Kamis, 22 Desember 2016

Tepung dan Garam




Oleh: Annafi`ah Firdaus

Pernah membuat roti? Apa bahan dasar yang dibutuhkan? Tentu yang utama adalah tepung. Sedangkan bumbu rasanya adalah garam. Sedangkan ukurannya? Apakah semisal tepungnya satu baskom, garamnya juga satu baskom? Dijamin, ketika memasak dengan cara seperti itu, tak akan ada yang mau makan roti itu. Sangat dan sangat asin. Bagi penderita hipertensi, tentu dapat meningkatkan tekanan darah. Mau coba?

Sesungguhnya, hal ini seperti “meracik” diri kita. Bahwa semua ada ukurannya yang harus kita pahami dan kerjakan. Seperti membuat roti dengan ukuran tepung tertentu, akan menghasilkan roti yang menguatkan bahkan bergizi jika menggunakan ukuran garam tertentu pula. Sedangkan diri kita? Tepung ibaratnya adalah adab, sedangkan garam adalah amal perbuatan yang akan “menarik” perhatiannya Allah.

Ya. Tepung itu ibarat adab, sedangkan amal adalah garam. Dan ukurannya ialah tepung jauh lebih banyak dibandingkan garam. Begitupula diri kita, hal yang harus utama diperbanyak adalah adab. “Perbanyaklah adab hingga perbandingannya seperti perbandingan tepung dan garam dalam suatu adonan. Banyak adab dengan sedikit amal shalih lebih baik daripada amal shalih sedikit adab.” 

“Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”
-Ibnu al-Mubarak-

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar menjadi manusia yang beradab? Dituliskan dalam buku “Ensiklopedi Adab Islam” tulisan `Abdul `Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada adalah dengan melaksanakan seluruh perintah Allah, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah. Meninggalkan seluruh laranganNya, baik yang haram ataupun makruh. Gampang atau susah? Jelas, butuh kesungguhan dan istiqomah melakukannya.

Sesungguhnya semua aturan Islam mengandung kebaikan untuk seorang Muslim. Baik di dunia, maupun di akhirat. Mulai dari sisi badan, akal, agama, harta, kesehatan, dan yang lainnya. Maka, sesiapa yang menerapkan seluruh yang menjadi aturan Allah dan diteladankan Rasulullah, ia telah beradab dengan adab Islami. Sementara jika meninggalkan adab-adab ini, ia telah jauh dari Islam.

Bukankah memang ada syarat penting yang harus kita penuhi supaya segala yang kita lakukan tidak sia-sia? Ialah lurus untuk Allah (ikhlas) dan mengikuti caranya Nabi. Contohnya hal kebiasaan kita, yakni masalah makan. Ia akan menjadi pahala ketika niatnya karena Allah. Bukan sekadar membuat perut kenyang. Caranya? Ya sesuai Rasulullah. Seperti mengawali makan dengan membaca “bismillah”, makan dengan duduk tidak bersandar, makan pakai tangan kanan, makan sampai bersih bahkan menjilati piring, dan yang lain-lain.

Semoga apa-apa yang kita lakukan tidak sia-sia di mataNya. Yuk, jadi manusia yang semakin baik! Dengan adab-adab Islami sebagai bahan utamanya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar