Kamis, 15 Desember 2016

Ibnu Jarir Ath-Thabari




Oleh: Chazim At-Temanggungi

Ingin menjadi penulis buku yang handal? Atau penulis di majalah-majalah Islam? Nah, tokoh kita kali ini bisa Sobat teladani.

Beliau adalah seorang penulis handal, juga ulama hebat. Namanya Muhammad bin Jarir. Namun beliau lebih sering dipanggil dengan Ibnu Jarir Ath-Thabari, alias Imam Ath-Thabari. Beliau lahir tahun 224 H.

Sejak kecil, sang ayah selalu mendorong beliau untuk menuntut ilmu. Wajar, ayahnya juga sangat cinta terhadap ilmu. Berkat dorongan sang ayah, Ibnu Jarir mampu menghafal Al-Qur’an ketika berumur 7 tahun . Beliau juga mulai aktif shalat berjamaah di masjid secara rutin sejak berumur 8 tahun. Artinya, beliau sudah paham tata tertib di masjid, sudah tahu kapan waktu-waktu ke masjid, tanpa dikejar-kejar oleh sang ayah.

Selain menghafal dan membaca, Ibnu Jarir juga rajin menulis. Saat usianya menginjak 9 tahun, beliau mulai aktif menulis hadits. Baginya, tiada hari tanpa menulis. Kalau dirata-rata, setiap hari beliau menulis 60 halaman. Luar biasa! Bandingkan, berapa halaman yang Sobat tulis setiap hari?

Semakin dewasa, semangat belajar dan menulisnya memuncak. Banyak sekali buku-buku yang beliau tulis dan hingga kini masih bisa kita baca. Karya beliau yang paling terkenal adalah Tafsir Ath-Thabari.

Beliau pernah mengajak teman-temannya menulis tentang kejadian sejak Nabi Adam diciptakan hingga hari Kiamat. Jumlah halaman yang diusulkan mencapai 30.000 halaman. Teman-temannya merasa kewalahan. Maka Ibnu Jarir berkata, “Semangat kalian sudah mati.” Lalu beliau meringkasnya menjadi 3000 halaman.

Tapi, tulisan beliau bukan berupa dongeng-dongeng atau karangan yang direkayasa. Apa yang ditulisnya menunjukkan tingkat kecerdasan dan kekuatan hafalannya. Beliau juga dikenal sebagai orang yang shalih, ulama yang terpercaya.

Ketika Ibnu Khuzaimah membaca buku tulisan Ibnu Jarir, beliau berkata, “Saya telah membaca bukunya dan saya tidak tahu lagi orang yang lebih pandai di zaman itu daripada Ibnu Jarir.”

Saat beliau sakit, ada seorang temannya menjenguk sembari mendoakannya. Mendengar doa temannya, Ibnu Jarir yang sakit keras itu ingin menulis. Beliau meminta kertas dan pena kepada keluarganya. Orang-orang pun terkejut dengan perbuatan Ibnu Jarir. “Dalam kondisi seperti ini Anda masih ingin menulis?” Kata mereka dengan penuh tanda tanya. Beliau menjawab, “Ya, tidak pantas seorang Muslim meremehkan ilmu walaupun dalam keadaan seperti ini.”

Tak lama usai beliau menulis, sang tamu berpamitan. Tapi belum lagi tamunya keluar rumah, beliau sudah meninggal. Semoga Allah merahmati beliau. Meskipun beliau telah meninggal, pahalanya tidak akan terputus, insyaAllah. Karena ilmu yang dituangkannya dalam tulisan bermanfaat untuk kaum muslimin sesudahnya.

Sumber: Ditulis ulang dan diubah seperlunya dari buku Masa Kecil Para Ulama karangan Abu Umar Abdillah.
                                                                                                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar