Rabu, 21 Desember 2016

"Si Kancil"




Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Masih ingatkah dengan si Kancil? Binatang "cerdik" yang selalu diceritakan dengan judul "Kancil Nyolong Timun" (Kancil Pencuri Timun). Dulu saya juga korban dari cerita itu. Bahkan saya masih ingat, bagaimana "kecerdikan" kancil saat mencuri timunnya Pak Tani. Lalu “apesnya”, dia tertangkap dan berusaha kabur dengan membohongi anjingnya Pak Tani. Tapi sejak memahami dampaknya, cerita semacam itu sudah saya singkirkan jauh-jauh.

Sepintas menarik, sepintas juga mengesankan. Tapi betapa bahayanya jika cerita si kancil ditanamkan pada anak-anak. Sadar atau tidak, secara terang-terangan mereka diajari cara-cara mencuri, jurus-jurus ”jitu” berbohong, dan segala bentuk kelicikan lainnya. Bicara soal kancil, sepertinya sekarang sudah bukan zamannya. Bukan sebuah tren lagi untuk menceritakan ceritanya. Atau, adakah yang masih mendapati kisah si kancil?
 
Sebenarnya si Kancil memang sudah tidak terkenal, tapi ada yang serupa dengan si Kancil, cerita-cerita fiktif yang lebih horor lagi. Bahkan didesain semenarik mungkin dengan sebuah film. Misalnya saja Supermen, Batman, Spiderman, Upin-Ipin, Boy Boy Boy, Krisna, Balvir. Dan semua itu menjadi konsumsi anak-anak -meskipun tidak semua-. Silahkan, bisa diperkirakan sendiri akibat dari semua cerita itu pada anak-anak. Yang dewasa saja bisa terpengaruh, apalagi mereka.

Lalu bagaimana jika cerita yang ditanamkan kepada anak-anak itu diganti kisah-kisah nabi, kisah Rasulullah, kisah sahabat, kisah orang shalih, dan kisah-kisah yang jelas terbukti kebenarannya. Sama-sama memberikan pengaruh, tapi efeknya berbeda.
 Karena didalam kisah-kisah ini akan kita temukan bagaimana teladan-teladan kebaikan bukan bohongan. Akan kita temukan pengokohan iman, kejujuran, kesungguhan, pengorbanan, dan semua itu nyata.

Begitu juga sebaliknya, ketika yang kita dapatkan kisah shahih tentang orang durhaka, akan kita temukan juga balasan bagi mereka; balasan yang menghinakan. Sehingga kita akan menjauhi perbuatan yang serupa.

Nah, coba renungkan. Yang satu diberi kisah fiktif -si kancil, Superman, Balvir, dan kawan-kawannya-Satu lagi diberi kisah shahih dengan segala bentuk keteladanannya. Maka, mana yang akan lebih beres dan kokoh?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar