arah guru. Bukan menghadap ke bawah karena sibuk bermain hape. Bukan pula menghadap ke samping kanan dan kiri karena sibuk mengobrol dengan teman duduk.

          Adab-adab ini, yang diajarkan Malaikat Jibril sungguhlah penting. Ia lebih utama sebelum ilmu itu sendiri. Mari kita dengarkan nasihat ulama kelahiran 93 H dari Madinah Al-Munawarrah bernama Imam Malik kepada sesiapa yang ingin ilmunya tidak sekadar dalam catatan laporan hasil belajar, namun catatan amal kebaikan. Imam Malik berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” 

         Begitu pula Ibnu al-Mubarak, ulama asal Turki kelahiran 118 H menekankan betapa pentingnya punya adab sebelum punya ilmu, “Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”
 
        Nah, tiada kata terlambat untuk memperbaiki adab kita. Termasuk adab saat belajar. Agar ilmunya tidak sekadar ilmu saja, tapi menjadi buah amal yang kelak bisa dipetik dan dinikmati kelezatannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar