Rabu, 15 Maret 2017

DEMI ILMU


Oleh: Annafi`ah Firdaus

“Aku seorang yatim yang diasuh ibuku. Ia tidak memiliki apa-apa untuk biaya pendidikanku.”
(Imam Syafi`i)

Menjadi miskin harta, tidaklah membuatnya miskin semangat menuntut ilmu. Tekad kuat adalah bekal utamanya. Karena beliau paham betul, kemuliaan diraih dengan ilmu. Bukan dengan banyaknya harta dan jabatan berkedudukan tinggi.

Masa muda Imam Syafi`i adalah bersama ilmu. Ia tak mengalami krisis identitas seperti kebanyakan anak seusianya. Beliau berjuang dengan segala usaha untuk belajar kepada guru. Meski tak punya ongkos membayar guru, beliau tidak berkecil hati. Bahkan, hal ini menjadi lecutan untuk beliau senantiasa pergunakan setiap detik dan menitnya bahkan seluruh hidupnya demi ilmu.

Suatu hari, guru Syafi`i terlambat datang ke majelisnya. Dengan nekad, Imam Syafi`i berdiri menggantikan gurunya mengajar anak-anak yang lain. Sejak saat itu, sang guru tahu bahwa Imam Syafi`i bukan anak biasa. Akhirnya, sang guru pun memutuskan Imam Syafi`i tidak perlu membayar uang pendidikan alias gratis.

Dituliskan dalam buku “Biografi 60 Ulama Ahlussunnah” oleh Syaikh Ahmad Farid tentang bagaimana Imam Syafi`i menghabiskan malam-malamnya, kita akan dibuat takjub olehnya. Ia sangat sungguh-sungguh dengan hidupnya. Bahwa ar-Rabi` bin Sulaiman pernah berkata, “Asy-Syafi`i membagi malam menjadi tiga bagian, sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat, dan sepertiga ketiga untuk tidur.”

Adakah kita menjadikan malam ketika datang seperti Imam Syafi`i?
Suatu ketika, setelah menetap di Makkah, beliau putuskan berpindah ke Madinah dan tinggal di dusun Bani Hudzail. Kenapa Imam Syafi`i memilih dusun itu? Karena dusun Bani Hudzail adalah suku Arab yang paling fasih dan paling murni. Bahasa Arab bagi syafi`i adalah kunci ilmu pengetahuan. Imam Syafi`i tinggal di dusun tersebut selama tujuh belas tahun.

Imam Syafi`i sangat suka syair dan sering melantunkannya dengan suara yang indah. Hingga akhirnya, tibalah seorang laki-laki dari Bani Zubair (keluarga paman beliau) berkata, “Wahai Abu Abdullah, aku sangat menyayangkan jika kefasihan bahasa dan kecerdasanmu ini tidak disertai dengan ilmu fikih. Dengan fikih, engkau akan menguasai semua generasi zamanmu.”

Betapa kita bisa meneladani bagaimana Imam Syafi`i melakukan perjalanannya demi ilmu. 
Harta bukanlah modal utama. Tapi, niat dan tekad yang kuatlah yang utama. Awalnya ia sangat suka syair, tapi karena ilmu fikih adalah ilmu yang lebih bermanfaat, ia berpindah fokus pada fikih. Kita juga belajar bagaimana Imam Syafi`i menghabiskan malam. Tidak ia gunakan untuk bermimpi dan berkhayal, tapi ia sibukkan diri untuk ibadah dan belajar.


Kita? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar