Rabu, 26 April 2017

BULETIN NIH #16 DENGAN TEMA OLAHRAGA








Teman Meraih Sukses. Siapa sih teman kita agar tidak hanya sukses di dunia, tapi di akhirat? Adalah ILMU.

Karena dengan ILMU, kita bisa tahu caranya SUKSES. Tahu mana yang boleh dikerjakan dapat pahala lagi, dan tahu mana yang tidak boleh dilakukan karena berakibat dosa.

Buletin Nih, sebagai (yang semoga) jadi Teman Meraih Sukses Kamu, sudah hadir. Dengan tema OLAHRAGA.

Silahkan disimak! Setelah itu, amalkan bareng sama temen kamu ya.Lari 

Ramadhanku


Oleh: Muhammad Fakih 


Ramadhan yang kusukai 

Alangkah indah keberkahannya
Melangkah jalan ketakwaan
Amat susah mendapatkannya
Dari sahur hingga saat berbuka
Haus dan lapar kutahan
Akhirnya tiba saat yang kunanti
Nah! Itulah waktu berbuka
Kesabaran di depan mata
Untuk Allah Ta’ala

#ramadanku #ramadanmulia

Di Antara Hujan dan Ujian, Ada Kamu


Di Antara Hujan dan Ujian, Ada Kamu

Assalamu'alaikum. Gimana, Fren? Masih bisa merasakan indahnya dunia 'kan?

Kali ini, Abang mau mengajak kamu ngobrol tentang ujian. Yang sering bikin keringatan, jantung berdebaran, ampe bisa pada pingsan! Tapi, tenang saja. Abang nggak mengajak kamu tambah stres gara-gara ngobrol tentang ujian. InsyaAllah kita mau berbincang 'sersans' (serius plus santai-santai senang) bagaimana caranya menghadapi si ujian itu. So, nanti kita bukannya stres dibuatnya, tapi sukses karenanya. Dia mau datang kapan aja, kita mah enteng saja sambil menjawab, "Sini kalo brani!"

Apalagi Indonesia kan punya musim hujan. Jadi, sangat cocok kalau kita berbincang tentang ujian. Lho ... Apa hubungannya? Hehe...Tentu saja ada.

Hujan menyerbu bumi dengan peluru-peluru airnya tiada henti. Kadang, rintik saja. Sering, derasnya tak menyisakan jeda. Lama pula.

Suatu saat, diawali dengan tetes kecil ... Lalu makin banyak tetesannya...Dan akhirnya: DERASNYA NYATA.

Di saat lain, langsung BRESSS! Deras airnya membasahi bumi, baju, jemuran, jempol kaki...Tanpa permisi, tanpa basa-basi.

Dan semua itu adalah anugerahNya, lho. Jemuran yang belum sempat diambil, bisa jadi karena memang perlu "dicuci ulang". Biar makin kinclong luar dalam. Badan yang basah kehujanan, anggap saja sebagai bonus mandi dari Allah. Jarang-jarang mandi pakai air dari langit langsung 'kan?

Belajarlah dari masa kecil kita yang bahagia, ceria, penuh kenangan indah tiada tara...(kecuali kamu yang MALAKE alias masa lalu kelam. Jarang main di luar, kebanyakan di depan TV or main games doang, temannya cuman itu itu aja. Alias 4L: lu lagi lu lagi...Tapi nggak papa dan mama. Kalau kamu mulai berubah, kamu pasti lebih "wow" dan wah. Iya lah! Karena berubahnya menuju masa depan yang cerah: menggapai Jannah!

Jadi? Perhatikanlah anak anak kecil itu. Makin deras hujan yang turun, makin girang mereka hujan-hujanan. Lihatlah, betapa asyiknya mereka bermain di tengah guyuran air hujan! Honestly, sampai sekarang pun Abang masih sering hujan-hujanan...Makin bikin badan segerrrrr!!!!

Nah, anak-anak sekalian, kita bisa belajar dari hujan. (Iya, Pak Guruuuuuuuu....!!!) Air itu turun ke bumi. Membawa tetes-tetes air (bukan uang lho! Apalagi yang recehan. Kalau recehan logam, nanti bisa membuat pecah genteng-genteng rumah termasuk kepala kita...Ups!...SubhanaLlah. Makasih ya Allah, Engkau turunkan hujan dalam bentuk lembut seperti air.

Kata Rasulullah, ada 3 model tanah di bumi yang akan menerimanya.
1. Ada tanah yang mampu menyerap air hujan itu dengan baik. Lalu berbagai tanaman tumbuh dengan rimbun di atasnya. Itulah tanah yang subur.
2. Ada yang tanahnya keras, yang mampu menampung air. Sehingga ada yang bisa memakainya. Ada yang buat irigasi, ada yang buat minum dsb. Seperti reservoir aif, seperti dam.
3. Ada yang bersifat bebatuan. Tak bisa menyerap air. Air yang datang berlimpah, nggak ada yang mampu dimanfaatkan. Terbuang percuma, mubadzir. Padahal, yang suka berbuat mubadzir itu adalah .... (Hayo, yang tahu angkat tangan).

Sebenarnya, perumpamaan di atas digunakan untuk pemahaman tentang agama dan ilmu pengetahuan. Tapi, kali ini hendak kita gunakan untuk berbincang tentang hujan dan ujian.

Begini. Anggaplah hujan = ujian. Sedang tanah di bumi = kita. Mau nggak mau, senang ataupun hepi, hujan tetap turun ke bumi. Jadi terserah kamu! Bagaimana menyikapinya, mau jadi tanah model apa.

Yang subur, sehingga hujan bisa menumbuhkan kesuburan potensi yang berbuah prestasi?

Atau yang bisa menampung air, sehingga tetap bisa diambil hikmah manfaatnya?

Atau cuman seperti batu yang keras, yang nggak dapat apa-apa? Wah, bisa 'banjir' masalah. Jadi stress sampai depresi malah. Haduh!

Makanya, tentukan sikap dari sekarang! Jadi yang mana?

Sumber: Ditulis ulang dan diubah seperlunya dari buku "Ujian Sukses tanpa Stress"

Rabu, 19 April 2017

Pemuda Hari Ini


Oleh: M. Fatan Fantastik 

Siapa bilang pemuda adalah biang keonaran?

Ingatlah para pemuda Al-Kahfi. Mereka adalah para muda yang beriman, dan Allah tambahkan bagi mereka petunjuk kebenaran. Hingga mereka rela meninggalkan dunia, demi menjaga kemuliaan fithrah jiwa. Kelak, Allah muliakan mereka dengan bangun dari "tidur" 300+9 tahun tatkala daerah mereka telah kembali mentaatiNya.

Siapa bilang pemuda adalah tukang maksiat dan dosa?

Ingatlah kita akan pemuda Yusuf. Tampan wajahnya, mulia akhlaqnya, dan ahli mengurus negara. Dia tolak tawaran zina dari para wanita penguasa, dia dakwahi mereka yang terjerembab di penjara, dia maafkan saudara-saudaranya yang dulu menganiayanya. Kemudian, Allah berkenan menyatukan kembali keluarga beliau dalam iman dan tawa.

Sungguh, akan selalu ada para muda yang utama.
Mereka yang mengikuti jejak Ibrahim, Musa, Isa.
Mereka yang menapaki langkah Ismail, Sulaiman, Yahya.
Mereka yang meneladani Maryam, Asiyah, hingga Khadijah dan Fathimah Az-Zahra. InsyaaLlah akan selalu ada.


Selasa, 18 April 2017

BERLOMBA MENUJU PUNCAK

Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Demi waktu yang dengannya Allah bersumpah. Demi Ramadhan apabila telah datang. Sungguh, manusia mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan besar karena lalai dengan hari-hari Ramadhan. Padahal “obral” pahala di depannya. Namun, ternyata ia malah sibuk dengan urusan dunia. Sangat sibuk dengan urusan dunia. Al-Qur`an dilalaikan. Majelis ilmu ditinggalkan. Bahkan tidak sadar sedang melakukan hal yang sia-sia. Hidupnya bagaikan perahu berlayar yang tiada tujuan. Terancam terkena ombak dan tenggelam. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Kawan, adalah Ramadhan sudah di depan mata. Ia siap menanti pejuang-pejuang melawan nafsu diri menuju puncak kemuliaan. Ia adalah event besar dan penting umat Muslim di seluruh dunia. Semuanya akan merasakan lapar dan dahaga, merasakan persaudaran seiman, dan merasakan pelatihan yang sama. Maka, adakah persiapan sudah dilakukan untuk menyambutnya? Persiapan mengambil kesempatan menuju puncak kemuliaan di hadapan Allah: puncak takwa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ya. Takwa adalah tujuan dari “perlombaan” besar ini. Melalui ibadah yang diperintahkan Allah yaitu puasa, bukan untuk menurunkan berat badan, atau agar sehat, atau bisa makan yang enak saat berbuka puasa. Tapi untuk takwa. Agar ia senantiasa mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan serta tidak mengikuti hawa nafsu untuk melakukan keburukan.

Dan sungguh, takwa adalah sebaik-baik gelar untuk manusia. Gelar inilah yang membedakan kualitas manusia. Gelar inilah yang membuat gelar lain seperti kebangsawanan, kekayaan, kepintaraan kalah jauh dengan yang namanya takwa. Karena takwa adalah puncak kemuliaan dan kehormatan di hadapan Allah Ta`ala.

Lalu, apa saja yang perlu dipersiapkan menuju Ramadhan? Tentu yang utama adalah ilmu. Sedangkan yang kedua adalah amal. Kita harus buka-buka lagi nih apa saja yang ada dalam Ramadhan. Mulai dari keutamaannya, amalan utama di dalamnya, sampai-sampai kita perlu juga membuka kisah para generasi terdahulu dalam menghabiskan bulan Ramadhan. Dihabiskan untuk jalan-jalankah? Untuk berhura-hurakah? Atau mereka sibuk dengan Al-Qur`an dan shalat malam?


Sebaik-baik program hidup kita adalah sesuai Al-Qur`an. Termasuk persiapan menuju Ramadhan. Dalam dua bulan sebelum Ramadhan yakni Sya`ban dan Rajab, setelah mendapatkan ilmu, ayo “pemanasan” dalam beramal. Di antaranya puasa dan shalat malam. Agar saat Ramadhan tiba, badan kita tidak loyo. Agar semangat tidak menciut apalagi malah menghilang. 

-----

*Naskah Lolos Kusen per 14 April 2017 

Jumat, 14 April 2017

Petani dan Awan

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pada zaman dahulu ada seorang yang berjalan di padang tandus. Tiba-tiba ia mendengar suara dari dalam awan, “Siramlah kebun si Fulan.” Lalu awan itu berjalan menuju tempat yang dipenuhi batu-batu hitam. Orang itu pun berjalan mengikuti awan itu berjalan, selain banyak batunya di sana terdapat sebuah parit yang penuh dengan air yang mengalir.

Maka tampaklah seorang laki-laki yang sedang berada di tengah kebunnya. Ia sedang membagi air dengan sekopnya. Kemudian orang yang berjalan mengikuti awan itu bertanya, “Wahai hamba Allah! Siapakah namamu?” “Fulan” Jawab laki-laki tersebut. Ternyata nama itu sama dengan nama yang didengarnya dari awan tadi.

Maka Fulan balik bertanya, “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Ia menjawab, “Sesungguhnya aku mendengar suara dari dalam awan yang mencurahkan air ini, ‘Siramlah kebun si Fulan’, dan nama itu persis namamu, apa yang telah kamu perbuat?“

Fulan menjawab, ”Karena engkau bertanya seperti itu, ketahuilah sesungguhnya aku selalu memperhatikan hasil dari kebun ini. Sepertiga hasilnya aku sedekahkan, sepertiga aku makan bersama keluargaku, dan sepertiga aku gunakan untuk bibit.”

-------

*Naskah yang lolos per 14 Maret 2017 

Rabu, 12 April 2017

Puasa

Oleh: Ja`far Shiddiq

Puasa
Membuat orang jadi mulia
Karena khasiatnya
Yang sangat berguna

Puasa
Tidak hanya di bulan Ramadhan
Ya, puasa sunnah namanya

Puasa
Harus berniat karena-Nya
Agar mendapat ridha-Nya
Agar mendapat surga
Surga Allah Ta’ala


------
*Naskah ini lolos KUSEN per tanggal 14 Februari 2017 

Selasa, 11 April 2017

Aku Ingin Surga

Oleh: A. Yusuf Wicaksono

“Ya Allah, aku memohon kepadamu, agar aku bertemu musuh esok hari. Lalu mereka membunuhku, merobek perutku, memotong hidung dan telingaku,” pinta Abdullah bin Jahsy kepada Allah sehari sebelum perang Uhud dimulai.

            Apakah permintaan itu wajar? Jika belum tahu alasannya, bisa jadi kita akan katakan permintaan seperti itu adalah permintaan yang “aneh”, atau bisa juga ada yang mengatakan permintaan “gila”. Namun benarkan demikian? Coba dengarkan lanjutan pinta Abdullah bin Jahsy, “Setelah itu di akhirat, Engkau (Allah) menanyakan itu semua. Lalu aku menjawab bahwa itu semua aku lakukan dalam rangka berjihad di jalan-Mu.”

            Ternyata. Ia mengharapkan hidung terpotong, telinga terpotong, semua untuk bukti di hadapan Allah ketika hari pertanggungjawaban. Tidak ada yang aneh sekarang, tidak ada perkataan gila, tapi itulah bukti iman.

            Tidak jauh beda dengan Abdullah bin Jahsy, ketika perang Khaibar seorang Arab Badui yang dikisahkan Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadawi dalam kitabnya Kisah Nabi Muhammad untuk Remaja  pun juga demikian. Perang Khaibar adalah perang kaum muslimin melawan Yahudi. Kaum muslimin harus menghancurkan benteng-benteng pertahanan Yahudi yang cukup banyak. Atas izin Allah, benteng-benteng Yahudi berhasil direbut oleh kaum muslimin, namun peperangan belum selesai. Masih ada beberapa benteng yang harus mereka kalahkan.

            Di tengah kemenangan yang belum tuntas itu, kaum muslimin telah mendapatkan banyak harta ghanimah. Seperti peperangan yang lain, setiap mendapat harta ghanimah Rasulullah akan membagikannya kepada para sahabat secara adil. Begitu juga dengan hasil ghanimah Khaibar, Rasulullah memberikan jatah kepada masing-masing pasukan, termasuk kepada seorang Arab Badui yang saat itu ikut dalam peperangan. Rasul memberikan jatah kepadanya. Saat bagian itu sampai pada dirinya, ia kaget dan mengatakan, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Bagian yang telah diberikan oleh Rasulullah.” Ia pun  mengambilnya dan mambawanya kepada Rasulullah.

            Di hadapan beliau, orang ini berkata, “Apa ini, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagianmu.” Ia berkata lagi, “Bukan untuk ini saya mengikuti anda. Saya mengikuti anda agar leher saya ini tertembus panah, lalu saya mati, dan masuk surga.”

            Keberhasilan untuk bermimpi seperti dua orang tadi bukan suatu hal yang mudah. Mimpi ingin bertemu musuh, lalu ia dibunuh olehnya, bagi sebagian orang itu sesuatu yang asing. Apalagi jika benar-benar berangkat dan berperang secara langsung dalam medan jihad, kalau bukan keimanan kepada Allah, apa lagi yang bisa meringankan. Karena memang, banyak hal yang harus dikalahkan ketika seseorang hendak berjihad. Mereka terlebih dahulu harus melawan hawa nafsunya yang mengajak bersantai-santai. Mereka harus melawan rasa nyamannya, serta apa-apa yang dapat memalingkan dari berjihad, yang pasti apa-apa yang bisa memalingkan dari keutamaan berjihad itu adalah sesuatu yang “nikmat”.

            Seperti halnya jihad, amalan satu ini satu ini perlu melawan banyak hal agar bisa menuai keberhasilan. Seseorang harus tinggalkan rasa nyamannya, tinggalkan perbuatan yang biasanya dibolehkan, dan ini bukan urusan mudah. Amalan ini adalah puasa. Kita ambil contoh perbuatan, makan dan minum adalah sesuatu yang biasa, bahkan tidak ada larangan. Tapi saat puasa, semua itu harus ditahan. Seseorang harus menahan lapar dan dahaga mulai terbit fajar hingga waktu maghrib telah datang. Cukup lama, tapi itu yang harus dilakukan.

            Selain itu banyak hal yang juga harus seseorang lawan untuk tidak dilakukan. Yaitu menahan, menahan nafsu yang dapat mengurangi pahala dari puasa yang dilakukan.  Apa saja itu? Nah ini PR untuk kalian para pembaca.

            Sebagaimana janji Allah, ketika semua itu telah dilakukan Syaikh Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di dalam menafsirkan surat al-Baqarah ayat 183 di kitab Tafsir al-Qur’annya menjelaskan, kemudian Allah menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman,  “Agar kamu bertaqwa,” karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan.


Maka Allah perintahkan manusia untuk  berpuasa agar mereka menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. Mereka menjadi semakin dekat dengan Allah, dan kelak dari pintu Ar-Royyan para pelaku puasa ini akan dipanggil untuk masuk surga.  

Jangan Mau Rugi!

Oleh: Amin Novianto 

Merugi, merugi, merugi
Ini kata Sang Nabi
Sesiapa yang bertemu bulan ini
Tidak mendapat ampunan Ilahi

Bulan apakah ini?
Bulan ini berlimpah kebaikan
Bulan ini penuh ampunan
Bulan ini bulannya Al-Qur'an
Bulan ini, ada pahala yang lebih baik dari 1000 bulan
Bulan ini adalah Bulan Ramadhan
Mari sambutlah ia dengan sebaik-baik persiapan


Rabu, 05 April 2017

Resensi Kitab Muslim Hebat “Mengubah Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa”



Oleh: Wahyu Setyawan 

Judul: Muslim Hebat “Mengubah Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa”
Karya: Abu Umar Abdillah
Penerbit: Ar-Risalah
Harga: Rp 80.000,- (belum termasuk diskon)
HC: 309 hlm

Imam Syafi’i rahimahuLlah tidak lahir dalam keadaan telah hafal Juz ‘Amma. Imam Ahmad tidak lahir dalam keadaan hafal hadits Arba’in. Mereka lahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, sebagaimana juga kita. Lalu Allah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati. Lalu mereka mensyukuri nikmat tersebut, menjaganya, memanfaatkan sebagaimana mestinya, hingga mereka menjadi manusia ‘super’; faqih dalam bidangnya masing-masing. 

Setiap insan yang Allah ciptakan memiliki berbagai potensi masing-masing. Tergantung bagaimana potensi itu dikembangkan, yang kemudian akan dilejitkannya menjadi potensi yang dahsyat.

Dalam kitab ini; Muslim Hebat “Mengubah Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa”, penulis menginginkan setiap muslim melejitkan potensinya, menjadi pribadi muslim yang kuat, sehingga ia mampu melejitkan potensi dan cita-citanya. Meskipun kendala di setiap pribadi berbeda-beda, namun bekal diri tetaplah sama.

Menjadi manusia sempurna memang tidak mungkin. Tapi menjadi manusia yang mampu menjadi rujukan manusia di zamannya dan generasi setelahnya tidaklah mustahil. Bukan untuk keren-kerenan, namun demi teraihnya nilai plus di sisi Allah. Karena orang yang dijadikan pelopor, rujukan, dan penyeru dalam kebaikan akan mendapatkan pahala kebaikannya sendiri, serta pahala orang yang mengikutinya.

Penulis menjelaskan, sejarah Islam sedemikian kaya akan lembaran-lembaran yang mencatat manusia-manusia ‘super’ yang menjadi rujukan dalam kebaikan bagi orang-orang setelahnya. Seperti, para sahabat, ada para ulama salaf, imam fuqaha’, dan para muhadditsin (ahli hadits), ulama-ulama yang ahli hukum halal haram.

Nah, Penulis memulai dengan Bagian pertama tentang “Potensi dan Cita-cita”, pada bagian ini merupakan bekal yang harus dipegang oleh setiap muslim. Bagian kedua tentang “Kendala Diri”, bagian ketiga “Bekal Diri”, bagian keempat “Karakter”, bagian kelima “Prestasi”, bagian keenam “Pengusir Penat”. Dengan berbekal keenam bagian tersebut, pembaca dapat menyelaminya sampai kedasar bagian paling dalam, dan mengambilnya keluar permukaan untuk melejitkan potensi yang berada dalam dirinya.

Karena, “Modal Mereka Sama dengan Modal Kita”, tak ada alasan untuk pesimis, karena  sarana yang telah Allah berikan kepada makhlukNya sama halnya dengan apa yang telah dikaruniakan kepada para ulama; semisal Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, begitu dengan para ulama Imam Madzhab. Potensi yang setiap Muslim punya sama dengan potensi yang mereka punya, dan kita memulai dari start yang sama pula.

Buku yang dahsyat ini perlu dimiliki oleh setiap muslim, yang ingin mengubah pribadi yang biasa menjadi luar biasa. Pribadi yang ingin menyelami potensi pada dirinya dan memunculkannya. Anda akan dapatkan bekal-bekal melejitkan potensi dan meraih cita-cita, serta motivasi-motivasi hebat dari kisah-kisah kalangan ulama, sahabat-sahabat utama, bahkan orang-orang yang beliau tuturkan setiap bagiannya. Segera miliki buku ini. Selami dan gali setiap bagiannya, akan engkau rasakan manfaatnya. Jadikan dirimu menjadi pribadi muslim yang hebat, dan lejitkan potensi dan cita-cita dirimu. Semoga bermanfaat...



Manfaat nan Lezat Bersama Al-Qur`an


Oleh: Zakiy Zakaryya Ali

Inilah salah satu mukjizat Al-Qur’an. Apabila kita baca dan tadaburi pasti tidak akan merasa jenuh. Maka, berapa banyak buku yang telah kalian baca berulang-ulang karena kagum? Mengulang sekali dua kali mungkin ya, tapi pasti kalian akan merasa jenuh juga akhirnya. Berbeda dengan Al-Qur’an. Semakin sering kita mengulanginya, maka semakin bertambahlah nikmat di setiap membacanya. Semakin kita membacanya lagi dan lagi, pasti kalian akan menemukan kelezatan dan kebahagiaan baru yang belum pernah kalian rasakan sebelumnya.

Sekarang teman-teman percaya nggak kalau Al-Qur’an itu bikin ketagihan yang baca? Kalau sobat belum percaya, buktikan saja! Karena yang tidak baca Al-Qur`an, bahkan hidupnya jauh dari Al-Qur`an, pasti tidak akan merasakan manfaat yang sekaligus lezat ini.

Nah, selain itu membaca membuat pembaca ketagihan, Al-Qur’an ini juga membuat kita untung. Tahu kenapa? Karena siapa yang membaca Al-Qur’an pasti Allah akan memberikan pahala kepada pembacanya.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kalilipat.” (HR.Tirmidzi).

Nah, apakah kalian ingin mendapatkan kelezatan dan keuntungan dari Al-Qur’an? Jika ingin, bacalah Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Karena ia adalah sebaik-baik panduan hidup!