Selasa, 31 Januari 2017

Berjalan di Atas Ketetapan-Mu




Oleh: Annisa Nurul Santi

Kuserahkan hidup dan matiku
Pada takdir ketetapan-Mu
Mengelak atau menolak
Sungguh aku tak akan mampu
Karena diri ini memang lemah tak berdaya

Aku tahu, meski aku lari dari takdir-Nya
Aku takkan pernah dapat mengelaknya
Aku tahu, meski aku berontak
Tak akan dapat lari dari segala ketetapan-Nya
Kuserahkan hidup dan matiku
Pada takdir ketetapan-Mu
Mengelak atau menolak
Sungguh aku tak akan mampu
Karena diri ini memang lemah tak berdaya

Aku tahu, meski aku lari dari takdir-Nya
Aku takkan pernah dapat mengelaknya
Aku tahu, meski aku berontak
Tak akan dapat lari dari segala ketetapan-Nya

ANAK NAKAL JADI ULAMA #4



Oleh: Ridwan Hidayat 

Setelah Engku Mudo pulang, Malik langsung ditempeleng. Tapi marahnya hanya sesaat, ayahnya terlihat menyesal. Ia mulai bicara dengan lunak kepada Malik. Ayahnya bertanya, sebenarnya apa yang disukai Malik. Malik tak menjawab, hanya diam di sudut rumah. Rasa bosan dan tidak tertarik dengan pelajaran di madrasah selama ini membuat Malik jarang bersekolah. Seperti yang ditulis Hamka dalam Kenang-kenangan Hidup jilid 1, ayahnya tak mengerti jiwa anaknya sama sekali.

Beberapa hari kemudian, Haji Rasul memasukkan Malik kursus bahasa Inggris di malam hari. Di kursus ini ia menemukan sosok guru yang pandai mengajar sehingga mudah menerima pelajaran, tidak seperti guru-guru yang ada di sekolah dan madrasah ayahnya. Sayang, karena si guru bahasa Inggris mendapat penghasilan yang lebih bagus, ia pindah mengajar ke Padang. Kursus yang disukainya berhenti setelah berjalan beberapa bulan.
Meski belajar bahasa Inggris terhenti, ia sudah mempunyai aktivitas yang juga menyenangkan, yaitu seringnya pergi ke penyewaan buku milik Zainuddin Labai, yang juga salah seorang guru favoritnya waktu sekolah diniyah. Ia baca buku-buku terbitan Volkslectuur (kini bernama Balai Pustaka), buku-buku salinan Tionghoa-Melayu, Tiga Panglima Perang, Graaf De Monte Cristo, dan lainnya. Termasuk surat kabar Bintang Hindia yang memuat karangan Dr. A. Riva'i dibacanya juga. Untuk bisa membaca buku tersebut ia harus menyewa lima sen setiap judul selama dua hari. Ketertarikan untuk membaca buku-buku itu membuatnya pintar berhemat uang demi bisa meminjam. Ia bisa menamatkan satu judul dalam satu hari.

Kekurangan biaya menyewa buku tak membuat Malik kehabisan akal. Ia meminta ikut membantu mengelola penyewaan buku itu dengan melipat kertas sampul, membuat perekat, dan membelikan kopi. Setiap tugas yang dikerjakan ia dapat meminjam buku dengan gratis.

Pikiran Malik tentang dunia ini mulai terbuka sejak membaca buku-buku itu. Pernah ia kedapatan sang ayah saat sedang membaca. Agak marah ayahnya dan berkata, “Apakah engkau akan menjadi orang alim nanti ini, atau akan jadi tukang cerita?” Diletakkannya buku itu sebentar, setelah ayahnya pergi, Malik membacanya lagi.

Di masa remaja, ia mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan hati. Perceraian ayah dan ibunya membuat Malik semakin terpukul. Kehadiran ibu Malik selama ini rupanya sangat tidak disukai saudara perempuan ayahnya. Sering kali terjadi pertengkaran antara saudara perempuan ayah dengan ibunya.

Semua Telah Ditetapkan


Oleh: Wahyu Setyawan 

Sejarah telah mencatatnya. Dalam kitab “Ar-Rahiq Al-Makhtum –Sirah Nabawiyah–” karya Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, beliau menuliskannya dalam sebuah bab khusus yakni tahun Kesedihan atau dikenal dengan 'Amul Huzn. Karena keberuntunan ditinggal oleh orang-orang terkasihnya yang menimpa RasuluLlah.

Awal mula kesedihannya, adalah ketika ditinggalkan pamannya –Abu Thalib– orang yang sangat dicintainya. Seorang pembela terdepan terhadap kebenaran yang dibawa RasuluLlah. Pengorbanan dan perlindungan yang diberikan oleh pamannya teramatlah besar. 

Maka, setelah sakit yang dialami Abu Thalib semakin payah, tak lama kemudian Abu Thalib menemui ajalnya. Bulan Rajab tahun 16 dari kenabian, Qadarullah, di akhir hayatnya ia meninggal dalam keadaan kafir.

Setelah dua bulan atau tiga bulan dari wafatnya Abu Thalib, Ummul Mukminin Khadijah Al-Kubra pun wafat. Orang pertama yang beriman dan membenarkan RasuluLlah sebelum ada seorang pun yang beriman kepadanya. Pembelaannya terbukti, dan ia adalah “pendamping yang setia”. Kesedihan demi kesedihan terus berlanjut, dua peristiwa sedih tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif berdekatan, sehingga perasaan sedih dan pilu menyayat-nyayat hati Rasulullah.

Kisah di atas merupakan gambaran tentang sebuah takdir; bagaimana Allah menjalankan takdir-Nya, yang dikehendaki-Nya dan tidak kehendaki-Nya. 

Sebuah pelajaran yang berharga, telah Allah tunjukkan kepada kekasih-Nya; Muhammad ShallaLlahu`alaihi wa Sallam dan kepada kita umat-Nya. Bahwa orang yang dicintai oleh RasuluLlah pun, jika Allah menghendaki pamannya dalam keadaan kafir di penghujung hayatnya, maka hamba-Nya semulia Nabi pun tak mampu mencegah takdir yang Allah tetapkan. Karena ketetapan Allah itu pasti; jika Dia menghendaki-Nya. 

Maka penting, sikap seorang Muslim terhadap ketetapan-Nya. Bagaimana sikap seorang Muslim terhadap ketetapan Allah tersebut? Ya, dengan bersikap yang baik dan mengatakan terhadap takdir Allah, “Qaddarullahu wa ma sya'a fa'ala” (Allah telah menentukan demikian dan apa yang Dia kehendaki pasti akan terjadi).