Selasa, 28 Februari 2017

Bedah Nah di MAN Maguwoharjo





Bahasa ibu kita adalah bahasa Indonesia. Mau tidak mau, kita harus berakrab dengannya. Untuk itulah kegiatan "Bedah Buletin Nah" bareng-bareng diagendakan di MAN Maguwoharjo. Sebanyak 27 siswa yang tergabung dari kelas 10, 11, dan 12 mengikuti agenda ini (24 Februari 2017, jam 10.30-11.30). 

Terima Kasih Ulama

Oleh: Baroroh Itsna R.

Ilmu
Tanpa ilmu, manusia buta
Buta akan kehidupan akhirat dan dunia

Ilmu
Dengan pena
Jadikan pengikatnya

Wahai penuntut ilmu
Ketahuilah dahulu
Ulama menuntut ilmu
Dengan banyaknya cobaan
Itu tidak menjadikan sebuah hambatan

Wahai penuntut ilmu
Ketahuilah dahulu
Ulama menuntut ilmu
Dengan banyaknya tantangan
Itu tidak menjadikan sebuah rintangan

Kini
Ilmu sudah tertata rapi
Dan dapat dikaji

Tanpamu ulama, tiada arti
Karena ilmumu sungguh berarti


Terima kasih Ulama

----
*Naskah lolos kusen per 24 Februari 2017

Kamis, 23 Februari 2017

MEMBACA KISAH DI WONOGIRI



 Kisah senantiasa menarik. Apalagi untuk anak-anak. Tapi, ada PR besar dunia literasi hari ini. Sudahkah kita dan orang terdekat membaca kisah yang sahih? Kisah yang benar-benar isinya tidak dusta. Tidak pula mengajarkan hal-hal yang justru merusak.

Maka, Alhamdulillah dengan izin Allah, tim Buletin Nih kembali "mendarat" di Wonogiri (18/2/2017). Tepatnya di SD N Kepuhsari. Sebanyak 28 siswa yang tergabung antara kelas 4 dan 6 mengikuti dengan antusias. Kegiatan diawali dengan peserta membaca kisah. Setelah itu peserta diajak pendamping untuk melakukan kuis atas bacaan yang dibaca.


Di akhir kegiatan, seorang peserta menuliskan di lembar evaluasi bahwa kolom Buletin Nih yang disukai adalah kisah. "Karena saya suka mendengar cerita," tulisnya


Sang Penuntut Ilmu


Oleh: Ja`far Shidiq

Kau seorang penuntut ilmu
Ilmu yang  bermanfaat
Yang kau tulis dengan tintamu
Yang selalu membasahi  bukumu

Ilmu yang kau pelajari
Bukan ilmu kesesatan
Tetapi ilmu keberkahan

Ilmu itu kau ajarkan
Kepada suatu umat
Umatnya Nabi Muhammad

Semua itu dengan niat karena-Nya
Karena, dapat menghantarkan ke surga
Surga Alllah Ta’ala

Rabu, 22 Februari 2017

GALERI FOTO BEDAH BULETIN NIH

BEDAH NIH DI SD N KEPUHSARI 
Jum`at, 13 Januari 2017 
Pukul: 09.00 - 10.15 
Peserta: Kelas 4, 5, dan 6 sebanyak 38 siswa. 




 Peserta cukup antusias. Terbukti, kesediaan mereka untuk berani membaca puisi di depan kelas.

Raih Surga, dengan membaca!


 -------

BEDAH NIH DI SD WIDORO
Selasa, 24 Januari 2017
Jam 12.15 - 12.50
Peserta: 14 Siswa kelas 4





-----
BEDAH NIH SD N SELOMULYO
Rabu, 25 Januari 2017
Jam: 12.00-13.00
Peserta: 24 siswa kelas 5




-----

BEDAH NIH DI SD MUHAMMADIYAH  BALECATUR
Senin, 31 Januari 2017
Jam 11.00-11.30
Peserta: 27 siswa kelas 6





Untukmu Yang Berjiwa Hanif



Oleh: M. Chazim

Untukmu yang berfitrah lurus dan berhati bersih
Yang selalu menjaga kesucianmu dengan iman
Untukmu yang dalam pencarian Islam yang hakiki
Tidak berhak kita cari agama yang lain kecuali Islam sendiri
Untukmu yang haus menempuh ilmu Al-Qur’an dan as-Sunnah
Sungguh, Al-Qur’an adalah obat bagi jiwa yang gersang, penenteram bagi hati-hati yang gundah gulana

Untukmu yang hendak menggapai kejayaan dan masa keemasan
Teruslah menuntut ilmu, karena dengan ilmu engkau pasti jaya
Untukmu yang selalu haus akan nilai-nilai kebenaran
Amalkanlah kebenaran-kebenaran yang sudah engkau peroleh

Untukmu yang ingin meniti jalan generasi Islam terbaik, generasi sahabat
Janganlah goyah dengan jalan yang lain
Untukmu yang takut tergoda rayuan setan dan kelompok menyimpang
Berdo’alah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh

Untukmu yang berjiwa lurus dan hanif
Teruslah luruskan niatmu karena-Nya
Bersabarlah dalam menggapai ilmu
Karena ‘kesabaran’ sebagai elemen penting dalam mencari ilmu

.

Selasa, 21 Februari 2017

Tepung dan Garam

Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Kamu pernah membuat roti? Apa bahan dasar yang dibutuhkan? Tentu yang utama adalah tepung. Sedangkan bumbu rasanya adalah garam. Ukuran jumlah tepung dan garam yang dicampur pun tidak sembarangan. Untuk membuat roti yang enak dan bergizi, kita butuh tahu caranya. Apalagi, untuk membuat hidup kita sukses. Semua ada ilmu dan caranya.

Nah, ibaratkan tepung, ia adalah adab dan akhlak kita. Sedangkan garam adalah amal perbuatan. Mana yang lebih banyak? Tepung atau garam? Jelas tepung. Kita sudah tahu kalau memasak terlalu banyak garam akan sangat asin, bahkan menyebabkan penyakit. Begitu pula diri kita. Punya adab dan akhlak yang baik jauh lebih utama dibandingkan punya amalan yang banyak tetapi tidak berakhlak dan beradab yang baik.

“Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”

-Ibnu al-Mubarak-
                Lalu, apa yang harus dilakukan agar jadi manusia beradab dan berakhlak? Dituliskan dalam buku “Ensiklopedi Adab Islam” tulisan `Abdul `Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada adalah dengan melaksanakan seluruh perintah Allah, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah. Meninggalkan seluruh laranganNya, baik yang haram ataupun makruh.

Sebagai contoh, adab kita sebagai seorang anak kepada orang tua. Salah satunya adalah senantiasa berbicara dengan lembut di hadapan mereka. Dituliskan dalam Al-Qur`an Surat Al-Isra` ayat 23, “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Maka, hal ini penting untuk kita perhatikan yaitu salah satu adab yang utama agar kita sukses di dunia apalagi di akhirat. Karena apa? Janganlah sampai ada di antara kita yang berprestasi di sekolah tapi masih sering tidak hormat kepada orang tua. Apalagi masih menyepelekan adab kepada guru dengan masih tidak serius memperhatikan ketika diterangkan pelajaran. Sungguh Sobat, adab kita lebih utama dibanding punya ilmu yang tinggi. Lalu, bagaimana kalau punya dua-duanya? Tentu, itu sangat dan sangat jauh lebih utama. 

Kamis, 16 Februari 2017

Ikuti Aku


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Fisik yang kuat pasti didambakan oleh semua orang. Lebih lagi, ketika fisik kuat diimbangi dengan ilmu yang mendalam. Apalagi jika didasari dengan iman yang kokoh tidak tergoyahkan.

            Banyak cara untuk menjadikan seseorang, khususnya anak-anak untuk memiliki fisik yang kuat. Menjadikan mereka tidak rapuh di saat usianya  menginjak dewasa. Perlu sebuah persiapan yang   berulang. Bukan sekadar kegiatan musiman atau bahkan disepelekan yang menjadikan pembentukan fisik ditinggalkan.

            Akan tetapi perlu dicermati juga untuk para pendidik dan para orang tua. Apa-apa yang kalian ajarkan, pastikan itu bermanfaat bagi mereka. Lebih utama lagi jika apa yang kalian ajarkan sesuatu yang sudah ada contohnya. Sebuah contoh jika diikuti akan timbul banyak kebaikan pada segi proses maupun hasil.

            Bicara masalah contoh. Ada teladan terbaik yang bisa dijadikan referensi utama. Dia adalah seorang lelaki utusan Allah yang tidak ada keraguan atas dirinya. Muhammad Shallallu ‘alaihi wa Sallam, teladan yang mendapat penjagaan langsung dari Allah Ta’ala. Apa penjagaannya? Banyak. Satu di antara contohnya saat beliau berjanji kepada orang Quraisy untuk memberikan jawaban atas tiga pertanyaan mereka. Mereka bertanya tentang pemuda-pemuda yang hidupnya di masa lampau yang kisahnya menakjubkan, lalu seorang lelaki yang telah menjelajahi bumi dari barat hingga ke timur, dan terakhir tentang roh. Lalu Rasulullah mengatakan, “Aku akan beri kalian jawabannya besok.” Rasulullah melupakan satu hal, beliau lupa mengatakan In Sya Allah.

            Dari kejadian itu Allah berikan teguran kepada Rasulullah. Allah tunda pengutusan Jibril untuk menyampaikan jawaban atas pertanyaan Quraisy. Jibril baru diutus saat janji itu  sudah mencapai lima belas hari. Dan di situlah Allah mengingatkan Rasul-Nya. Allah sendiri yang menegur beliau. Sehingga beliau tetap terjaga dari kesalahan.

            Ketika kita sudah meyakini kebenaran Rasulullah, pastilah apa-apa yang datangnya dari beliau itu utama. Lebih utama jika kita ikuti. Termasuk dalam urusan pembentukan fisik anak didik kita. Rasulullah pun pernah berbicara masalah ini. Beliau berikan banyak solusi agar anak-anak kaum muslimin menjadi tentara-tentara Allah yang tangguh. Kuat imannya, ilmu,  serta fisiknya.

            Bapak ibu pendidik lihatlah Rasulullah di sana. Beliau tengah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan anak-anak yang lain dari cucu-cucu Abbas radhiyallahu anhum. Saat semua sudah siap beliau katakan, “Siapa yang bisa sampai kepadaku terlebih dahulu, maka dia akan mendapat hadiah demikian dan demikian!”

            Mendengar kalimat Rasulullah, anak-anak yang sudah berbaris itu langsung memenuhi tantangan beliau. Mereka mulai berlari, beradu cepat ke arah beliau. Coba lihatlah sekali lagi, ada yang memeluk punggung Rasulullah, ada pula yang memeluk dada beliau. Rasul pun langsung menciumi mereka, bukan hanya yang menang, tapi semua mendapat ciuman dari beliau.

            Bagaimana bapak ibu pendidik? Beliau teladan utama, pendidik yang mengajarkan kepada kita satu di antara cara untuk menjadikan anak-anak kuat  fisiknya, yaitu dengan mengadakan perlombaan untuk mereka. Mereka ditantang  untuk menang dan memberikan  hadiah bagi para pemenang. Selain tubuh mereka akan sehat, kasih sayang yang tulus dari beliau juga mereka dapatkan. Jika apa yang Rasulullah ajarkan itu dilakukan, maka akan bertambahlah cinta anak kepada pendidiknya.

----- 

*Naskah lolos Kusen per 10 Februari 2017 

           

Rabu, 15 Februari 2017

INILAH RIDHA MANUSIA

Oleh: Muhammad Chazim

Aku tertawa
Mereka berkata, “Kenapa tidak malu?”
Aku menangis
Mereka berkata, “Kenapa tidak senyum?”
Aku tersenyum
Mereka berkata, “Ini senyum pamer.”
Aku cemberut
Mereka berkata, “Tampaklah yang disembunyikan.”
Aku diam
Mereka berkata, “Tidak bisa bicara.”
Aku bicara
Mereka berkata, “Banyak omong.”
Aku lembut
Mereka berkata, “Pengecut dan licik.”
Aku keras
Mereka berkata, “Ini emosi.”
Aku menolak   
Mereka berkata, “Tidak kompak.”
Aku setuju
Mereka berkata, “Ikut-ikutan saja.”
Terus mana yang benar??
Itulah ridha manusia
Rugi andai jadi tujuan utama


TERUS MELANGKAH DALAM BERSERAH


Oleh: Annafiah Firdaus 

“Kamu sudah belajar untuk ujian besok pagi?”

“Wah, belum!”

“Kenapa belum? Bukankah jadwalnya mata pelajaran Biologi yang lumayan banyak hafalannya?”

“Kalau aku takdirnya dapat nilai baik, pasti besok bisa mengerjakan. Kalau takdirnya nilainya pas-pasan, mau bagaimana lagi?”

Sobat, pernah dengar percakapan itu? Atau malah pernah melakukannya? Nah, jika seseorang ngaku beriman kepada Allah dan ketetapan takdir dengan benar, pasti nggak akan menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas belajar. Kita memahami takdir, nggak boleh secara setengah-setengah lho. Haruslah secara utuh. Caranya? Di antara caranya adalah lewat membaca buku-buku yang terpercaya maupun bertanya kepada mereka yang punya ilmu.

Yap. Kita harus paham dan yakin bahwa semua yang terjadi di masa lalu dan sekarang pada kita, bahkan kejadian yang akan datang sudah ditulis oleh Allah di Lauh Mahfuzh. Ini adalah ketetapan-Nya. Allah memiliki kehendak terhadap segala sesuatu dan nggak ada sesuatu pun terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Mulai dari hal yang kecil seperti daun jatuh dari tangkainya. Bahkan hal yang sangat besar? Tentu mudah bagi Allah. Seperti mematikan setiap insan dan menghidupkan kembali kelak di hari Kiamat.

Saat memahami Allah berkehendak terhadap segala sesuatu, mungkin ada yang pernah terbesit pertanyaan, “Jika segala sesuatu tergantung kepada kehendak Allah Ta`ala, lalu apa gunanya manusia berkehendak? Apakah manusia tidak mempunyai pilihan dalam melakukan segala sesuatu?” Sehingga, kita yang sesungguhnya nggak tahu apa yang ditulis Allah di Lauh Mahfuzh, sok beralasan takdir dalam melakukan sesuatu. Seperti sok tahu takdir nilai baik atau buruk sehingga malas belajar.

“Ridhailah sesuatu yang berasal dari-Nya, tapi jangan meridhai kemalasan dan keteledoran, karena ia berasal darimu!”
-Ibnu Jauzi-

Allah memang mutlak berkehendak terhadap segala sesuatu. Sedangkan kita nggak tahu apa yang dikehendaki Allah selain setelah terjadi. Nah, pemahaman berikutnya adalah Allah nggak pernah menyuruh hamba-Nya melakukan hal yang buruk sehingga membuatnya celaka. Tetapi senantiasa meminta hamba-Nya berbuat amal shalih sebagai ikhtiar dan usaha. Hasilnya? Itulah kehendak Allah. Kehendak Allah yang terjadi adalah ketetapanNya, meski kita suka ataupun nggak suka.

Jadi, perkara menjadikan alasan takdir karena kehendak Allah atas nilai ujian bahkan cita-cita sehingga berpangku tangan; tidaklah tepat. Allah memerintahkan  kita untuk berusaha sungguh-sungguh dan bekerja keras. Bukan   memerintahkan manusia malas-malasan.

Untuk hal yang musayyar atau manusia tidak punya pilihan menerima atau menolak suatu ketetapan takdir, kelak Allah memang nggak akan meminta pertanggungjawaban kita. Seperti terlahir di Indonesia, warna kulitnya, jenis kelamin, anak dari si fulan bukan falan, dan waktu kelahiran bahkan kematian.
Akan tetapi, untuk hal yang bersifat mukhayyar atau manusia punya pilihan, seseorang nggak boleh menjadikan takdir sebagai alasan. Seperti pilihan menjadi seorang Muslim, pilihan memilih pekerjaan, dan urusan sekolah beserta nilai hasil belajarnya. Kelak, hal-hal yang dapat kita usahakan akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah.

Jadi, bukankah sekolah yang kita lakukan sekarang adalah sesuatu yang bisa kita usahakan untuk dapat takdir yang baik? Allah itu Maha Adil. Sesiapa yang sungguh-sungguh belajar, ia akan mendapatkan hasilnya. Begitu pula, mereka yang malas-malasan, ia akan mendapat balasan-Nya. Bahkan kelak diminta pertanggungjawaban oleh Allah.


Sobat, ayo terus melangkah dalam berserah. Meski dalam keadaan susah, payah, dan banyak rintangan. Belajarlah sungguh-sungguh karena Allah. Hasilnya? Kita pasrahkan saja kepada-Nya.

Sumber: Buletin Nah 44

Selasa, 14 Februari 2017

ILMU DULU, BARU AMAL



Kita pingin memperbaiki radio atau televisi. Kalau kita nggak tahu caranya, bisa-bisa jadi tambah rusak. Kejadian deh. Terima bongkar, nggak terima pasang. Dan akhirnya, terima buang.

Inilah pentingnya ilmu. Ia harus ada sebelum beramal. Ilmu pengetahuan itu menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah. Menjelaskan mana yang dicontohkan Nabi (Sunnah) dan mana yang nggak dicontohkan Nabi (Bid`ah). Betapa pentingnya ilmu. Sekadar memperbaiki televisi atau radio saja butuh ilmu. Apalagi “memperbaiki” hidup kita? Jelas-jelas butuh ilmu.

Selamat menempa diri dengan ilmu!!!

#bbsc #ilmu #belajar 

HAJI

Sumber: KabarMakkah.com 
Oleh: Zakiy Zakarya Ali 

Apabila diriku telah mampu
Cukup hartaku
Kuat badanku
Ingin sangat kupenuhi panggilan-Mu
Panggilan ke rumah-Mu

Haji karena-Mu
Ialah mengelilingi Ka`bah-Mu
Memuji nama-Mu
Berkurban untuk-Mu

Haji, amalan yang mulia
Yang dapat menebus dosa
Penghantar ke surga
Surga, Allah Ta'ala


BERCITA-CITA HAJI

Sumber: KabarMakkah.com

Oleh: Fajar Yunan Fanani

Siapa yang ingin naik haji? Silahkan angkat tangan! Tentu saja semuanya ingin naik haji. Lalu, haji itu apa? Saya jelaskan di bawah ini ya. Semoga Sobat menjadi tahu dan punya cita-cita berhaji.

Haji adalah mengunjungi Ka'bah untuk beribadah kepada Allah. Hukum ibadah haji adalah wajib bagi orang muslim, yang baligh, berakal, dan mampu. Sudah banyak orang yang berhaji lho baik dari orang tak berpunya harta sampai yang kaya. Apalagi yang muda sampai yang tua.

Dan ternyata, sebagian besar mereka yang bukan orang kaya, berhaji tidak karena mereka mendapatkan hadiah dari orang lain. Tetapi bisa berhaji karena di dalam hatinya sudah ada niat yang kuat untuk berhaji. Mereka rela menyisihkan uangnya setiap hari hanya untuk tabungan naik haji. Siang bekerja keras. Malam bangun untuk berdoa. Dengan izin Allah, akhirnya mereka bisa melaksanakan ibadah haji.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah punya impian pingin ke Makkah dan berhaji? Minimal kita punya cita-cita bisa berhaji pada umur berapa ya. Untuk lebih jelasnya, silahkan Sobat siapkan alat tulis. Kita akan menulis cita-cita. Sudah siap?

CITA-CITAKU
Nama                    : ________________
Sekolah                : ________________
Waktu lahir         : ________________
Umur ingin haji : ________________

Sudah selesai menuliskan tentang cita-citamu? Sesungguhnya, punya niat yang baik itu tidak mahal harganya. Salah satunya punya cita-cita berhaji.

Ada yang tau, kenapa kita harus punya cita-cita berhaji? Rasulullah pernah bersabda, “Putra saudaraku, sesungguhnya pada hari ini, sesiapa yang dapat menguasai pendengarannya, penglihatannya, dan lidahnya, dia pasti diampuni. Yaitu hari Arafah.” (HR. Ahmad)

Yap. Salah satu hal penting yang dilakukan saat haji adalah wuquf di Arafah. Dan apabila cita-cita berhaji terwujud, dengan izin Allah segala dosa diampuni oleh Allah. Bahkan jaminannya sesiapa yang haji karena Allah adalah surga.

Selamat mempersiapkan diri dari sekarang untuk berhaji ya!

Sumber: Buletin Nah #14

Selasa, 07 Februari 2017

ULAMA MUDA



Oleh: Chazim at-Temanggungi 

Sobat ingin jadi orang berilmu? Sebenarnya tidak sulit, asalkan ilmu yang telah Sobat dapatkan berusaha untuk diamalkan. Allah pun akan memudahkan untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru. Nah, tokoh kali ini memberikan teladan kepada kita bagaimana menggapai ilmu. Kisah ini diambil dari buku “Masa Kecil Para Ulama” karya Abu Umar Abdillah Masa Kecil Silahkan disimak ya! 

Ia bernama Sahl bin Abdullah. Lahir di Tustar sekitar tahun 200 H. Di samping pintar dan cerdas, ia juga rajin beribadah. Bahkan sejak umur tiga tahun, Sahl sudah terbiasa menjalankan Shalat Tahajud. Hebat ya? 

Saat usia lima tahun, Sahl banyak menjalankan puasa sunnah seperti puasa Senin dan Kamis. Puasa Ramadhannya pun penuh. 

Di usia sembilan tahun (kira-kira kelas 3 atau kelas 4 SD), Sahl mulai mengembara untuk menuntut ilmu. Ia berjalan ke tempat-tempat para ulama yang jauh dari rumahnya. Rajin beribadah dan belajar membuat Sahl seolah menjadi anak ajaib. Umur enam tahun, Sahl pun sudah mampu menghafal Al-Qur'an.

Sejak kecil, Sahl juga rajin menulis. Ia rajin mencatat pelajaran yang didapatkan dari gurunya. Ia juga menulis untuk dibaca orang lain. Pena dan tinta tidak pernah lepas dari saku bajunya.

Sahl pernah ditanya, “Sampai kapan seseorang menulis ilmu?” Ia menjawab, “Hingga meninggal, lalu sisa tintanya dimasukkan ke dalam kuburnya.” Itulah jawaban yang menunjukkan tekad Sahl untuk terus belajar, membaca dan menulis.

Yang istimewa lagi, tingginya ilmu tidak membuat Sahl ujub atau sombong. Karena tujuan mencari ilmu itu untuk diamalkan, bukan untuk dipamerkan.

Beliau pernah mengatakan bahwa: “Orang yang bodoh itu ibarat mayit, orang yang lupa seperti orang yang tidur dan orang yang bermaksiat seperti orang mabuk.” Adakah Sobat yang ingin mengikuti jejak ulama muda ini?               

Sumber: Naskah Nih #14

Teman Dunia, Teman Surga




Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Temanmu yang tulus adalah orang yang mau memaafkan kesalahanmu, menerima maafmu, dan menasihatimu secara tertutup. Jika kamu bersahabat dengan orang seperti ini, ia akan membuatmu bahagia. Jikalau  berpisah dengannya, ia akan membuatmu bersedih. 

Kamu sudah punya teman seperti ini? Saudara yang berteman denganmu karena Allah. Bukan karena kamu punya harta yang banyak, atau karena tampan dan cantik wajahmu. Tetapi ia mencintaimu sehingga pinginnya ketemu di surga dan kelak tinggal bertetangga di sana. 

Sekarang, mari dengarkan nasihat kepada siapa seharusnya berteman dari seorang ulama besar bernama Imam Syafi`i. Beliau pernah berkata, “Temanilah orang-orang mulia, niscaya kau hidup mulia. Jangan pergauli orang hina sehingga kau ikut menjadi hina.” 

Perumpamaan lainnya begini. Punya saudara penjual minyak wangi? Kalau kamu memang punya saudara penjual minyak wangi dan selalu bersamanya pasti akan tertular baunya minyak wangi. Tapi, kalau kamu punya teman penjual minyak bensin, pasti pakaianmu akan bau bensin jika dekat dengannya. 

Nah, ini seperti halnya nasihat Imam Syafi`i. Sesiapa yang berteman baik dengan orang-orang yang berakhlak baik, ia akan tertular akhlak yang baik. Tetapi, kalau berteman dengan yang berakhlak buruk, ia akan terpengaruh pula dengan akhlak buruk. 

                Sebagai contoh, yang semoga tidak terjadi pada kamu. Sebut saja namanya A. Si A suka berteman baik dengan orang yang suka mencontek saat ujian. Karena si A terpengaruh saat diajak mencontek demi nilai tinggi, akhirnya si A pun ikut mencontek. Ini bermula dari memilih teman yang buruk akhlaknya. 

                Lain halnya misal dengan si B. Ia memiliki teman yang apabila berbicara tidak pernah kasar, tepat janji bila berjanji, dan senantiasa jujur dalam keadaan apapun. Suatu kali si B pernah membuat kesalahan yang sebenarnya itu adalah aib. Maka, teman tadilah yang memberi nasihat. Teman yang ingin si B tetap dalam kebaikan. Cara menasihatinya pun dengan cara yang santun, dan tidak menyebarkan aib si B. Inilah teman yang mengajaknya untuk taat kepada Allah. Teman yang harus kita pilih sebagai teman karena pinginnya besok reuni di surga. 

“Seorang di antara kalian tidak beriman jika belum bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”
(Muhammad saw.)

Sumber:
  1. Al-Bugha, Musthafa Dieb, 2012, Al-Wafi Syarah Kitab Arba`in An-Nawawiyah, Jakarta: Al-I`tishom.
  2. Suwaidan, Tariq, 2007, Biografi Imam Syafi`i, Jakarta: Zaman.