Rabu, 20 Desember 2017

Belajar kepada Umar (3)

 
Oleh: M. Fatan Ariful Ulum 

Sebelum membebaskan Baitul Maqdis, Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berhenti di Jabiyah. Di hadapan para tentara mukminin, Umar menyampaikan khutbah panjang yang penuh makna. Ibnu Katsir membuatkan ringkasan khutbah bersejarah tersebut untuk kita.

"Wahai saudara-saudara sekalian! Perbaikilah sisi bathin kalian niscaya sisi lahir kalian akan baik. Bekerjalah untuk akhirat niscaya kalian tercukupi dari urusan dunia.
Ketahuilah, ketahuilah, bahwa tiada seorang pun yang memiliki ayah yang masih hidup yang dapat menghubungkan dirinya dengan Adam, juga tidak ada penghubung antara dia dan Allah. Karena itu, siapa pun yang menginginkan jalan surga, hendaklah mengikuti jamaah karena syaithon itu menyertai orang yang sendirian; ia lebih jauh dari dua orang.
Jangan sampai ada di antara kalian menyepi berdua dengan seorang wanita karena syaithon-lah yang ketiga di antaranya. Sesiapa senang karena kebaikannya dan sedih karena keburukannya, dialah orang yang beriman.”


Sumber tulisan dan foto: @emfatan 



Belajar kepada Umar (2)


Oleh: M. Fatan Ariful Ulum

Ya. Inilah Umar bin al-Khaththab. Yang menurut Ibnu Mas’ud, “Di antara kami, Umar-lah yang paling mengetahui Kitabullah dan paling memahami agama Allah.”

Lantas bagaimanakah cara Umar mengikat ilmu sedemikian kuat? Putranya, Abdullah bin Umar, mengabarkan kepada kita. “ Umar mempelajari surat Al-Baqarah selama dua belas tahun. Lalu setelah memahami kandungan surat tersebut, dia menyembelih seekor sapi.”

Ya. Inilah Umar. Mulia karena ilmu, dan beramal dengan ilmu. Yang pertama memerintahkan umat Islam agar mengerjakan sholat tarawih di bulan Ramadhan secara berjamaah. Yang pertama diberi gelar Amirul Mukminin. Yang menetapkan kalender Hijriyah.

Yang menyusun peraturan pajak dan membentuk instansi pemerintah, serta berkata, “Tidak boleh menyusahkan seseorang untuk membayar lebih dari satu dirham dalam satu bulan.” Yang mengangkat para qadhi dan membuat undang-undang peradilan. Menetapkan evaluasi tahunan bagi para penguasa di wilayah Islam.

Yang menyiapkan gudang suplai makanan dan perbekalan. Menggagas peraturan untuk memonitor harga pasaran serta memantau takaran dan timbangan di pasar. Memberi perhatian khusus bagi anak-anak terlantar. Membangun kota-kota baru untuk mengokohkan peradaban Islam.

Ya. Inilah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qarth bin Razzah bin Adi bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi. Satu diantara yang lebih dahulu beriman, termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga, bagian dari Khulafaur Rasyidin, mertua Rasulullah SAW, tergolong ulama besar di kalangan para Shahabat, serta yang paling zuhud diantara mereka. Dialah Al-Faruq, sang pembebas Al-Aqsha. Radhiyallaahu ‘anhu.

Sumber tulisan dan
📷: @emfatan

Belajar kepada Umar (1)


Oleh: M Fatan Ariful Ulum

Ketika tidur,” demikian Rasulullah SAW memulai sabdanya yang diriwayatkan al-Bukhari, “aku bermimpi minum susu hingga aku melihat susu itu mengalir di kukuku, atau di kuku-kukuku; lalu aku berikan susu itu kepada Umar.” Para sahabat pun bertanya, “Apa takwil engkau (terhadapnya)?” Rasulullah SAW menjawab, “Ilmu.”

Ya. Umar mendapatkan beragam keutamaan, karena bersumber dari ilmu. Sebagaimana dalam kesempatan lain, Rasulullah menyebutkan keunggulan Umar dalam hal ilmu. Al-Bukhari meriwayatkan kepada kita dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sungguh telah ada pada zaman orang-orang sebelum kalian banyak lelaki dari kalangan Bani Israil yang diberikan ilham, namun mereka bukan Nabi; jika di kalangan umatku ada orang seperti mereka, maka Umarlah orangnya.” Alangkah mulia persaksian itu, langsung dari sebaik-baik insan. Dari lisan yang tak pernah berdusta.

Bukankah kita ingat, saat Umar belum masuk ke dalam barisan orang-orang beriman, Rasulullah memanjatkan doa khusus—diriwayatkan oleh Ibnu Majah—untuknya? “
Ya Allah, muliakanlah (kuatkanlah) Islam dengan masuk Islamnya Umar bin al-Khaththab.”

Maka, inilah pernyataan Ibnu Mas’ud tentang peristiwa penting tersebut. “Masuk Islamnya Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Demi Allah, kami tidak sanggup mengerjakan sholat di sekeliling Ka’bah secara terang-terangan hingga Umar masuk Islam.” Dalam riwayat Al-Bukhari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Kami selalu merasa mulia sejak Umar bin al-Khaththab masuk Islam.”

Ya. Inilah Umar. Ilmu dan iman ditopang dengan keperkasaannya, sehingga Islam kian menjulang mulia. Hudzaifah ibnul Yaman menyebutkan, “Ilmu manusia terselip di lubang bersama ilmu Umar bin Khaththab.” Ibnu Mas’ud menegaskan, “Seandainya ilmu Umar diletakkan di satu sisi timbangan dan ilmu seluruh penduduk bumi diletakkan di timbangan lain, niscaya ilmu Umar akan mengungguli ilmu mereka."

Sumber tulisan dan
📷@emfatan

Senin, 18 Desember 2017

Mulia

Oleh: Muhammad Fikri 

Tempat yang mulia
Tempat bersih dan suci
Untuk tempat beribadah umat muslimin
Pusatnya tempat barokah dan mulia
Dari sejak dahulu milik umat muslimin
Tetapi, sekarang musuh muslimin merebutnya
Dan suatu saat, para mujahid akan merebutnya kembali
Mujahid di jalan Allah Ta’ala
Tunggulah kemerdekaan Al-Aqsha!

Sumber: @sahabatalaqsha

*Naskah lolos KUSEN per 15 Desember 2017 

Rabu, 13 Desember 2017

Lahir tanpa Ayah

Oleh: Silvia Maharani

Nabi Isa adalah rasul terakhir sebelum Nabi Muhammad. Dalam kisah Nabi Isa terdapat bukti jelas tentang kehendakNya yang bebas, kekuasaanNya yang mutlak, dan hikmah ciptaanNya yang mendalam. Sebab semua permasalahannya di luar kebiasaan dan di luar jangkauan jika dilihat dari sisi hukum alam.

Namun kelahiran Nabi Isa mudah dicerna dan mudah dipercaya bagi orang-orang yang percaya bahwa Allah Mahakuasa dan bebas berkehendak atas segala sesuatu.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘jadilah’, maka jadilah dia.” (QS. Yaa Siin: 82)

Sebagaimana kelahiran Nabi Isa juga sangat mudah dipercaya bagi orang-orang yang mempercayai penciptaan Nabi Adam dari tanah, tanpa ayah dan ibu.

Sebab kelahiran Nabi Isa dari ibu tanpa ayah lebih mudah bagi Allah dan lebih mudah dibenarkan jika dibandingkan dengan Nabi Adam yang lahir tanpa ayah dan ibu. Karena itu Allah berfirman:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya ‘jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali ‘Imran: 59)

Sahabat


Oleh: Novtinof Khofifah 

Dulu aku membencimu
Dulu aku tak suka padamu
Dulu aku tak ingin menatapmu
Dulu kita tak bisa disatukan
Tetapi ternyata semua itu berubah

Aku mulai bisa memaafkanmu
Aku mulai ingin berteman padamu
Kita mulai bersama mulai bertukar cerita
Memulai dengan canda dan tawa
Menenggelamkan semua perasaan tak suka
Mulai melunturkan semua kebencian padamu
Mulai saling mengerti dan saling melengkapi

Dan entah mengapa
Hingga saat ini
Aku ingin menganggapmu
Sebagai sahabat sejati

*Naskah lolos Kusen per 24 November 2017 


Rabu, 06 Desember 2017

Keberanianmu

Oleh: Silvia Maharani 

Begitu taatnya engkau kepada bundamu
Begitu cintanya engkau kepada saudaramu
Hingga kau rela mengikuti arus sungai itu
Demi menjaga saudaramu
            Demi kebahagiaan bundamu
            Untuk bertemu putranya
            Kau beranikan diri memasuki istana
            Untuk membawa saudaramu
            Kepangkuan ibundanya
Ya, kau adalah saudari Musa
Inginnya kami sepertimu

Amanah dan pemberani 

ENGKAU SANG PEMIMPIN


Oleh: Fatan Fantastik

Setiap orang adalah pemimpin. Kamu pemimpin. Aku pemimpin. Kita semua adalah pemimpin. 

Nggak percaya? Coba perhatikan dirimu. Apa saja yang telah kamu lakukan dari tidur, hingga tidur kembali? Ada yang menekan sebuat remote control, dan kemudian kamu bergerak seperti robot? Tak ada. Kalau pun ada yang menyuruhmu, entah ayah/ibu maupun dosen/guru, kamu masih punya pilihan untuk menolak atau menerima. Asal, siap saja menanggung risikonya...

Begitulah. Kamu adalah pemimpin. Kamu makan apa yang kamu rela memakannya. Kamu habiskan minuman yang kamu sukai. Kamu dengan senang hati menjalani hal-hal yang merupakan hobi-mu. Kamu adalah pemimpin untuk dirimu sendiri. Dan kelak, Allah akan nanyain kamu. Menanyakan semua pilihan yang telah kamu buat untuk dirimu. Semua pilihan. Baik perkataan, perbuatan, bahkan pikiran dan perasaan. Nggak ada yang nggak dimintai pertanggungjawaban.

Jadi? Bijaklah. Adillah dalam memimpin. Beri arahan yang jelas untuk dirimu sendiri dalam melangkah. Beri 'bensin' yang benar untuk 'kendaraan'mu. Sehingga ia dalam kondisi segar dan selamat sampai di tujuan: negeri akhirat.

Pimpinlah dirimu dengan benar. Sehingga ia mengukir prestasi yang patut dikenang. Biarkan dunia mencatat kehebatanmu. Sebagaimana Temudjin.

Ya, namanya Temudjin. Seorang anak yatim. Semenjak menjadi yatim, ia dihina. Dipermalukan. Diperbudak. Dipenjara. Bahkan, nyaris dibunuh. Lalu ia ”mengaum”. Ia pamerkan gigi-giginya yang siap mengoyak-ngoyak tubuh musuh. Ia pimpin dirinya untuk keluar dari kerangkeng kehinaan. Ia bawa dirinya melompat ke ketinggian impian. Ia persatukan bangsa Mongol. Ia ajak mereka menaklukkan dunia. Jadilah ia sang komandan, sang Jenghis Khan. Tekadnya, ”Akan  kubuat bangsa Mongol patuh, meski aku harus membunuh separonya!”

Tapi, kita tak akan mengikuti jejaknya. Kita memang perlu belajar darinya. Tapi tidak usah terseret ke lubang neraka bersamanya. Ada yang lebih patut diteladani. Ya, betul sekali. Dialah Rasulullah SAW, sang panutan sejati. Pemimpin yang paling berpengarauh di seantero bumi, hingga kini. Manusia pilihan ilahi. Ia, paling layak diikuti.


Jadi, hendak kau pimpin kemana dirimu? Hendak kau ”parkir” dimana: di surga kenikmatan yang hijau subur? Atau di neraka yang siksanya membuat tulang hancur lebur?

Senin, 04 Desember 2017

Pemudi Utama Alquran


Oleh: Annafiah Firdaus 

Dua putri Syu`aib!
Aku tahu, yang kalian lakukan amat berat
Melakukan pekerjaan selayaknya laki-laki
Tanpa mengeluh dan mengelak
Demi baktimu pada bapak

Dua putri Syu`aib!
Aku tahu, kalian amat spesial
Karenanya Allah tuliskan kisah kalian
Dalam kitab mulia
Alquran tercinta

Maka, saat langkah kalian malu-malu
Tak ingin mata yang memandang tersipu
Menginginkan diri harus terjaga selalu
Itulah yang kuinginkan pada diriku
Tidak ingin “melihat”
Dan “terlihat”

Dua putri Syu`aib!

Kalianlah pemudi utama Alquran!

Kamis, 30 November 2017

Bersamalah dalam Taat

Oleh: M. Fatan Fantastik


Gandeng tangan saudaramu dengan erat

Ketika seseorang menerima dukungan di suatu tempat, seperti: tempat ibadah, pusat kegiatan komunitas,dll; mereka merasa terhubung dengan orang lain dan nilai-nilai utama komunitas atau masyarakat tersebut.

Emmy E. Werner dan Ruth S. Smith melakukan suatu riset longitudinal. Riset dilakukan terhadap 698 anak yang lahir di pulai Kauai, Hawaii. Ayah-ayah mereka kebanyakan pekerja semi trampil atau tidak trampil, mayoritas ibu mereka tidak lulus SMA, dan sekitar setengah keluarga tersebut hidup dalam kemiskinan yang parah.

Diantara 72 anak tersebut, yang mengalami tantangan-tantangan berat, ternyata mampu tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang “kompeten, percaya diri, dan peduli”. Saat mereka ditanya siapa yang telah membantu mereka mengatasi beragam hambatan tersebut, mereka menyebutkan peran para anggota keluarga besar (seperti: kakek, nenek, bibi, paman, dan lainnya), para tetangga, para guru yang menjadi model panutan, juga para mentor dari lembaga-lemb
aga kerelawanan dan keagamaan.

Sebagaimana orangtua; guru yang peduli dan kompeten, tetangga, pelatih, atau sahabat bisa berperan sebagai model panutan, yang membuat seseorang merasa dicintai dan berharga, dan bahkan membantunya mengatasi situasi keluarga yang berat.

#TRmU #remajautama

Ibunda Para Syuhada

Oleh: Baroroh Itsna Romadlona

"Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya."

Ungkapan bahagia itu terucap oleh ibunda nan mulia ini. Bahagia karena ia telah mendengar kabar gembira. Ya, sebuah kabar gembira bahwa keempat anaknya telah syahid di medan perang. Bukan sedih yang menimpanya tetapi bahagia yang ditimpanya. Untuk syuhada, Allah janjikan surga. Itulah yang membuatnya bahagia.

Siapakah sosok ibunda nan mulia ini? Beliau adalah Al-Khansa. Dari manakah ia? Beliau berasal dari Arab.

Di suatu hari,  Al-Khansa memberikan nasihat sekaligus perintah kepada putra-putranya. Apa yang dinasihatkan dan diperintahkan ibunda tersebut kepada putra-putranya? Sebuah nasihat nan tulus serta perintah dengan bijak dan benar: maju berperang dan jika syahid, maka Allah menjanjikan surga. Ya, itulah nasihat dan perintah dari ibunda nan mulia ini. Dengan izin Allah, empat putra dari Al-Khansa syahid di jalan Allah.

Dapat disimpulkan bahwa beliau adalah ibunda para syuhada. Karena mulianya ia. Mulia dalam hal apa? Mulia mengikhlaskan kesyahidan putra-putranya. Mengikhlaskan karena ia percaya bahwa kelak di suatu hari Allah pasti akan mengumpulkannya berserta putra-putranya dalam naungan kasih sayang Allah.

Lantas, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita ikhlas jika ada salah satu keluarga kita yang berperang dan syahid di jalan Allah? Jika sudah, apakah sudah yakin juga akan janji surga untuk para syuhada? Sebuah kesiapan yang sulit. Tetapi kesiapan ini bisa menjadi mudah jika kita menyakini akan janji surga Allah yang telah dijanjikan.

Referensi:
Baswedan, Sufyan bin Fuad. 1436. Ibunda Para Ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah.



KASIHMU AYAH


Oleh: Muhammad Rosyad 

Kasihmu penuh jiwa raga
Sungguh tangguh kasihmu
Kasih sayangmu lemah lembut
Kasih sayangmu tidak bisa direbut
Pengorbananmu sungguh mulia

Kasih cintamu dengan hati nurani
Hati yang suci tak pernah mati
Sungguh, ayah ibu engkaulah kasihmu

Kasih cinta yang tulus itulah pengorbanannya

*Naskah Lolos Kusen 24 November 2017 

Dari Sumur ke Istana

Oleh: Silvia Maharani

Saudara-saudara Yusuf telah kembali ke rumah dan meninggalkan Yusuf  di dalam sumur. Saudara-saudara Yusuf telah memakan makanan dan tidur di atas tikar. Sementara Yusuf di dalam sumur, tidak ada tikar dan tidak ada pula makanan. Yusuf tidak dapat tidur dan tidak melupakan seorang pun dari mereka. Yusuf di dalam sumur yang dalam dan di hutan yang menakutkan.

Kemudian datanglah rombongan musafir melewati hutan. Dalam perjalanan, mereka merasa haus, lalu mencari sumur. Mereka pun melihat dan menemukan sumur. Mereka menyuruh salah seorang lelaki di antara mereka agar mengambilkan air. Laki-laki itu pun mengeluarkan embernya. Kemudian ia mengangkat ember itu, dan ia merasa sangat berat. Lalu mengeluarkan embernya, dan tiba-tiba ada seorang anak di dalamnya.

Laki-laki itu terkejut dan berteriak dengan keras: “Oh kabar gembira, ini seorang anak.” Para musafir itu sangat gembira, dan menyembunyikan anak tersebut. Mereka pun sampai di Mesir. Mereka lalu menjual Yusuf ke pasar dan menawarkannya kepada orang banyak seraya berkata: “Siapa yang mau beli anak ini? Siapa yang mau beli anak ini?” lalu seorang yang bernama Al-Aziz membeli Yusuf dengan beberapa dirham saja.

Al-Aziz pun membawa Yusuf ke istananya, dan berkata kepada isterinya: “Muliakanlah Yusuf, ia anak yang baik dan tampan.”

Sumber: Referensi:
Kisah Para Nabi untuk  Anak 1, Abul Hasan an-Nadwi, Jakarta: Robbani Press.


Senin, 27 November 2017

PARIT BERNYALA-NYALA

sumber: Sahabat AlAqsha
      Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Demi langit beserta gugusan bintangnya.
Demi bumi beserta hamparan pematangnya.
Demi laut, yang apabila meluap.
Ke manakah kita akan meminta pertolongan?

Sungguh binasa mereka yang membikin parit! Mereka menyalakan api di dalam parit untuk menyiksa kaum muslimin. Padahal orang-orang beriman tidak membikin kerusakan dan kesusahan terhadap kaum kafir. Namun, begitulah tabiat kaum kafir. Mereka tidak rela orang-orang beriman memeluk Islam dengan tenang. Mereka paksa untuk masuk ke agama mereka. Jika mau, mereka bebaskan dari kobaran api di dalam parit. Jika tidak mau? Dengan bangga dan bahagia, mereka paksa orang-orang beriman untuk menikmati panasnya api dalam parit.

Maka, yang duduk-duduk di pinggir parit saat itu, sambil tertawa, sombong, bahkan bongak menyaksikan kaum muslimin dilemparkan ke parit berapi! Jikalau tidak menerima tawaran dari Allah untuk taubat; celaka sungguh celaka. Karena Allah memiliki siksa yang jelas lebih kejam dan keras dari siksaan yang mereka buat.

Sedangkan orang-orang mukmin yang tetap bertahan dalam imannya, tetap kokoh berjalan di atas jalan yang lurus, tidak bakal menyesal. Meski sakit, perih, dan pedih setiap jalan yang mereka lalui, istiqomah adalah nafas mereka. Allah adalah tujuan hidup mereka. Hingga pada puncak akhir, mereka akan bawa kebahagiaan dan ketenangan saat bertemu denganNya. Mereka akan mendapat balasan yang agung dan besar dari Rabbnya Yang Maha Menyaksikan saat ujian parit bernyala-nyala itu membakar tubuh mereka.

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya.” (QS. Al-Maidah: 54).

Indah betul, perjuangan mereka!

Jadi teringat tentang Rohingya, Palestina, Suriah, dan saudara-saudara kita muslim lainnya. Karena beriman kepada Allah, mereka diusir dari kampung halamannya. Mereka disiksa, dibunuh, dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya. Hanya karena mereka beriman. Eh, yang “hanya” itu, sesungguhnya berharga mahal di hadapanNya ...

Kamis, 23 November 2017

KEYS FOR TEENS

Bridging Course Teknik Mesin UMY 
Oleh: Deniz Dinamiz

Jika kamu ingin menjadi seorang remaja yang hebat, atau menjadi remaja utama, ada tiga hal yang harus kamu perhatikan.

Yang pertama, kamu harus perhatikan ideologi kamu. Ideologi itu berkaitan dengan "ingin menjadi apa kamu nanti?" Tapi nggak hanya di dunia ini. Tapi sebagai seorang Muslim, kamu harus tahu bahwa kamu ingin memiliki akhirat yang baik, bahwa kamu ingin masuk ke surga. Jadi segala hal yang kamu lakukan, segala hal yang kamu pilih adalah untuk membawa kamu ke surga.

Yang kedua adalah tentang profesi kamu. Kamu ingin menjadi apa? Manfaat apa yang ingin kamu berikan untuk dunia? Keahlian seperti apa yang kamu pilih?

Dan yang ketiga adalah cinta dan hubungan (personal). Kamu harus menjadi orang yang berkomitmen (untuk menikah) untuk memiliki cinta dan hubungan (personal) yang sangat baik dan sangat seimbang.

Semoga kamu menjadi remaja yang baik, atau bahkan menjadi remaja utama.


AYAHKU

Oleh: Baroroh Itsna R 

Ayahku
Dulu, kau selalu berkata kepadaku
Tentang masa depanku
Di kala itu
Kau memberikan harapan padaku

Ayahku
Dulu, aku juga suka bermanja padamu
Agar kau perhatikan selalu
Gadis mungilmu

Ayahku
Dengan rancau
Kau membimbingku ke jalan menuju surga nan kita rindu

Ayahku
Walau waktu telah berlalu
Hibur manismu
Kuingat selalu

Ayahku
Untukmu, aku selalu berdoa untukmu
Sebagai wujud baktiku padamu
Aku berharap pada-Mu
Semoga kita akan bertemu
Dalam surga yang kita rindu
Nan kekal di dalamnya, bersamamu
Terima kasih wahai ayahku

*Naskah Kusen per 17 November 2017 


Selasa, 21 November 2017

KUCINTA TUHAN

Sumber foto: IG @emfatan

Oleh: Muhammad Fikri

Sungguh, engkau Maha Agung
Yang menguasai segala kerajaan
Menciptakan, menghancurkan dengan kehendak-Nya
Tempat meminta segala sesuatu

Kepada-Nya berlindung dari segala kejahatan
Tempat memohon ampunan
Tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya
Tidak beranak, tidak pula diperanakkan
Ya Allah, Engkaulah Tuhanku Yang Esa

____

Naskah Kusen per 10 November 2017 

KEMURAHAN HATI KAUM ANSHAR

Oleh: Syahrul M

Itulah yang dilakukan Rasulullah ketika berhijrah ke Yatsrib atau Madinah. Mempersaudarakan antara kaum Muhajirin (orang-orang yang datang dari Makkah bersama beliau dengan kaum Anshar (penduduk asli Madinah).

Rasulullah ShallaLlaahu `alaihi wa Sallam mempersaudarakan antara orang-orang  Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik. Mereka yang dipersaudarakan ada sembilan puluh orang. Separuh dari Muhajirin dan separuh lagi dari Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka agar tolong-menolong, saling mewarisi harta jika ada yang meninggal dunia.

Orang-orang Anshar berkata kepada Nabi Muhammad ShallaLlaahu `alaihi wa Sallam, "Bagilah kebun kurma milik kami untuk diberikan kepada saudara-saudara kami Kaum Muhajirin.”

"Kami mendengarkan dan kami taat," kata orang-orang Anshar untuk semakin semangat memberikan harta mereka kepada kaum Muhajirin.

"Tidak perlu," jawab beliau Rasulullah.

"Cukuplah kalian memberikan bahan makanan pokok saja dan kami bisa bergabung dengan kalian dalam memanen buahnya,” pinta Rasulullah kepada kaum Anshar.

Inilah betapa besar kemurahan hati kaum Anshar terhadap saudara-saudara mereka dari Muhajirin. Mereka sangat senang dengan kedatangan Rasulullah bersama para rombongan di Madinah. Mereka pula yang memberikan makanan dan apapun yang dibutuhkan kaum Muhajirin.


Minggu, 19 November 2017

Anak Muda, Bolehkah Galau?

Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Maklum sedang mencari jati diri,” kata sebagian orang.

Namanya juga anak muda, biarkanlah mereka!” kata sebagian orang lagi saat kenakalan remaja terjadi.

Sejatinya, ada pandangan yang perlu diluruskan kepada remaja hari-hari ini. Sebagian orang, bahkan tidak sedikit menganggap usia remaja adalah usia coba-coba. Usia untuk bereksplorasi dengan hal-hal baru sesuai keinginan mereka. Sehingga, ketika para remaja ini berbuat kesalahan, dibiarkan begitu saja tanpa arahan yang benar. Mereka menganggap kenakalan remaja adalah kewajaran. Bahkan ada yang sampai beranggapan, “Kalau remaja tidak begini, bukanlah anak muda.” “Kalau remaja tidak punya pacar, memang bagaimana caranya punya pasangan?” Begitulah!

Allah dan Rasul ternyata punya istilah khusus untuk menjelaskan tentang usia anak muda. Dalam bahasa Arab anak usia muda adalah syabaab ( شباب ). Secara istilah artinya kekuatan, baru, indah, tumbuh, awal segala sesuatu. Sedangkan kata “remaja” dalam bahasa Arab: murohaqoh (مراهقة). Secara istilah artinya adalah kedunguan dan kebodohan, kejahatan, dan kedzaliman serta gemar membuat kesalahan.

Allah juga menyebut usia muda adalah kekuatan di antara dua kelemahan. Pertama, kelemahan usia kanak-kanak yang masih lemah secara fisik, ilmu, pengalaman, dan posisi. Kedua, kelemahan dari usia tua baik secara fisik, semangat, tenaga, dan kemampuan lainnya.
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum: 54).

Sudah jelas untuk kita. Jelas seharusnya anak muda. Anak muda di dalam Islam adalah identik dengan kekuatan, memiliki cita-cita, semangat, keteguhan, siap berkorban, menjaga diri, dan akhlak-akhlak terpuji lainnya. Seperti anak-anak muda di dalam Al-Qur`an.
Sebut saja seorang rupawan, Nabi Yusuf. Baginya, ketampanan adalah anugerah sekaligus ujian. Dan sikapnya sebagai anak muda utama telah terbukti. Ia menolak untuk bermaksiat dengan istri sang raja yang mabuk cinta padanya.

Atau seorang pemuda bernama Ibrahim? Sendirian! Iya sendirian menyeru kaumnya termasuk sang bapak untuk tidak menyembah berhala. Keberanian. Keteguhan iman kepadaNya. Cerdas. Telah melekat pada diri pemuda ini.

Lalu, bolehkah anak muda galau? Tergantung! Kalau galaunya dalam hal-hal yang baik boleh! Selain itu? Tinggalkan!

Kalaulah kita ini serius ingin jadi anak muda utama, yang di kemudian hari tidak ingin ada penyesalan, mari bersungguh-sungguh! Berjalan di atas jalan yang Allah sukai. 

SAUDARA BAIK HATI

Oleh: M. Rosyad 

Saudara yang baik adalah saudara yang bisa mendatangkan manfaat di dunia dan akhirat.
Persaudaraan yang karena Allah, saling menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan, maka ia adalah persaudaraan yang kekal dan abadi.

Allah Ta'ala berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67).

Oleh karena itulah, Rasulullah ShallaLlaahu `alaihi wa Sallam sangat ingin sekali seluruh penduduk dunia untuk memilih saudara yang baik. Karena apa? Dari saudara yang baik, kita bisa mengambil manfaat darinya. Saudara yang baik akan mengingatkan tatkala kita lupa, menasihatinya ketika salah, dan mengarahkannya ketika kita tersesat.

Maka seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya. Seseorang akan kuat bila bersama saudara-saudaranya. Sahabat akan memberikan pengaruh yang sangat besar. Bila baik, niscaya ia akan mengajak kita kepada kebaikan. Tapi, bila ia buruk, maka ia justru akan merusak agama dan dunia kita. Bukan hanya itu, teman yang buruk akan menyibukkan kita dengan perkara-perkara dunia seperti halnya mengajak main game dan atau pekerjaan lain yang tidak bermanfaat.

Maka, sudahkah Sobat punya saudara ataupun sahabat yang baik?

Sumber: Buletin Nah #20





Rabu, 15 November 2017

PEREMPUAN ITU

Oleh: Muhammad Fakih 

Kuingat perempuan itu
Dalam rahimnya aku tumbuh
Aku meloncat berputar
Dan menendang-nendang sepuasku

Aku tak tahu
Kalau perempuan itu menderita karenanya
Tapi aku yakin
Perempuan itu juga amat bahagia

Ibu...
Engkaulah perempuan itu
Perempuan yang kusayangi sepenuh hati
Tak ada kasih sayang setulus milikmu
Tak sanggup aku membalas kasihmu


MANDIRI

Oleh: Deniz Dinamiz 

Remaja yang komitmen dan tidak mudah galau disebut remaja utama. Seorang remaja utama tidak bingung dengan arah hidupnya. Dia menjadi pribadi mandiri yang bisa mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Dia yakin bahwa tindakan dan pilihan hidup yang diambil adalah bagian dari langkah mencapai target idealnya. Dia memegang teguh ideologi nya.

Papalia, seorang psikolog perkembangan, menyebutkan 3 isu utama yang mempengaruhi apakah seorang remaja memiliki komitmen kuat pada identitas dirinya (atau disebut remaja utama):
1. Ideologi
2. Cita-cita profesi
3. Hubungan dan cinta

Ideologi adalah isu yang pertama. Ideologi adalah ilmu dan konsep tentang apa yang dianggap ideal, sukses, prestatif. Apakah target ideal kita dalam hidup ini? Kaya raya? Jadi Direktur muda? Punya pasangan rupawan dan setia? Punya banyak pengikut di sosial media?

Ingatlah, Allah mengajari kita tentang apa yang seharusnya dicari dalam hidup ini: sukses di kampung akhirat.

Hal ini diperjelas dengan apa yang Rasulullah sabdakan: ”Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada hatinya, memudahkan urusannya dan dunia (yang hina ini) akan datang kepadanya (dengan sendirinya), dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan memberikan (rasa) fakir kepadanya, mempersulit urusannya dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang sudah ditetapkan baginya.” (HR At-Tirmidzi).

Akankah anak kita kelak menjadi remaja utama yang berpribadi mandiri? Bukan sekadar makan dengan tangan sendiri. Dia menjadi pemuda yang tegak berdiri pada pilihan hidup dan ideologi yang diyakini. Berani menghadapi tantangan karena kebenaran menjadi pijakan. Bahkan ketika harta, kedudukan, keluarga, bahkan nyawa menjadi taruhan. Siapkah mereka? Oh bukan. Siapkah kita, memberi contoh dan mendidik mereka ke sana?

ide·ol·o·gy /noun/
: the set of ideas and beliefs of a group
: visionary theorizing
: a systematic body of concepts especially about human life

#remajakece #remajautama #mandiri #berani #ideologis


KENDARAAN PERJUANGAN

Oleh: M. Fatan Fantastik

Syahdan, saat pak Dirman memutuskan meninggalkan kota Jogja untuk bergerilya, kondisi fisik beliau amat lemah. Sejak pagi, hanya sedikit makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut. Apalagi Pak Dirman masih dalam kondisi sakit, yang masih memerlukan perawatan khusus. Tapi, tugas perjuangan telah menanti...

Rombongan Pak Dirman terdiri dari dua orang ajudan, seorang dokter pribadi untuk merawat pak Dirman, serta satu kompi pasukan pengawal. Ditambah beberapa orang lainnya yang sebenarnya bukan staf Pak Dirman tetapi tetap memilih ikut.
Rombongan ini menempuh perjalanan dengan berbagai "kendaraan", khususnya bagi Pak Dirman yang sedang sakit. Kadang, beliau ditandu. Bahkan pernah juga menggunakan dokar. Tetapi karena tak ada kuda, jadilah dokar itu ditarik oleh para pengawal. .

Kita tahu, hampir 7 bulan lamanya pak Dirman melakukan perang gerilya melawan penjajah Belanda, dalam kondisi sakit yang membuat payah jiwa dan raga. Dari gunung ke gunung, dari lembah ke lembah, dari kampung ke kampung, para pejuang dan rakyat terus mengumandangkan himbauan: "Pak Dirman ada di tengah-tengah kita!"

Tak main-main. Rute gerilya ini mencapai panjang 1.009 kilometer, yang sebagian besar ditempuh dengan berjalan kaki!

Hingga akhirnya, perjuangan berat itu berbuah. Penjajah Belanda yang kewalahan dipaksa kembali ke meja perundingan. 10 Juli 1949, Pak Dirman kembali ke Yogyakarta. Merdeka!