Jumat, 05 Mei 2017

Ini Tentang Kehormatan Diri


Oleh: Adik Yusuf Wicaksono

Sa’id bin Musayyab pernah menolak ribuan dirham demi kohormatannya. Dawud Ath-Thai pun juga demikian. Apalagi Hammad bin Salamah, ia menolak dirham-dirham yang jumlahnya lebih besar.

Mendengar kisah orang-orang shalih sekaligus penuntut ilmu dalam menjaga kehormatan dirinya ini, saya jadi teringat masa kecil silam. Saya pernah dimarahi habis-habisan hanya lantaran menerima pemberian dari seorang tetangga. Sayangnya saya lupa apa pemberian itu, kalau tidak salah itu makanan, entah apa itu.

Ibu selalu mengingatkan untuk tidak pernah menerima pemberian orang lain. Segala jenis pemberian tepatnya. Maka ketika saya bermain ke rumah tetangga, jika ditawari sesuatu pasti saya menolaknya. Aslinya mau, dan menginginkannya. Tapi karena ingat, jika saya terima pasti ibu tidak akan terima.

Bukan karena sombong, atau pun merasa kaya, saya kenal ibu tidak demikian. Semua itu beliau lakukan, demi menjaga kehormatan. Menerima pemberian itu beliau anggap merendahkan harga diri.  

Ketika saya dewasa, tepatnya saat mulai menyenangi membaca. Ada buku-buku perjalanan para ulama dalam menuntut ilmu yang saya baca. Saya temukan nama-nama sebagaimana yang telah saya tuliskan di awal tulisan ini. Itu baru tiga nama, masih banyak ulama-ulama lain yang menjaga kehormatan dirinya untuk tidak menerima pemberian dari penguasa atau sekadar upah atas ilmu yang diberikan. Saya jadi tersadar setalah menghubung-hubungkan antara kisah-kisah itu dengan masa kecil silam, betapa mulia nasihat ibu. Secara tidak langsung menyuruh anaknya untuk menjaga kehormatan dirinya.

Coba kita buka lembaran-lembaran yang menceritakan ulama-ulama yang luar biasa itu, saya ambil Dawud Ath-Thai. Kisah ini bisa kalian temukan dalam kitab Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu yang ditulis Abu Anas Majid Al-Bankani. Suatu ketika Muhammad bin Qahthabah Al-Kufi mencari seorang guru untuk anaknya. Ia mencari seorang guru yang hafal Al-Qur’an, faham sunnah, mengerti fikih, nahwu, syair, dan sejarah. Ada orang yang mengusulkan nama kepadanya, ia mengatakan, “Tidak ada yang seperti itu kecuali Dawud Ath-Thai.”

Kemudian Muhammad bin Qahthabah Al-Kufi mengirimkan 10.000 dirham untuk memenuhi kebutuhan calon guru anaknya. Namun Dawud menolaknya. Masih belum terima, ia pun mengirim lagi 20.000 dirham yang dibawa oleh dua orang budak, dan ia pun berkata, “Bila ia (Dawud Ath-Thai) menerimanya, kalian berdua merdeka.”

Siapa yang tidak ingin merdeka? Pasti semua menginginkannya, termasuk dua budak ini. Ia bawa dirham-dirham itu dan memberikannya kepada Dawud. Mereka mengatakan, “Jika anda terima, kami akan terbebas.”

“Saya takut,” jawab Dawud. Ia pun melanjutkan, “Apabila saya terima akan menjerumuskan saya ke dalam neraka.” Lantas ia kembalikan dirham-dirham itu dan mengatakan kepada keduanya, “Katakan kepadanya (Muhammad bin Qahthabah Al-Kufi) bahwa jika diberikan kepada orang yang membawanya, itu lebih baik daripada diberikan kepadaku.”

Bukan jumlah yang sedikit 20.000 dirham itu, namun tetap saja ia tidak mau menerimanya. Ini pilihan. Tapi begitulah para ulama-ulama mulia, menjaga diri dari hal-hal yang menghalangi dari menuntut ilmu lebih mereka utamakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar