Selasa, 31 Januari 2017

Semua Telah Ditetapkan


Oleh: Wahyu Setyawan 

Sejarah telah mencatatnya. Dalam kitab “Ar-Rahiq Al-Makhtum –Sirah Nabawiyah–” karya Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, beliau menuliskannya dalam sebuah bab khusus yakni tahun Kesedihan atau dikenal dengan 'Amul Huzn. Karena keberuntunan ditinggal oleh orang-orang terkasihnya yang menimpa RasuluLlah.

Awal mula kesedihannya, adalah ketika ditinggalkan pamannya –Abu Thalib– orang yang sangat dicintainya. Seorang pembela terdepan terhadap kebenaran yang dibawa RasuluLlah. Pengorbanan dan perlindungan yang diberikan oleh pamannya teramatlah besar. 

Maka, setelah sakit yang dialami Abu Thalib semakin payah, tak lama kemudian Abu Thalib menemui ajalnya. Bulan Rajab tahun 16 dari kenabian, Qadarullah, di akhir hayatnya ia meninggal dalam keadaan kafir.

Setelah dua bulan atau tiga bulan dari wafatnya Abu Thalib, Ummul Mukminin Khadijah Al-Kubra pun wafat. Orang pertama yang beriman dan membenarkan RasuluLlah sebelum ada seorang pun yang beriman kepadanya. Pembelaannya terbukti, dan ia adalah “pendamping yang setia”. Kesedihan demi kesedihan terus berlanjut, dua peristiwa sedih tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif berdekatan, sehingga perasaan sedih dan pilu menyayat-nyayat hati Rasulullah.

Kisah di atas merupakan gambaran tentang sebuah takdir; bagaimana Allah menjalankan takdir-Nya, yang dikehendaki-Nya dan tidak kehendaki-Nya. 

Sebuah pelajaran yang berharga, telah Allah tunjukkan kepada kekasih-Nya; Muhammad ShallaLlahu`alaihi wa Sallam dan kepada kita umat-Nya. Bahwa orang yang dicintai oleh RasuluLlah pun, jika Allah menghendaki pamannya dalam keadaan kafir di penghujung hayatnya, maka hamba-Nya semulia Nabi pun tak mampu mencegah takdir yang Allah tetapkan. Karena ketetapan Allah itu pasti; jika Dia menghendaki-Nya. 

Maka penting, sikap seorang Muslim terhadap ketetapan-Nya. Bagaimana sikap seorang Muslim terhadap ketetapan Allah tersebut? Ya, dengan bersikap yang baik dan mengatakan terhadap takdir Allah, “Qaddarullahu wa ma sya'a fa'ala” (Allah telah menentukan demikian dan apa yang Dia kehendaki pasti akan terjadi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar