Rabu, 31 Mei 2017

Hamka: Anak Nakal Jadi Ulama #5

Oleh: Ridwan Hidayat 

Di masa remaja, ia mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan hati. Perceraian ayah dan ibunya membuat Malik semakin terpukul. Kehadiran ibu Malik selama ini rupanya sangat tidak disukai saudara perempuan ayahnya. Sering kali terjadi pertengkaran antara saudara perempuan ayah dengan ibunya. Tapi Haji Rasul tak mampu menghadapi kuatnya adat dalam masalah perkawinan. Ia tak memiliki kuasa untuk menjaga hubungan suami istri. Konflik yang terjadi bukan antara ayah dan ibu malik, melainkan antar keluarga. Perundingan untuk rukun gagal, perceraian jalan terakhir. Malik sedihnya bukan main. Ia dan adik nomor duanya dipilih tinggal dengan ayah. Sedangkan adik perempuan nomor tiga dan empat ikut ibunya.

Sejak itu ia sudah tak pernah lagi di rumah. Di rumah hanya waktu makan saja. Tak ada lagi yang dijadikan pedoman dalam hidup. Kian hari kian renggang  hubungan dengan ayahnya. Ia hidup sesuka hatinya. Bertualang ke mana-mana, untuk menghibur duka. Selama setahun lamanya hingga umur 13 tahun ia hidup bertualang. Ia hanya pulang kalau ayahnya tidak di rumah. Selama pergi ia ikut bersilat. Kadang suka berkelahi. Berkelahinya tak tanggung-tanggung sampai menggunakan pisau yang membuat diri dan lawannya terluka serius. 

Terkadang, ia juga asyik melihat pacuan kuda, menonton permainan judi, dan sambung ayam.
Haji Rasul sudah mulai cemas melihat anaknya yang diharapkan bisa menjadi ulama ini belum juga berubah. Memasuki usia remaja, Malik bukannya tambah alim tetapi tambah menjadi nakalnya. Di keluarga, Malik sudah di cap anak nakal dan dianggap sudah sulit diperbaiki. Seolah, sudah tidak ada harapan menjadi penerus ayahnya. Haji Rasul kemudian memutuskan agar Malik mengaji ke Parabek, lima kilometer dari Bukittinggi. Parabek merupakan tempat mengajar seorang ulama besar bernama Syeik Ibrahim Musa.

Beberapa bulan mengaji di Parabek ternyata juga tak ada perubahan. Kawan-kawan mengajinya di kelas rata-rata sudah berumur 20 sampai 30 tahun. Malik paling muda sendiri, masih 14 tahun. Tapi ia senang di tempat ini, karena bisa lebih bebas dari perhatian ayahnya. Sikapnya yang mudah bergaul membuatnya bisa kenal banyak orang. Mulai dari murid yang paling tua hingga muda dikenalnya. Begitu juga dengan warga kampung, ia mudah sangat akrab. Pergaulannya yang luwes tetap menjadikan dirinya lebih senang bermain daripada belajar, termasuk membuat ulah yang menghebohkan warga kampung.

Bersambung ke edisi 6 ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar