Selasa, 07 Februari 2017

Teman Dunia, Teman Surga




Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Temanmu yang tulus adalah orang yang mau memaafkan kesalahanmu, menerima maafmu, dan menasihatimu secara tertutup. Jika kamu bersahabat dengan orang seperti ini, ia akan membuatmu bahagia. Jikalau  berpisah dengannya, ia akan membuatmu bersedih. 

Kamu sudah punya teman seperti ini? Saudara yang berteman denganmu karena Allah. Bukan karena kamu punya harta yang banyak, atau karena tampan dan cantik wajahmu. Tetapi ia mencintaimu sehingga pinginnya ketemu di surga dan kelak tinggal bertetangga di sana. 

Sekarang, mari dengarkan nasihat kepada siapa seharusnya berteman dari seorang ulama besar bernama Imam Syafi`i. Beliau pernah berkata, “Temanilah orang-orang mulia, niscaya kau hidup mulia. Jangan pergauli orang hina sehingga kau ikut menjadi hina.” 

Perumpamaan lainnya begini. Punya saudara penjual minyak wangi? Kalau kamu memang punya saudara penjual minyak wangi dan selalu bersamanya pasti akan tertular baunya minyak wangi. Tapi, kalau kamu punya teman penjual minyak bensin, pasti pakaianmu akan bau bensin jika dekat dengannya. 

Nah, ini seperti halnya nasihat Imam Syafi`i. Sesiapa yang berteman baik dengan orang-orang yang berakhlak baik, ia akan tertular akhlak yang baik. Tetapi, kalau berteman dengan yang berakhlak buruk, ia akan terpengaruh pula dengan akhlak buruk. 

                Sebagai contoh, yang semoga tidak terjadi pada kamu. Sebut saja namanya A. Si A suka berteman baik dengan orang yang suka mencontek saat ujian. Karena si A terpengaruh saat diajak mencontek demi nilai tinggi, akhirnya si A pun ikut mencontek. Ini bermula dari memilih teman yang buruk akhlaknya. 

                Lain halnya misal dengan si B. Ia memiliki teman yang apabila berbicara tidak pernah kasar, tepat janji bila berjanji, dan senantiasa jujur dalam keadaan apapun. Suatu kali si B pernah membuat kesalahan yang sebenarnya itu adalah aib. Maka, teman tadilah yang memberi nasihat. Teman yang ingin si B tetap dalam kebaikan. Cara menasihatinya pun dengan cara yang santun, dan tidak menyebarkan aib si B. Inilah teman yang mengajaknya untuk taat kepada Allah. Teman yang harus kita pilih sebagai teman karena pinginnya besok reuni di surga. 

“Seorang di antara kalian tidak beriman jika belum bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”
(Muhammad saw.)

Sumber:
  1. Al-Bugha, Musthafa Dieb, 2012, Al-Wafi Syarah Kitab Arba`in An-Nawawiyah, Jakarta: Al-I`tishom.
  2. Suwaidan, Tariq, 2007, Biografi Imam Syafi`i, Jakarta: Zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar