Rabu, 14 Desember 2016

WAKTU

 
Oleh: Wahyu Setyawan


Suasana sunyi di tangga gedung H Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tiba-tiba ramai penuh obrolan, setelah perkuliahan siang diakhiri pukul 14.30 WIB. Karena kondisi hujan, sebagian mahasiswa memilih untuk duduk-duduk. Menunggu hujan reda sekaligus sambil melepaskan penat setelah kuliah siang.

Lima belas menit lamanya menunggu. Hujan juga belum reda. Tampak seorang mahasiswa yang asyik dengan obrolan kuliahnya. Ada pula yang seru dengan gadget, namun ada sosok mahasiswa di sebelah tangga bawah, yang asyik dengan buku yang disandangnya. Ianya, bersama dengan catatan tugas kuliah dan target yang akan diselesaikan.

Terlintas dalam benak saya, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Ia gunakan waktunya dengan sebaik-baiknya. Dalam kondisi orang lain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, ia gunakan waktu luang tersebut untuk mengecek tugas yang sudah ia catat di sebuah buku.

Kemudian ingatlah diri ini, ketika Rasulullah berpesan kepada orang yang sibuk sampai tidak ada waktu luang baginya, dan hilangnya nikmat sehatnya. Dalam sebuah hadits. Ketika beliau bersabda, "Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari)

Waktu merupakan sebuah nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Yang Allah pun menyebutkan beberapa kali tentang waktu di dalam ayat al-Qur’an. Seperti; Wal-fajr (demi fajar), Wal-‘ashr (demi masa), wadh-dhuha (demi waktu dhuha), dan sebagainya.
Pentingnya waktu, terkadang membuat manusia terpedaya dengan waktu luangnya. Lalu ia bisa menunda-nunda waktunya, sehingga mereka menyesal dengan waktu yang sudah berlalu dan tidak dapat mengulangi kesempatan.

Ulama telah menjelaskan akan urgensinya waktu, dan pentingnya mengatur waktu. Agar setiap detiknya, jam, hari, bahkan bulan, dan tahun, serta umurnya bermanfaat dan mendapatkan keberkahan dari waktu yang tidak sia-sia.

Salah satu ulama yang menjelaskan tentang urgensi dan keagungan waktu adalah Fakhruddin Ar-Razi. Beliau mengatakan di dalam tafsirnya, ketika menafsirkan surat al-Ashr, jelasnya, “Al-Ashr adalah waktu, masa, karena di dalamnya memang mengandung berbagai keajaiban. Di dalamnya terdapat rasa senang, sedih, sehat, dan sakit, kaya dan miskin. Dan juga, bahwa umur ini tidak dapat dinilai dengan sesuatu, dalam hal mahal dan berharganya umur itu.”

Fakhruddin Ar-Razi menegaskan, seandainya Anda menyia-nyiakan waktu seribu tahun untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, kemudian Anda bertaubat dan ditetapkan Anda mendapatkan kebahagian di detik-detik terakhir umur Anda, maka Anda akan berada di dalam surga buat selamanya. Dan, Anda pun tahu bahwa sesuatu yang paling berharga adalah hidup Anda di detik-detik terakhir dari umur Anda.”

Jadi, betapa berharganya waktu itu. Dengan waktu yang berkah kita bisa mulia dan bahagia. Dengan waktu yang sia-sia, kita bisa sedih dan sengsara. Wallahu ‘alam




Tidak ada komentar:

Posting Komentar