Kamis, 30 Maret 2017

JANGAN HANYA CERITA KANCIL!

Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Judul                  : Kisah Para Nabi Untuk Anak Jilid 1 dan 2
Pengarang          : Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi
Penerbit             : Robbani Press
Tahun Terbit      : 2001

“Wahai anak saudaraku yang budiman!”

“Saya melihat engkau dan anak seusiamu sangat antusias terhadap cerita dan hikayat. Engkau mendengar dan membaca kisah-kisah atau cerita-cerita tersebut dengan senang. Namun saya merasa prihatin karena saya melihat apa yang ada di tanganmu tidak lain hanyalah cerita-cerita kucing, anjing, singa, serigala, monyet, serangga, kancil dan buaya, dan lain-lain. Kita harus hati-hati dalam masalah ini. Namun, itulah yang engkau dapati selama ini.”

Kegundahan itu disampaikan pengarang kitab ini dalam sebuah mukadimahnya. Penulis kitab ini, Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi merasa prihatin atas bacaan yang setiap saat dibawa oleh anak-anak kaum muslim. Mereka tertarik dengan kisah, tapi hanya kisah yang dibuat-buat oleh manusia, yang kebenarannya dipertanyakan.

Dalam mukadimahnya Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi melanjutkan, “Engkau telah belajar bahasa Arab, karena ia adalah bahasa Al-Qur’an , rasul, dan bahasa agama, dan engkau pun sangat senang mempelajarinya. Tapi saya merasa malu karena engkau tidak mendapatkan cerita-cerita berbahasa Arab yang sesuai dengan umurmu kecuali cerita-cerita hewan, bohong dan khurafat.”

Inilah yang mendorong penulis untuk bersegera membuat sebuah karangan tipis, dan yang ditujukan untuk anak-anak. Penulis mengumpulkan kisah-kisah shahih yang langsung merujuk pada sumber terpercaya, khususnya kisah para nabi dan rasul. Kitab yang cukup sederhana ini berjudul “Qishashun Nabiyyina lil-Athfal” dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kisah Para Nabi Untuk Anak” yang terdiri dari dua lilid, dan diterbitkan oleh Robbani Press. Meskipun pada judul kitab tertulis untuk anak, juga tidak ada larangan jika orang dewasa ikut membacanya.

Dalam kitab ini penulis seakan membuat sebuah alur untuk menanamkan keimanan kepada anak-anak kaum muslimin. Maka tidak semua nabi dan rasul ada pada kitab ini, penulis memilih beberapa nabi dan rasul saja. Penulis memulai dengan kisah seorang nabi yang menentang penyembahan berhala, serta dalam kisah itu disebutkan nabi ini menghancurkan berhala-berhala sehingga ia harus dihukum dengan dibakar. Dialah Ibrahim ‘Alaihissalam.

Berikutnya Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi melanjutkan dengan kisah Nabi Yusuf, yang selama perjalanan hidupnya dipenuhi banyak cobaan. Mulai dari dimasukkan ke dalam sumur, menjadi budak, mendapat fitnah, dan penjara. Namun akhirnya, beliau menjadi orang mulia. Penulis melanjutkan dengan kisah Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Shaleh, yang ketiganya harus berdakwah kepada kaum yang menyekutukan Allah. Mereka harus mendapatkan banyak caci maki dari kaumnya. Namun di akhir kisah ketiga nabi ini, Allah tunjukkan kuasanya bahwa orang-orang durhaka itu dibalas dengan siksaan yang sangat pedih, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah akhir dari jilid 1 dalam kitab ini.

Sedangkan pada jilid dua, penulis tunjukkan berbagai jenis dakwah para nabi. Mereka memiliki tantangan yang berbeda-beda. Mulai dari Nabi Musa, Nabi Syu’aib, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub, Nabi Yunus, Nabi Zakariya dan Nabi Yahya, dan terakhir Nabi Isa. Nabi-nabi itu ada yang diuji dengan kekuasaan, kaum yang membangkang, penyakit, bahkan ujian keturunan.

Kedua jilid kitab ini, ditulis Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi dengan bahasa yang begitu ringan. Kalimatnya diulang-ulang dan sederhana, karena memang buku ini fokus untuk anak-anak. Saya ambil contoh dalam sebuah pembahasan pada kisah Nabi Ibrahim. Tertulis di kitab itu, “Pada saat itu Ibrahim marah, lalu mengambil kapak. Ibrahim memukul berhala-berhala itu dengan kapak itu dan memecahkannya. Ibrahim hanya menyisakan berhala yang terbesar dan mengalungkan kapak itu pada lehernya.” Coba perhatikan, berapa kali penulis mengulang kata Ibrahim dalam satu paragraf? Ya, tiga kali. Itu menunjukkan penulis memperhatikan benar pengulangan supaya mudah difahami.

Selain itu penulis juga cerdas dalam mengombinasikan ayat-ayat Qur’an dengan cerita yang disuguhkan. Baik itu mengutip secara langsung, atau penulis masukkan dalam dialog antar tokohnya.  Seakan semua dapat menyatu dan mengalir saat dibaca.

Hanya saja, dalam kitab “Kisah Para Nabi Untuk Anak” ini, tidak cukup detail. Pembahasannya tidak mendalam. Sehingga jika pembaca menginginkan data lebih lengkap, kitab ini belum menyuguhkan apa yang pembaca harapkan. Kalau boleh saya katakan, kitab ini bisa menjadi gambaran umum untuk kita memahami kisah-kisah para nabi. Jika mau lebih detail dapat merujuk di kitab lain.

Jadi, saya rasa hal itu bukan persoalan untuk menjadikan buku ini berada di tiap-tiap rumah anak-anak kaum muslim. Sebagaimana penulis Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi mengatakan, “Saya berharap buku tipis ini merupakan buku pertama yang dibaca oleh anak-anak kaum muslim dan mereka pelajari di sekolah-sekolah.” Karena di dalamnya dipenuhi kisah-kisah orang mulia, maka dengan membacanya kita berharap bisa menjadi orang-orang yang mulia pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar