Selasa, 11 April 2017

Aku Ingin Surga

Oleh: A. Yusuf Wicaksono

“Ya Allah, aku memohon kepadamu, agar aku bertemu musuh esok hari. Lalu mereka membunuhku, merobek perutku, memotong hidung dan telingaku,” pinta Abdullah bin Jahsy kepada Allah sehari sebelum perang Uhud dimulai.

            Apakah permintaan itu wajar? Jika belum tahu alasannya, bisa jadi kita akan katakan permintaan seperti itu adalah permintaan yang “aneh”, atau bisa juga ada yang mengatakan permintaan “gila”. Namun benarkan demikian? Coba dengarkan lanjutan pinta Abdullah bin Jahsy, “Setelah itu di akhirat, Engkau (Allah) menanyakan itu semua. Lalu aku menjawab bahwa itu semua aku lakukan dalam rangka berjihad di jalan-Mu.”

            Ternyata. Ia mengharapkan hidung terpotong, telinga terpotong, semua untuk bukti di hadapan Allah ketika hari pertanggungjawaban. Tidak ada yang aneh sekarang, tidak ada perkataan gila, tapi itulah bukti iman.

            Tidak jauh beda dengan Abdullah bin Jahsy, ketika perang Khaibar seorang Arab Badui yang dikisahkan Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadawi dalam kitabnya Kisah Nabi Muhammad untuk Remaja  pun juga demikian. Perang Khaibar adalah perang kaum muslimin melawan Yahudi. Kaum muslimin harus menghancurkan benteng-benteng pertahanan Yahudi yang cukup banyak. Atas izin Allah, benteng-benteng Yahudi berhasil direbut oleh kaum muslimin, namun peperangan belum selesai. Masih ada beberapa benteng yang harus mereka kalahkan.

            Di tengah kemenangan yang belum tuntas itu, kaum muslimin telah mendapatkan banyak harta ghanimah. Seperti peperangan yang lain, setiap mendapat harta ghanimah Rasulullah akan membagikannya kepada para sahabat secara adil. Begitu juga dengan hasil ghanimah Khaibar, Rasulullah memberikan jatah kepada masing-masing pasukan, termasuk kepada seorang Arab Badui yang saat itu ikut dalam peperangan. Rasul memberikan jatah kepadanya. Saat bagian itu sampai pada dirinya, ia kaget dan mengatakan, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Bagian yang telah diberikan oleh Rasulullah.” Ia pun  mengambilnya dan mambawanya kepada Rasulullah.

            Di hadapan beliau, orang ini berkata, “Apa ini, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagianmu.” Ia berkata lagi, “Bukan untuk ini saya mengikuti anda. Saya mengikuti anda agar leher saya ini tertembus panah, lalu saya mati, dan masuk surga.”

            Keberhasilan untuk bermimpi seperti dua orang tadi bukan suatu hal yang mudah. Mimpi ingin bertemu musuh, lalu ia dibunuh olehnya, bagi sebagian orang itu sesuatu yang asing. Apalagi jika benar-benar berangkat dan berperang secara langsung dalam medan jihad, kalau bukan keimanan kepada Allah, apa lagi yang bisa meringankan. Karena memang, banyak hal yang harus dikalahkan ketika seseorang hendak berjihad. Mereka terlebih dahulu harus melawan hawa nafsunya yang mengajak bersantai-santai. Mereka harus melawan rasa nyamannya, serta apa-apa yang dapat memalingkan dari berjihad, yang pasti apa-apa yang bisa memalingkan dari keutamaan berjihad itu adalah sesuatu yang “nikmat”.

            Seperti halnya jihad, amalan satu ini satu ini perlu melawan banyak hal agar bisa menuai keberhasilan. Seseorang harus tinggalkan rasa nyamannya, tinggalkan perbuatan yang biasanya dibolehkan, dan ini bukan urusan mudah. Amalan ini adalah puasa. Kita ambil contoh perbuatan, makan dan minum adalah sesuatu yang biasa, bahkan tidak ada larangan. Tapi saat puasa, semua itu harus ditahan. Seseorang harus menahan lapar dan dahaga mulai terbit fajar hingga waktu maghrib telah datang. Cukup lama, tapi itu yang harus dilakukan.

            Selain itu banyak hal yang juga harus seseorang lawan untuk tidak dilakukan. Yaitu menahan, menahan nafsu yang dapat mengurangi pahala dari puasa yang dilakukan.  Apa saja itu? Nah ini PR untuk kalian para pembaca.

            Sebagaimana janji Allah, ketika semua itu telah dilakukan Syaikh Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di dalam menafsirkan surat al-Baqarah ayat 183 di kitab Tafsir al-Qur’annya menjelaskan, kemudian Allah menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman,  “Agar kamu bertaqwa,” karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan.


Maka Allah perintahkan manusia untuk  berpuasa agar mereka menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. Mereka menjadi semakin dekat dengan Allah, dan kelak dari pintu Ar-Royyan para pelaku puasa ini akan dipanggil untuk masuk surga.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar