Rabu, 26 April 2017

Di Antara Hujan dan Ujian, Ada Kamu


Di Antara Hujan dan Ujian, Ada Kamu

Assalamu'alaikum. Gimana, Fren? Masih bisa merasakan indahnya dunia 'kan?

Kali ini, Abang mau mengajak kamu ngobrol tentang ujian. Yang sering bikin keringatan, jantung berdebaran, ampe bisa pada pingsan! Tapi, tenang saja. Abang nggak mengajak kamu tambah stres gara-gara ngobrol tentang ujian. InsyaAllah kita mau berbincang 'sersans' (serius plus santai-santai senang) bagaimana caranya menghadapi si ujian itu. So, nanti kita bukannya stres dibuatnya, tapi sukses karenanya. Dia mau datang kapan aja, kita mah enteng saja sambil menjawab, "Sini kalo brani!"

Apalagi Indonesia kan punya musim hujan. Jadi, sangat cocok kalau kita berbincang tentang ujian. Lho ... Apa hubungannya? Hehe...Tentu saja ada.

Hujan menyerbu bumi dengan peluru-peluru airnya tiada henti. Kadang, rintik saja. Sering, derasnya tak menyisakan jeda. Lama pula.

Suatu saat, diawali dengan tetes kecil ... Lalu makin banyak tetesannya...Dan akhirnya: DERASNYA NYATA.

Di saat lain, langsung BRESSS! Deras airnya membasahi bumi, baju, jemuran, jempol kaki...Tanpa permisi, tanpa basa-basi.

Dan semua itu adalah anugerahNya, lho. Jemuran yang belum sempat diambil, bisa jadi karena memang perlu "dicuci ulang". Biar makin kinclong luar dalam. Badan yang basah kehujanan, anggap saja sebagai bonus mandi dari Allah. Jarang-jarang mandi pakai air dari langit langsung 'kan?

Belajarlah dari masa kecil kita yang bahagia, ceria, penuh kenangan indah tiada tara...(kecuali kamu yang MALAKE alias masa lalu kelam. Jarang main di luar, kebanyakan di depan TV or main games doang, temannya cuman itu itu aja. Alias 4L: lu lagi lu lagi...Tapi nggak papa dan mama. Kalau kamu mulai berubah, kamu pasti lebih "wow" dan wah. Iya lah! Karena berubahnya menuju masa depan yang cerah: menggapai Jannah!

Jadi? Perhatikanlah anak anak kecil itu. Makin deras hujan yang turun, makin girang mereka hujan-hujanan. Lihatlah, betapa asyiknya mereka bermain di tengah guyuran air hujan! Honestly, sampai sekarang pun Abang masih sering hujan-hujanan...Makin bikin badan segerrrrr!!!!

Nah, anak-anak sekalian, kita bisa belajar dari hujan. (Iya, Pak Guruuuuuuuu....!!!) Air itu turun ke bumi. Membawa tetes-tetes air (bukan uang lho! Apalagi yang recehan. Kalau recehan logam, nanti bisa membuat pecah genteng-genteng rumah termasuk kepala kita...Ups!...SubhanaLlah. Makasih ya Allah, Engkau turunkan hujan dalam bentuk lembut seperti air.

Kata Rasulullah, ada 3 model tanah di bumi yang akan menerimanya.
1. Ada tanah yang mampu menyerap air hujan itu dengan baik. Lalu berbagai tanaman tumbuh dengan rimbun di atasnya. Itulah tanah yang subur.
2. Ada yang tanahnya keras, yang mampu menampung air. Sehingga ada yang bisa memakainya. Ada yang buat irigasi, ada yang buat minum dsb. Seperti reservoir aif, seperti dam.
3. Ada yang bersifat bebatuan. Tak bisa menyerap air. Air yang datang berlimpah, nggak ada yang mampu dimanfaatkan. Terbuang percuma, mubadzir. Padahal, yang suka berbuat mubadzir itu adalah .... (Hayo, yang tahu angkat tangan).

Sebenarnya, perumpamaan di atas digunakan untuk pemahaman tentang agama dan ilmu pengetahuan. Tapi, kali ini hendak kita gunakan untuk berbincang tentang hujan dan ujian.

Begini. Anggaplah hujan = ujian. Sedang tanah di bumi = kita. Mau nggak mau, senang ataupun hepi, hujan tetap turun ke bumi. Jadi terserah kamu! Bagaimana menyikapinya, mau jadi tanah model apa.

Yang subur, sehingga hujan bisa menumbuhkan kesuburan potensi yang berbuah prestasi?

Atau yang bisa menampung air, sehingga tetap bisa diambil hikmah manfaatnya?

Atau cuman seperti batu yang keras, yang nggak dapat apa-apa? Wah, bisa 'banjir' masalah. Jadi stress sampai depresi malah. Haduh!

Makanya, tentukan sikap dari sekarang! Jadi yang mana?

Sumber: Ditulis ulang dan diubah seperlunya dari buku "Ujian Sukses tanpa Stress"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar