Kamis, 30 Maret 2017

JANGAN HANYA CERITA KANCIL!

Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Judul                  : Kisah Para Nabi Untuk Anak Jilid 1 dan 2
Pengarang          : Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi
Penerbit             : Robbani Press
Tahun Terbit      : 2001

“Wahai anak saudaraku yang budiman!”

“Saya melihat engkau dan anak seusiamu sangat antusias terhadap cerita dan hikayat. Engkau mendengar dan membaca kisah-kisah atau cerita-cerita tersebut dengan senang. Namun saya merasa prihatin karena saya melihat apa yang ada di tanganmu tidak lain hanyalah cerita-cerita kucing, anjing, singa, serigala, monyet, serangga, kancil dan buaya, dan lain-lain. Kita harus hati-hati dalam masalah ini. Namun, itulah yang engkau dapati selama ini.”

Kegundahan itu disampaikan pengarang kitab ini dalam sebuah mukadimahnya. Penulis kitab ini, Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi merasa prihatin atas bacaan yang setiap saat dibawa oleh anak-anak kaum muslim. Mereka tertarik dengan kisah, tapi hanya kisah yang dibuat-buat oleh manusia, yang kebenarannya dipertanyakan.

Dalam mukadimahnya Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi melanjutkan, “Engkau telah belajar bahasa Arab, karena ia adalah bahasa Al-Qur’an , rasul, dan bahasa agama, dan engkau pun sangat senang mempelajarinya. Tapi saya merasa malu karena engkau tidak mendapatkan cerita-cerita berbahasa Arab yang sesuai dengan umurmu kecuali cerita-cerita hewan, bohong dan khurafat.”

Inilah yang mendorong penulis untuk bersegera membuat sebuah karangan tipis, dan yang ditujukan untuk anak-anak. Penulis mengumpulkan kisah-kisah shahih yang langsung merujuk pada sumber terpercaya, khususnya kisah para nabi dan rasul. Kitab yang cukup sederhana ini berjudul “Qishashun Nabiyyina lil-Athfal” dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kisah Para Nabi Untuk Anak” yang terdiri dari dua lilid, dan diterbitkan oleh Robbani Press. Meskipun pada judul kitab tertulis untuk anak, juga tidak ada larangan jika orang dewasa ikut membacanya.

Dalam kitab ini penulis seakan membuat sebuah alur untuk menanamkan keimanan kepada anak-anak kaum muslimin. Maka tidak semua nabi dan rasul ada pada kitab ini, penulis memilih beberapa nabi dan rasul saja. Penulis memulai dengan kisah seorang nabi yang menentang penyembahan berhala, serta dalam kisah itu disebutkan nabi ini menghancurkan berhala-berhala sehingga ia harus dihukum dengan dibakar. Dialah Ibrahim ‘Alaihissalam.

Berikutnya Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi melanjutkan dengan kisah Nabi Yusuf, yang selama perjalanan hidupnya dipenuhi banyak cobaan. Mulai dari dimasukkan ke dalam sumur, menjadi budak, mendapat fitnah, dan penjara. Namun akhirnya, beliau menjadi orang mulia. Penulis melanjutkan dengan kisah Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Shaleh, yang ketiganya harus berdakwah kepada kaum yang menyekutukan Allah. Mereka harus mendapatkan banyak caci maki dari kaumnya. Namun di akhir kisah ketiga nabi ini, Allah tunjukkan kuasanya bahwa orang-orang durhaka itu dibalas dengan siksaan yang sangat pedih, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah akhir dari jilid 1 dalam kitab ini.

Sedangkan pada jilid dua, penulis tunjukkan berbagai jenis dakwah para nabi. Mereka memiliki tantangan yang berbeda-beda. Mulai dari Nabi Musa, Nabi Syu’aib, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub, Nabi Yunus, Nabi Zakariya dan Nabi Yahya, dan terakhir Nabi Isa. Nabi-nabi itu ada yang diuji dengan kekuasaan, kaum yang membangkang, penyakit, bahkan ujian keturunan.

Kedua jilid kitab ini, ditulis Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi dengan bahasa yang begitu ringan. Kalimatnya diulang-ulang dan sederhana, karena memang buku ini fokus untuk anak-anak. Saya ambil contoh dalam sebuah pembahasan pada kisah Nabi Ibrahim. Tertulis di kitab itu, “Pada saat itu Ibrahim marah, lalu mengambil kapak. Ibrahim memukul berhala-berhala itu dengan kapak itu dan memecahkannya. Ibrahim hanya menyisakan berhala yang terbesar dan mengalungkan kapak itu pada lehernya.” Coba perhatikan, berapa kali penulis mengulang kata Ibrahim dalam satu paragraf? Ya, tiga kali. Itu menunjukkan penulis memperhatikan benar pengulangan supaya mudah difahami.

Selain itu penulis juga cerdas dalam mengombinasikan ayat-ayat Qur’an dengan cerita yang disuguhkan. Baik itu mengutip secara langsung, atau penulis masukkan dalam dialog antar tokohnya.  Seakan semua dapat menyatu dan mengalir saat dibaca.

Hanya saja, dalam kitab “Kisah Para Nabi Untuk Anak” ini, tidak cukup detail. Pembahasannya tidak mendalam. Sehingga jika pembaca menginginkan data lebih lengkap, kitab ini belum menyuguhkan apa yang pembaca harapkan. Kalau boleh saya katakan, kitab ini bisa menjadi gambaran umum untuk kita memahami kisah-kisah para nabi. Jika mau lebih detail dapat merujuk di kitab lain.

Jadi, saya rasa hal itu bukan persoalan untuk menjadikan buku ini berada di tiap-tiap rumah anak-anak kaum muslim. Sebagaimana penulis Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi mengatakan, “Saya berharap buku tipis ini merupakan buku pertama yang dibaca oleh anak-anak kaum muslim dan mereka pelajari di sekolah-sekolah.” Karena di dalamnya dipenuhi kisah-kisah orang mulia, maka dengan membacanya kita berharap bisa menjadi orang-orang yang mulia pula.

Bapak Kayu

Oleh: Muhammad Fakih

Seseorang yang mulia
Bukan orang yang biasa
Penyeru di jalan-Nya
Nabi Nuh namanya

Sebuah kaum telah mendustakan
Tidak mau menerima kebaikan
Sebuah peringatan telah disampaikan
Akan azab yang mengerikan

Perintah membuat bahtera dilaksanakan
Untuk menyelamatkan manusia beriman
Termasuk ciptaannya para hewan

*Naskah Lolos Kusen (Kumpulan Seneng Nulis), per 24 Maret 2017 


Selasa, 28 Maret 2017

TIDURMU, KESUKSESANMU!

Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Kalau  pingin tahu pola hidup seseorang, lihat saja dari kebiasaan tidurnya. Kalau kita pingin punya hidup tidak berantakan, mulailah dari mengatur jam tidur. Kenapa? Karena, tidur yang benar dan jumlah jamnya tepat, sangatlah berpengaruh pada produktivitas seseorang.

Ada orang yang bisa jadi sangat susah tidur di malam hari (insomnia) hingga akhirnya di waktu pagi tertidur pulas. Waktu paginya pun terlewat begitu saja. Padahal pagi adalah permulaan dan keberkahan. Apalagi jika mampu bangun di waktu sepertiga malam. Ia berdiri menghadap Allah dan menguatkan tekad agar semakin hari semakin baik.

Dan sesungguhnya semakin kita memahami Islam yang rahmatan lil`alamin, Islam yang menganjurkan tidak begadang, ada begitu banyak hikmahnya. Islam meminta setiap hambaNya untuk memberikan hak pada tubuh untuk istirahat yang cukup. Lantas, bagaimana menurut Islam waktu tidur yang baik? Ialah setelah shalat Isya. Diriwayatkan dari Abu Barzah bahwa Rasulullah ShallaLlaahu `Alaihi wa Sallam tidak suka tidur sebelum shalat Isya.

Adakah yang masih punya kebiasaan tidur larut malam? Yang dengannya malah jadi terlambat shalat Shubuh? Mari kita bareng-bareng bahas tentang hikmah kenapa Rasulullah ternyata menganjurkan tidak tidur larut malam (kecuali alasan syar`i seperti menuntut ilmu). Kita awali dengan membahas melatonin. Satu hormon penting yang diproduksi oleh kelenjar di otak.

Dua di antara fungsi hormon melatonin adalah sistem imunitas tubuh dan pemegang jam biologis. Melatonin sangatlah penting karena ia memacu produksi zat-zat kekebalan tubuh semacam sel darah putih. Melatonin juga memegang jam biologis tidur seseorang. Gampangnya, seperti orang yang terbiasa tidur jam 20.00 dan bangun 04.00 pagi, maka itulah jam biologisnya. Ketika seseorang tiba-tiba diminta tidur jam 19.00 dan bangun jam 03.00, maka ia akan perlu waktu untuk berubah.

Nah, apa hubungannya larut malam dan melatonin? Dituliskan dalam buku “Super Health”, buku yang membahas tentang gaya hidup sehat Rasulullah, melatonin diproduksi optimal pada waktu setelah matahari terbenam sampai puncaknya jam 02.00 – 03.00. Produksi melatonin akan terganggu ketika adanya cahaya. Termasuk cahaya lampu. Apalagi cahaya televisi yang bisa jadi masih menyala hingga larut malam.  

Betapa Islam itu sempurna. Masalah tidur ada teladan dari manusia termulia. Islam menginginkan pemeluknya hidup bahagia dan kuat. Ia ingin pemeluknya tidak menyia-nyiakan waktu dengan selalu berkarya. Berkarya di dunia, dipanen di surga! 

Kamis, 23 Maret 2017

Ganteng-ganteng Menjaga Diri


Oleh: Annafi`ah Firdaus

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.”

Inilah permintaan kepada Allah saat digoda para wanita agar mematuhi ajakan istri tuannya. Benar-benar ia memohon dihindarkan dari perlakuan istri tuannya yang berniat keji. Ia sebenarnya juga berkehendak, karena istri tuannya memang cantik. Tapi Allah telah menolongnya dengan memalingkan hatinya agar tetap menjaga kehormatan diri.

Pastilah tidak asing dengan kisah nabi yang satu ini. Kisah nabi yang sangat tampan. Kisah seorang nabi yang ia sadar dirinya tampan dan memikat banyak mata. Tapi baginya, tampan adalah ujian. Ia ditakdirkan mendapatkan perlakuan yang membuatnya harus berpisah dari orang tua dan saudara, dilemparkan ke sumur, bahkan di penjara. Siapa dia? Nabi Yusuf `Alahi Sallam.

Wajah Nabi Yusuf memang sangat tampan. Dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam “Kisah Para Nabi” wajah Nabi Yusuf seperti halnya kilat. Setiap kali ada wanita datang untuk suatu keperluan, Yusuf menutup wajah. Yang lain mengatakan, “Yusuf sering mengenakan penutup kepala agar tidak dilihat orang.” Ya. Tampan adalah ujian bagi hingga jadi penyebab utama istri penguasa Mesir sangat mencintai Nabi Yusuf.

Nabi Yusuf adalah manusia pilihan. Ia dijaga oleh Allah dari segala keburukan meski orang di sekitarnya ingin berbuat buruk. Tatkala ia berada di rumah tuannya bersama istri tuannya, wanita itu menutup seluruh pintu kemudian mendekat kepada Yusuf.
“Marilah mendekat kepadaku.”

“Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik,” jawab Nabi Yusuf.

Sungguh, wanita itu sangatlah berkehendak berbuat zina bersama Nabi Yusuf. Begitu pula Nabi Yusuf, ia sejatinya juga ingin berbuat zina. Tapi, Allah telah memalingkan Nabi Yusuf.
Nabi Yusuf kemudian lari menuju pintu untuk menyelamatkan diri. Wanita itu pun mengejar dari belakang hingga menarik gamis Nabi Yusuf sampai robek. Ternyata, suami perempuan itu di depan pintu. Dengan keji pula, wanita itu memfitnah Nabi Yusuf.

“Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau dihukum dengan siksa yang pedih?”

“Dia yang menggodaku dan merayu diriku,” Nabi Yusuf menjelaskan.
Allah pun melindungi Nabi Yusuf. Dia Allah, jadikan seorang saksi dari keluarga wanita itu untuk menjelaskan kebenaran. “Jika gamisnya robek di bagian depan, maka perempuan itu benar, dan dia (Nabi Yusuf) termasuk orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya robek dari belakang, maka perempuan itulah yang dusta, dan dia (Nabi Yusuf) termasuk orang yang benar.”

Maka tatkala suami dari wanita itu melihat bagian gamis mana yang robek, kebenaran sudah jelas. Gamis yang robek adalah bagian belakang karena ditarik wanita itu. Nabi Yusuf pun dalam kebenaran atas perlindungan dari Allah Ta`ala.

Betapa seseorang yang mulia seperti Nabi Yusuf tetap menjaga diri. Ia sadar bahwa ketampanannya bisa mengundang keburukan bagi yang memandangnya. Ia pun menutup wajahnya setiap kali bertemu dengan wanita.

Kita? Tampankah? Cantikkah? Pastilah ketampanan dan kecantikan kita nggak seganteng Nabi Yusuf. Maka, pandanglah apa-apa yang layak dipandang. Dan jangan membuat diri berlebihan agar tidak dipandang “banyak mata” sehingga jadi jalan keburukan kebanyakan orang.


*Naskah lolos Kusen per 17 Maret 2017 

LESEHAN JUM'AT JAN



Kenyataan ini memang pahit. Namun tak berarti kita aka menyerah begitu saja. Kenakalan remaja menjamur di berbagai tempat. Adakah kita peduli dan menjadi bagian dari solusinya?

Tak bisa dipungkiri banyak yang fokus mengatasi kenakalan saat segalanya telah terjadi. Hal ini pun sangat menguras energi. Lalu, bagaimana jika kita pakai cara pandang ini; mencegah kenakalan sebelum benar-benar terjadi?

Mari berbincang dalam Lesehan Jum'at Jan. InsyaAllah pertemuan besok berkaitan dengan tema pendidikan. Kita akan berbincang bersama tentang "Mencegah Kenakalan Remaja"

Mari jadwalkan untuk hadir:

Jum'at, 24 Maret 2017
16.00 - 17.25
M. Fatan A.U
Rumah Nah!

Denah >>> https://goo.gl/maps/jyXeKRtVVUF2

*Gratis!!!*

Pendaftaran SMS/WA:
Daftar_LJ4_Nama

Kirim ke:
085729329304

-----
@buletinnah @jantraining

Rabu, 22 Maret 2017

BUKAN MURID TELADAN


Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Sudahkah sampai kepada kalian kabar dua murid yang senantiasa membawa gelas penuh di hadapan gurunya? Mereka tidak menyediakan tempat, meskipun sedikit untuk mendapat kebenaran ilmu yang baru. Akhirnya apa? Kebenaran itu tertolak dan mereka tetap dalam kebodohan.

Suatu hari si murid pertama yang populer dengan nama Abu Jahal atau bapaknya kebodohan bertemu dengan seorang guru yang sangat mulia. Guru yang diutus khusus untuk meluruskan ajaran Nabi Ibrahim yang telah melenceng. Guru yang kelak akan menghapuskan segala bentuk kebodohan yang saat itu begitu digemari oleh orang-orang. Dialah Muhammad, Rasul Allah yang mendapat gelar al-Amin. Lelaki yang sejak lahirnya sudah tampak kemuliaannya, mulai dari kemuliaan nasabnya sampai kepercayaan orang-orang yang begitu luar biasa terhadapnya. Seakan semua orang tidak ragu lagi jika beliau mengatakan, “Percayakah kalian jika aku beritahu bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang ingin menyerang kalian?” Dengan tegas semua orang menyatakan percaya.

Tapi entah apa yang ada di benak murid yang satu ini, Abu Jahal. Ketika Rasulullah menunjukkan ilmu yang benar dan mengajaknya kepada kebenaran, si murid ini merasa  “gelasnya” telah penuh, semua ajakan itu ditolak tanpa ada rasa sopan. Abu Jahal mengatakan, “Demi Allah, jika aku mengetahui bahwa apa yang kamu ajakkan itu benar, pasti aku akan mengikutimu.”

Padahal setelah guru mulia itu pergi, Abu Jahal menemui temannya, al-Mughirah bin Syu’bah, lantas mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa apa yang dikatakannya itu benar, tetapi ada sesuatu yang menghalangiku.” Dua pernyataan yang bertolak belakang. Di hadapan gurunya dia mengingkari, ketika gurunya pergi dia membenarkan tapi tidak mau mengikuti. Tidak lain tidak bukan, semua itu lantaran “gelasnya” telah penuh. Dalam diri Abu Jahal ada rasa tinggi hati serta kesombongan, dia merasa bahwa dirinya lebih mulia dengan kekuasaan yang ada pada dirinya.

Tidak jauh beda dengan yang pertama, hanya saja yang kedua ini hampir membenarkan sang guru. Tapi akhirnya dia juga menyombongkan diri dan menolak kebenaran itu. Al-Walid bin al-Mughirah, nama kebanggaan yang dimilikinya. Dia adalah seorang ahli syair di masa itu, bahkan dia adalah pemukanya. Maka saat Rasulullah mendatanginya dan membacakan ayat-ayat Allah, sikapnya menjadi lunak, terkhusus sikapnya kepada Rasulullah.

Dia mengeluarkan pujian sendiri terhadap yang disampaikan Rasulullah, “Sesungguhnya yang dikatakan Muhammad memiliki kelezatan dan di atasnya terdapat keindahan dan kebagusan.”  Namun apa daya, pengaruh teman yang mengingatkan dirinya akan ketinggian kedudukan di depan kaumnya, menjadikan kelunakan itu kembali mengeras. “Gelas” yang dibawanya juga sama penuhnya, sampai kebenaran dari sang guru tidak sampai merubah kebodohannya.

Al-Walid berbalik mengatakan, yang awalnya pujian kini dia mencela perkataan Rasulullah (bacaan al-Qur’an), “Sesungguhnya perkataan itu hanyalah sihir yang dipelajari dari tukang sihir. Muhammad mempelajarinya dari orang lain.” Na’udzubillah, murid ini tetap dalam kebodohannya.

Apakah sifat dua murid itu ada pada kalian? Jangan sampai. Jangan bawa “gelas penuh” ketika di majelis ilmu, artinya janganlah merasa sudah berilmu di majelis ilmu, yang itu menjadikan dirimu tidak butuh terhadap ilmu gurumu.

BEDAH BULETIN NIH SD N SELOMULYO KEDUA KALINYA


“Semoga buletin ini semakin sukses!” kesan satu di antara peserta Bedah Buletin Nih yang bernama Fina Galuh Savitri (11 tahun) di SD N Selomulyo bersama 25 murid kelas 5 tempo lalu (18/ 3).

Sesuai tagline kami, semoga Buletin Nih memang jadi “Teman Meraih Sukses” siapapun. Sukses itu butuh ilmu. Tentu saja iya! Sekadar sukses bikin roti yang enak saja kita butuh ilmu. Apalagi membikin hidup kita sukses dunia dan akhirat. Butuh ilmu yang perlu dicari, meski susah dan payah. Meski butuh waktu yang lama.

Kegiatan Bedah Nih kedua kalinya ini, diawali dengan membaca bersama-sama kisah Nabi Sulaiman. Seorang nabi yang taat kepada Allah. Seorang nabi yang meski hartanya berlimpah dan bertahta di atas kursi raja, ia tidak sombong. Kenapa ia tidak sombong? Tentu karena Nabi Sulaiman punya ilmunya. Ilmu gimana seharusnya menggunakan hartanya. Ilmu yang membawanya, sukses di dunia, terlebih esok di surga.
Nah, kegiatan berikutnya adalah membaca puisi. Puisi tentang sedekah. Yang di akhir kegiatan, peserta praktik memberi hadiah barang berharganya kepada teman sebangku.

Membaca adalah jendela. Jendela membuka surga! Jendela untuk sukses. Tidak hanya di dunia, tapi di akhirat. 





Rabu, 15 Maret 2017

DEMI ILMU


Oleh: Annafi`ah Firdaus

“Aku seorang yatim yang diasuh ibuku. Ia tidak memiliki apa-apa untuk biaya pendidikanku.”
(Imam Syafi`i)

Menjadi miskin harta, tidaklah membuatnya miskin semangat menuntut ilmu. Tekad kuat adalah bekal utamanya. Karena beliau paham betul, kemuliaan diraih dengan ilmu. Bukan dengan banyaknya harta dan jabatan berkedudukan tinggi.

Masa muda Imam Syafi`i adalah bersama ilmu. Ia tak mengalami krisis identitas seperti kebanyakan anak seusianya. Beliau berjuang dengan segala usaha untuk belajar kepada guru. Meski tak punya ongkos membayar guru, beliau tidak berkecil hati. Bahkan, hal ini menjadi lecutan untuk beliau senantiasa pergunakan setiap detik dan menitnya bahkan seluruh hidupnya demi ilmu.

Suatu hari, guru Syafi`i terlambat datang ke majelisnya. Dengan nekad, Imam Syafi`i berdiri menggantikan gurunya mengajar anak-anak yang lain. Sejak saat itu, sang guru tahu bahwa Imam Syafi`i bukan anak biasa. Akhirnya, sang guru pun memutuskan Imam Syafi`i tidak perlu membayar uang pendidikan alias gratis.

Dituliskan dalam buku “Biografi 60 Ulama Ahlussunnah” oleh Syaikh Ahmad Farid tentang bagaimana Imam Syafi`i menghabiskan malam-malamnya, kita akan dibuat takjub olehnya. Ia sangat sungguh-sungguh dengan hidupnya. Bahwa ar-Rabi` bin Sulaiman pernah berkata, “Asy-Syafi`i membagi malam menjadi tiga bagian, sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat, dan sepertiga ketiga untuk tidur.”

Adakah kita menjadikan malam ketika datang seperti Imam Syafi`i?
Suatu ketika, setelah menetap di Makkah, beliau putuskan berpindah ke Madinah dan tinggal di dusun Bani Hudzail. Kenapa Imam Syafi`i memilih dusun itu? Karena dusun Bani Hudzail adalah suku Arab yang paling fasih dan paling murni. Bahasa Arab bagi syafi`i adalah kunci ilmu pengetahuan. Imam Syafi`i tinggal di dusun tersebut selama tujuh belas tahun.

Imam Syafi`i sangat suka syair dan sering melantunkannya dengan suara yang indah. Hingga akhirnya, tibalah seorang laki-laki dari Bani Zubair (keluarga paman beliau) berkata, “Wahai Abu Abdullah, aku sangat menyayangkan jika kefasihan bahasa dan kecerdasanmu ini tidak disertai dengan ilmu fikih. Dengan fikih, engkau akan menguasai semua generasi zamanmu.”

Betapa kita bisa meneladani bagaimana Imam Syafi`i melakukan perjalanannya demi ilmu. 
Harta bukanlah modal utama. Tapi, niat dan tekad yang kuatlah yang utama. Awalnya ia sangat suka syair, tapi karena ilmu fikih adalah ilmu yang lebih bermanfaat, ia berpindah fokus pada fikih. Kita juga belajar bagaimana Imam Syafi`i menghabiskan malam. Tidak ia gunakan untuk bermimpi dan berkhayal, tapi ia sibukkan diri untuk ibadah dan belajar.


Kita? 

Guru


Oleh: M. Chazim at- Temanggungi 

Ketika hujan kau tepis itu
Ketika panas kau rangkul ia
Walau terik menyengat
Walau dingin menusuk
Kau acuhkan itu demi kami
Demi kami yang kadang tak peduli
Demi kami yang kadang menyakiti
Demi kami yang kadang tak menghormati

Guru
Harus dengan segunung emaskah kubalas kau?
Benar!
Tak cukup dan tak pernah cukup
Guru
Maafkan aku yang selalu meresahkan hidupmu
Maafkan aku yang selalu duri di jalanmu
Ikhlaskah engkau?
Sabarkah engkau?

Jika begitu, Allah akan menantimu di surga-Nya nanti

Terbang Raih Impian atau Ikut-ikutan?


@denizdinamiz

"Eh, impian ini keren lho... Bisa naik pesawat, gajinya gede, fasilitas terjamin, pokoknya asyik deh!” cerocos temen kita. Habis dibilangin seperti itu, kamu ikut-ikutan deh... Padahal kita nggak tahu bakal disuruh ngapain? Nggak tahu apa asyiknya kerja begituan? Nggak yakin apa iya segitunya?

Atau... Kamu dijodohin ama orang tua? “POKOKNYA kamu harus jadi anu. Bapak dan ibu nggak bakal ngijinin kalo kamu nggak jadi anu. Kamu harus sekolah yang bener, kuliah yang tinggi (di lantai 3 kali?), dan berhasil menjadi seorang anu...” Kenapa? Kamu nggak tahu apa itu anu? Anu itu variabel yang bisa di-substitusi. Lha? Tambah bingung? Maksudnya, kamu bisa menggantinya dengan kata lain apa aja, seperti: dokter, tukang insinyur, pengacara, psikolog, dan seabrek pilihan karir lainnya.

Pernahkah kamu mengalaminya? Kamu diminta orang tua menjadi anu. Padahal sebenernya kamu pingin jadi yang lain... Ya.. gimana lagi... Eit, eit, sekarang bukan saatnya mikirin gimana orang lain. Sekarang saatnya mikirin: gimana kata hati kamu? Apa impian yang benar-benar kamu inginkan? Nge-ceknya gampang. Coba tanya pada dirimu: “Kalau semua orang di dunia membiarkanmu memilih, apa impian pilihanmu?” Coba pikirkan.

Tapi, ada yg lebih penting lagi: “Apa impian kamu udah cocok dengan keinginan-Nya?”

#Impian #Idaman, Pas di #Hati diridhoi #Ilahi , #Fly to #Heaven

fly\ˈflī\ a : to move in or pass through the air with wings b : to move through the air or before the wind or through outer space c : to float, wave, or soar in the air Origin: Middle English flien, from Old English flēogan; akin to Old High German fliogan to fly and probably to Old English flōwan to flow. First use: before 12th century

Rabu, 08 Maret 2017

SANTRI


Oleh: Chazim at-Temanggungi

Adalah orang yang mengabdi
Di penjara suci
Cita-citanya begitu tinggi
Di akhirat maupun di dunia ini
Dia ingin menjadi insan dikasihi Illahi
Dan tak ada seorang pun yang tak ia hormati

Dan
Santri pun punya semangat tinggi
Seperti apapun ia kerjakan sendiri
Santri memang mandiri
Semoga santri kelak menjadi pemimpin negeri
Agar negeri ini tertata rapi


Adam, Malaikat, dan Iblis



Oleh: Fajar Yunan Fanani

Siapa yang suka baca kisah? Kalau Sobat termasuk suka, kami punya kisah yang baik untuk dibaca. Kisah ini diringkas dari kitab “Kisah Para Nabi” karangan Ibnu Katsir. Silahkan disimak ya!

Sebelum Allah menciptakan seluruh benda yang ada di bumi, Allah telah menciptakan malaikat dan iblis. Malaikat diciptakan dari cahaya. Sedangkan iblis diciptakan dari api. Lalu, Allah menciptakan satu makhluk lagi untuk menjadi khalifah di bumi, yaitu manusia.

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Karena hanya manusia saja yang diberi akal oleh Allah. Sedangkan iblis dan malaikat tidak diberi akal oleh Allah. Allah menciptakan manusia dari tanah liat dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Setelah bentuk tubuh jadi, maka Allah meniupkan ruh ke bentuk itu. Dan manusia pertama itu bernama Adam.

Setelah penciptaan tubuh Adam selesai, Allah menyuruh malaikat dan iblis bersujud kepada Adam. Semua malaikat sujud kepada Adam, kecuali iblis. Iblis tidak mau bersujud kepada Adam. Iblis merasa sombong karena diciptakan dari api. Sedangkan Adam dari tanah kering dari lumpur hitam. Iblis juga menganggap bahwa Adam juga lemah

Karena sombong dan durhaka, iblis diusir dari surga dan tidak boleh kembali ke surga lagi. Sebelum iblis keluar dari surga, iblis punya satu permintaan kepada Allah. Yaitu, dihidupkan sampai hari Kiamat dan mengajak anak keturunan Adam untuk masuk ke neraka, kecuali hanya orang yang bertakwa kepada Allah. Allah mengabulkan permintaan iblis.

Jadi, siapakah di antara kalian yang pingin menemani iblis di neraka? Atau pingin kembali ke surga?  

Selasa, 07 Maret 2017

BEDAH NIH DI SD N CATURTUNGGAL 3




Tiga puluh tahun ke depan, sudahkah kita pikirkan akan jadi apa?

Tiga puluh tahun ke depan, sudahkah punya rencana apa saja yang akan kita lakukan? 

Tiga puluh tahun ke depan, sudahkah memikirkan apa saja yang akan adik-adik kita, bahkan anak keturunan kita lakukan? 

Janganlah jadikan diri menjadi lemah. Dengan membiarkan diri tidak sibuk dalam kebaikan. Nah, kesibukan yang seharusnya tidak boleh kita tinggalkan adalah membaca.

Apalagi membaca tulisan yang bikin semangat dan makin cinta belajar. Seperti yang dilakukan oleh murid-murid SD N Caturtunggal 3 (4/3/2017) kemarin. Bersama 24 siswa-siswi kelas 6 membaca bersama kisah Nabi Adam, Malaikat, dan Iblis. Kamu pingin baca kisah bersama-sama teman kamu? Boleh lho ajak kami. Kita bareng-bareng bedah buletin Nih di sekolah kamu.












INFO LESEHAN JUMAT BEDAH NIH BULAN MARET

Akan berbeda seseorang yang bacaannya kisah-kisah dusta dengan mereka yang membaca kisahnya teladan mulia. Apalagi sangat berbeda dengan mereka yang tidak suka baca. Ibarat gelas tak ada isinya. Orang-orang pun tidak akan bisa "memanfaatkan" keberadaan dirinya.

Akan berbeda. Mereka yang kisah favoritnya adalah Si Kancil Mencuri Timun dengan kisah kisah favoritnya para sahabat Nabi. Mereka meneladani sebagaimana Umar bin Khatab membela Islam. Abu Bakar yang santun. Utsman bin Affan yang sangat menjaga diri. Ali bin Abi Thalib yang adil.

Maka, sudahkah kita punya kisah teladan favorit? Dan mari kita berbincang tentang hal itu di agenda Bedah Buletin Nih #15 di Rumah Nah!
Kamu luang dan lapang? Silahkan datang!


Kamis, 02 Maret 2017

ADAB-ADAB MENUNTUT ILMU


Oleh: Zakiy Zakaryya Ali

“Aku mempelajari adab selama 30 tahun. Kemudian aku menuntut ilmu selama 20 tahun.”
       (Ibnu Al-Mubarak)

Kok bisa ya, adab dulu baru ilmu? Apakah adab sangat penting? Apakah ilmu tidak penting? Ya, tentu keduanya sama-sama penting. Tapi yang lebih utama adalah adab.

Maka, yuk sobat kita belajar bareng apa saja adab seorang penuntut ilmu. Ini penting karena sekarang kita adalah seorang penuntut ilmu. Adab-adab ini kami ringkaskan dari buku  Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan Ensiklopedi Adab Islam karya 'Abdul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada:

1. Niat belajar karena Allah
 Niat ini sangat penting bagi orang yang menuntut ilmu. Agar belajar kita dapat pahala dari Allah dan masuk surga.

2. Jangan makan minum berlebihan
Makanlah secukupnya, jangan sampai kekenyangan. Pernah makan kekenyangan? Akibatnya bisa malas untuk menuntut ilmu. Bisa jadi malah ngantuk di kelas dan tidak konsentrasi mendengarkan pelajaran. Oh ya, makanlah makanan yang halal dan baik.

3. Menghindari banyak tidur
Apakah kalian tahu, apa akibatnya jika seorang penuntut ilmu banyak tidur? Pasti saat menuntut ilmu, orang yang banyak tidur akan malas. Sobat mau jadi orang malas?

4. Menjauhi maksiat
Coba kalian bayangkan, ada orang yang setiap saat melakukan maksiat. Apa yang terjadi? Pasti orang itu akan susah menangkap ilmu yang disampaikan oleh guru. Ilmu adalah cahaya. Ilmu tidak akan datang kepada orang yang suka maksiat.

5. Memilih guru yang baik
Guru adalah orang yang patut kita tiru. Maka apabila kalian ingin menjadi orang yang baik carilah guru yang baik pula.

6. Berteman dengan teman yang baik
Teman yang baik ibarat minyak wangi. Ia akan menularkan wangi pada kita. Berteman dengan teman yang baik akan membantu kita untuk belajar yang baik.

Nah bagaimana sekarang? Apakah sobat sekarang sudah tahu adab-adab menuntut ilmu? Kalau sudah jangan lupa diamalkan ya, karena adab ini sangat penting bagi seorang penuntut ilmu.

Rabu, 01 Maret 2017

MASA MUDA


Oleh: M Fatan Fantastik 

Remaja Konon, masa remaja adalah masa penuh gejolak dan masalah. Masa penuh krisis identitas. Mereka galau akan hidupnya, pasangannya, juga tentang profesi yang hendak ditekuninya. Apakah iya bahwa semua remaja mengalami krisis serupa? Ternyata tidak.

Ada remaja-remaja yang menjalani masa mudanya dengan penuh kemantapan. Mereka ini sudah kokoh ideologinya, jelas orientasi seksualnya, dan terang hendak menjadi apa di masa mendatang. They knew what to do, and what to be.

Satu di antara sebabnya adalah karena mereka memiliki komunitas yang mendukung mereka tumbuh dalam komitmen kebaikan: menjadi remaja utama yang kelak membanggakan orangtua, guru, serta bangsa & negara.


Foto: bersama adik-adik rohis SMAN 4 Yogyakarta.