Kamis, 08 Desember 2016

Menggergaji Serbuk Kayu

Sumber: Pixabay 


Oleh: Annafi`ah Firdaus 

"Siapa di antara kalian yang pernah menggergaji kayu?” Tanya seorang guru kepada muridnya. “Kami sering melakukannya!” Jawab sebagian murid sambil mengangkat tangan.
Sang guru bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang sering menggergaji serbuk kayu?” Maka tak satu pun di antara mereka yang mengangkat tangannya. 

Tentu, tak seorang pun dapat menggergaji serbuk kayu, karena ia telah menjadi serbuk. Demikianlah kondisi masa lalu. Ketika engkau gelisah karena peristiwa masa lalu, maka engkau seperti menggergaji serbuk kayu. Sesuatu yang telah hancur dan tak mungkin kembali menjadi kayu,” Penjelasan sang guru kepada murid-muridnya. 

Setiap manusia punya masa lalu. Baik masa lalu yang baik maupun buruk. Bisa sesuatu hal yang disuka maupun tak disuka. Dan hari ini, adalah sesuatu yang akan menjadi masa lalu, ketika manusia sudah sampai “masa depan” atas kehendakNya. 

Menggergaji serbuk kayu. Adakah kalian pernah melakukannya? Atau sedang melakukannya? Gelisah dengan masa lalu dengan berkata “Seandainya, dahulu aku seperti ini” atau “Sekiranya aku melakukan ini maka akan begini.” 

Sebagai seorang Mukmin sejati, seharusnya tidak boleh bersikap lemah terhadap keadaan. Rasulullah ShallaLlaahu `alahi wa Sallam berkata, “Jangan engkau berkata, sekiranya aku melakukan ini dan itu; akan tetapi katakanlah, Allah telah menakdirkan dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi; sebab kata `sekiranya’ akan membuka pintu bisikan setan.” 

Tidak sedikit orang yang sedang terkena musibah menjadi berlarut-larut kesedihannya. Musibah atas kehilangan sesuatu yang berharga maupun ujian sakit yang menimpanya. Waktunya habis dipergunakan untuk mengingat-ingatnya bahkan terkadang menghadirkan pikiran kosong untuk meratapinya. 

Semoga bukan kita. Karena segala sesuatu musibah yang berlalu adalah kehendakNya. Segala kebaikan yang kita peroleh adalah ketetapanNya. Tugas kita terhadap masa lalu adalah mensyukuri dan mengambil pelajaran dari segala sesuatu yang telah terjadi.

Bagaimana kabar masa lalumu? Semoga engkau sekarang menjadi sekokoh Mush`ab bin Umair. Seorang pemuda kaya raya, tampan disertai manja sebelum bertemu Rasulullah, namun namanya menjadi harum semerbak di seluruh penghuni langit dan bumi. Ia tinggalkan harta bahkan kehidupan mewahnya demi menuju Allah dan Rasulullah. 

Atau sepemberani seseorang yang lahir dari keturunan Suku Ghifar. Suku yang terkenal dengan perampok yang kejam. Bahkan menjadi simbol perampokan. Kita kenal seseorang itu namanya Abu Dzar Al-Ghifari. Setelah bertemu Rasulullah, ia mengucapkan syahadat. Lantas, ia menjadi seorang pelopor gerakan untuk hidup sederhana, tidak bermewah-mewah terhadap kesenangan dunia demi Allah dan Rasulullah

Mush`ab bin Umair dan Abu Dzar Al-Ghifari, memiliki masa lalu masing-masing. Setiap kita punya masa lalu. Janganlah sampai kita seperti masa lalu Fir`aun yang melampui batas. Janganlah sampai kita melakukan pekerjaan sia-sia yaitu seperti menggergaji serbuk kayu. Sekarang, waktunya melakukan segala sesuatu dengan usaha terbaik. Hasilnya? Hanya Allah, pemilik segala kehendak dan ketetapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar