Selasa, 31 Januari 2017

Terus Melangkah Dalam Berserah



Oleh: Annafi`ah Firdaus 

“Kamu sudah belajar untuk ujian besok pagi?”

“Wah, belum!”

“Kenapa belum? Bukankah jadwalnya mata pelajaran Biologi yang lumayan banyak hafalannya?”

“Kalau aku takdirnya dapat nilai baik, pasti besok bisa mengerjakan. Kalau takdirnya nilainya pas-pasan, mau bagaimana lagi?”

Sobat, pernah dengar percakapan itu? Atau malah pernah melakukannya? Nah, jika seseorang ngaku beriman kepada Allah dan ketetapan takdir dengan benar, pasti nggak akan menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas belajar. Kita memahami takdir, nggak boleh secara setengah-setengah lho. Haruslah secara utuh. Caranya? Di antara caranya adalah lewat membaca buku-buku yang terpercaya maupun bertanya kepada mereka yang punya ilmu.

Yap. Kita harus paham dan yakin bahwa semua yang terjadi di masa lalu dan sekarang pada kita, bahkan kejadian yang akan datang sudah ditulis oleh Allah di Lauh Mahfuzh. Ini adalah ketetapan-Nya. Allah memiliki kehendak terhadap segala sesuatu dan nggak ada sesuatu pun terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Mulai dari hal yang kecil seperti daun jatuh dari tangkainya. Bahkan hal yang sangat besar? Tentu mudah bagi Allah. Seperti mematikan setiap insan dan menghidupkan kembali kelak di hari Kiamat.

Saat memahami Allah berkehendak terhadap segala sesuatu, mungkin ada yang pernah terbesit pertanyaan, “Jika segala sesuatu tergantung kepada kehendak Allah Ta`ala, lalu apa gunanya manusia berkehendak? Apakah manusia tidak mempunyai pilihan dalam melakukan segala sesuatu?” Sehingga, kita yang sesungguhnya nggak tahu apa yang ditulis Allah di Lauh Mahfuzh, sok beralasan takdir dalam melakukan sesuatu. Seperti sok tahu takdir nilai baik atau buruk sehingga malas belajar.

“Ridhailah sesuatu yang berasal dari-Nya, tapi jangan meridhai kemalasan dan keteledoran, karena ia berasal darimu!”
-Ibnu Jauzi-

Allah memang mutlak berkehendak terhadap segala sesuatu. Sedangkan kita nggak tahu apa yang dikehendaki Allah selain setelah terjadi. Nah, pemahaman berikutnya adalah Allah nggak pernah menyuruh hamba-Nya melakukan hal yang buruk sehingga membuatnya celaka. Tetapi senantiasa meminta hamba-Nya berbuat amal shalih sebagai ikhtiar dan usaha. Hasilnya? Itulah kehendak Allah. Kehendak Allah yang terjadi adalah ketetapanNya, meski kita suka ataupun nggak suka.

Jadi, perkara menjadikan alasan takdir karena kehendak Allah atas nilai ujian bahkan cita-cita sehingga berpangku tangan; tidaklah tepat. Allah memerintahkan  kita untuk berusaha sungguh-sungguh dan bekerja keras. Bukan   memerintahkan manusia malas-malasan.

Untuk hal yang musayyar atau manusia tidak punya pilihan menerima atau menolak suatu ketetapan takdir, kelak Allah memang nggak akan meminta pertanggungjawaban kita. Seperti terlahir di Indonesia, warna kulitnya, jenis kelamin, anak dari si fulan bukan falan, dan waktu kelahiran bahkan kematian.

Akan tetapi, untuk hal yang bersifat mukhayyar atau manusia punya pilihan, seseorang nggak boleh menjadikan takdir sebagai alasan. Seperti pilihan menjadi seorang Muslim, pilihan memilih pekerjaan, dan urusan sekolah beserta nilai hasil belajarnya. Kelak, hal-hal yang dapat kita usahakan akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah.

Jadi, bukankah sekolah yang kita lakukan sekarang adalah sesuatu yang bisa kita usahakan untuk dapat takdir yang baik? Allah itu Maha Adil. Sesiapa yang sungguh-sungguh belajar, ia akan mendapatkan hasilnya. Begitu pula, mereka yang malas-malasan, ia akan mendapat balasan-Nya. Bahkan kelak diminta pertanggungjawaban oleh Allah

Sobat, ayo terus melangkah dalam berserah. Meski dalam keadaan susah, payah, dan banyak rintangan. Belajarlah sungguh-sungguh karena Allah. Hasilnya? Kita pasrahkan saja kepada-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar