Rabu, 22 Maret 2017

BUKAN MURID TELADAN


Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Sudahkah sampai kepada kalian kabar dua murid yang senantiasa membawa gelas penuh di hadapan gurunya? Mereka tidak menyediakan tempat, meskipun sedikit untuk mendapat kebenaran ilmu yang baru. Akhirnya apa? Kebenaran itu tertolak dan mereka tetap dalam kebodohan.

Suatu hari si murid pertama yang populer dengan nama Abu Jahal atau bapaknya kebodohan bertemu dengan seorang guru yang sangat mulia. Guru yang diutus khusus untuk meluruskan ajaran Nabi Ibrahim yang telah melenceng. Guru yang kelak akan menghapuskan segala bentuk kebodohan yang saat itu begitu digemari oleh orang-orang. Dialah Muhammad, Rasul Allah yang mendapat gelar al-Amin. Lelaki yang sejak lahirnya sudah tampak kemuliaannya, mulai dari kemuliaan nasabnya sampai kepercayaan orang-orang yang begitu luar biasa terhadapnya. Seakan semua orang tidak ragu lagi jika beliau mengatakan, “Percayakah kalian jika aku beritahu bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang ingin menyerang kalian?” Dengan tegas semua orang menyatakan percaya.

Tapi entah apa yang ada di benak murid yang satu ini, Abu Jahal. Ketika Rasulullah menunjukkan ilmu yang benar dan mengajaknya kepada kebenaran, si murid ini merasa  “gelasnya” telah penuh, semua ajakan itu ditolak tanpa ada rasa sopan. Abu Jahal mengatakan, “Demi Allah, jika aku mengetahui bahwa apa yang kamu ajakkan itu benar, pasti aku akan mengikutimu.”

Padahal setelah guru mulia itu pergi, Abu Jahal menemui temannya, al-Mughirah bin Syu’bah, lantas mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa apa yang dikatakannya itu benar, tetapi ada sesuatu yang menghalangiku.” Dua pernyataan yang bertolak belakang. Di hadapan gurunya dia mengingkari, ketika gurunya pergi dia membenarkan tapi tidak mau mengikuti. Tidak lain tidak bukan, semua itu lantaran “gelasnya” telah penuh. Dalam diri Abu Jahal ada rasa tinggi hati serta kesombongan, dia merasa bahwa dirinya lebih mulia dengan kekuasaan yang ada pada dirinya.

Tidak jauh beda dengan yang pertama, hanya saja yang kedua ini hampir membenarkan sang guru. Tapi akhirnya dia juga menyombongkan diri dan menolak kebenaran itu. Al-Walid bin al-Mughirah, nama kebanggaan yang dimilikinya. Dia adalah seorang ahli syair di masa itu, bahkan dia adalah pemukanya. Maka saat Rasulullah mendatanginya dan membacakan ayat-ayat Allah, sikapnya menjadi lunak, terkhusus sikapnya kepada Rasulullah.

Dia mengeluarkan pujian sendiri terhadap yang disampaikan Rasulullah, “Sesungguhnya yang dikatakan Muhammad memiliki kelezatan dan di atasnya terdapat keindahan dan kebagusan.”  Namun apa daya, pengaruh teman yang mengingatkan dirinya akan ketinggian kedudukan di depan kaumnya, menjadikan kelunakan itu kembali mengeras. “Gelas” yang dibawanya juga sama penuhnya, sampai kebenaran dari sang guru tidak sampai merubah kebodohannya.

Al-Walid berbalik mengatakan, yang awalnya pujian kini dia mencela perkataan Rasulullah (bacaan al-Qur’an), “Sesungguhnya perkataan itu hanyalah sihir yang dipelajari dari tukang sihir. Muhammad mempelajarinya dari orang lain.” Na’udzubillah, murid ini tetap dalam kebodohannya.

Apakah sifat dua murid itu ada pada kalian? Jangan sampai. Jangan bawa “gelas penuh” ketika di majelis ilmu, artinya janganlah merasa sudah berilmu di majelis ilmu, yang itu menjadikan dirimu tidak butuh terhadap ilmu gurumu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar