Jumat, 30 Juni 2017

HAMKA: ANAK NAKAL JADI ULAMA #6

Oleh: Ridwan Hidayat

Beberapa bulan mengaji di Parabek ternyata juga tak ada perubahan. Kawan-kawan mengajinya di kelas rata-rata sudah berumur 20 sampai 30 tahun. Malik paling muda sendiri, masih 14 tahun. Tapi ia senang di tempat ini, karena bisa lebih bebas dari perhatian ayahnya. Sikapnya yang mudah bergaul membuatnya bisa kenal banyak orang. Mulai dari murid yang paling tua hingga muda dikenalnya. Begitu juga dengan warga kampung, ia mudah sangat akrab. Pergaulannya yang luwes tetap menjadikan dirinya lebih senang bermain daripada belajar, termasuk membuat ulah yang menghebohkan warga kampung.

Hanya beberapa bulan saja mengaji di Parabek. “Yang lebih tepat kalau dikatakan 'menganji'; mengacau dari pada mengaji,” cerita Hamka di Kenang-kenangan jilid 1. Ia pulang ke Padang Panjang. Kepulangannya justru malah belajar pidato adat. Kepintaran pidato membuat sang kakek Datuk Radjo Endah mulai suka padanya. Tetapi ayahnya tetap tidak senang. Semestinya Malik harus segera kembali ke Parabek. “Beliau hanya marah-marah saja, melihat bukan buku nahwu dan sharaf yang banyak dibacanya, tetapi buku cerita, roman dari penyewaan buku, buku Minangkabau,” cerita Hamka lagi. Ia juga kedapatan menulis surat kepada gadis-gadis.

Tak hanya itu, Malik cukup sering bertemu dengan kawannya bernama Ajun Sabirin. Dari Ajun Sabirin ia bisa mendapatkan surat kabar seperti Caya Sumatera, Sinar Sumatera, Hindia Baru. Dari membaca surat kabar itu, ia melihat satu hal yang menarik, “Tanah Jawa!” Niat untuk mengembara ke tanah Jawa merasuk hatinya. Tanpa seizin ayah, ia putuskan nekat pergi ke Jawa. Iya yakin, kalau izin pasti dilarangnya. Tapi, upaya ke tanah Jawa itu gagal ketika dalam perjalanan ia terserang sakit cacar dan malaria. Untungnya, ada kerabat kampung yang mau merawat dan mengembalikan pulang ketika ia singgah di Dusun Napal Putih.

Sembuh dari sakit dan kembali pulang, wajahnya menjadi menjadi buruk rupa. Bekas-bekas cacar yang dideritanya merusak wajah. Sakit malaria yang hinggap menjadikan rambut rontok. Malik menjadi bahan ejekan dan hinaan yang menambah sakit hatinya. Hanya modal semangat dan percaya diri yang membuatnya mencoba bangkit dari berbagai hinaan; “Anak nakal dan wajah jelek.”


BERPAYAH-PAYAH DEMI MASA DEPAN


Oleh: M. Fatan Fantastik 

Satu di antara syarat untuk meraih ilmu, kata Imam Syafi'i,  adalah kesungguhan.  Kesungguhan dalam waktu lama, dalam usaha meraup ilmu nan mulia.

Tanpa kesungguhan,  yang mudah pun terasa susah dan melelahkan.  Dengan kesungguhan,  berpayah-payah ikhtiar pun terasa nikmat nian.

Ada pencari ilmu yang membaca kitab induk di bidang yang digelutinya berkali-kali. Lagi, dan lagi. Bahkan mengulanginya hingga 100 kali.
Ada pencari ilmu yang rela begadang bermalam-malam demi menyimak nasehat gurunda. Bila kantuk tiba, sang guru memercikkan air ke wajahnya, agar kembali terjaga.

Ada yang memilih menjual rumah, kendaraan, bahkan pakaian, demi membeli pena dan buku.
Ada yang bercapek berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya, demi menemui para guru.

Ada pula yang rela menunda nikah, demi ilmu. #Eh... Bagaimana denganmu?



SUNGGUH MULIA FIRMANNYA


Oleh: M. Chazim

Jika disebut Al-Qur`an, itu hanya satu di antara sekian namanya. Di antara nama-nama Al-Qur’an lainnya adalah Az-Zikr, Asy-Syifa`, Al-Furqan, dan Al-Kitab. Selain mempunyai nama-nama tersebut, Al-Qu`ran juga mempunyai keutamaan bagi pembacanya dan penghafalnya lho. Teman-teman ingin mendapatkan keutamaan itu?

Mari kita simak beberapa keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur`an:
  1. Perdagangan yang tidak merugikan. Tandanya untung terus. Semakin sering baca Al-Qur`an, semakin banyak pahala yang didapat.
  2. Menjadi manusia yang terbaik
Rasulullah ShallaLlahu 'Alaihi wa Sallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Utsman radhiyallahu 'anhu bersabda: “Yang terbaik di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
  1. Memiliki kedudukan sama dengan malaikat pembawa kitab yang mulia dan baik
  2. Derajat yang tinggi di sisi Allah
  3. Mendapat syafa`at saat hari Kiamat yaitu di Padang Mahsyar
  4. Memperoleh tingkatan surga yang tinggi
Inilah beberapa keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Sebenarnya masih banyak, namun cukup itu dulu ya. Sekarang, karena sudah tahu keutamaannya, wudhulah dulu, ambil Al-Qur`an dan mulailah teman-teman baca Al-Qur`an. Lebih baik lagi segera menghafalnya. Sungguh mulia firman Allah. Semoga kita jadi mulia karena Al-Qur`an. Aamiin. 

Rabu, 28 Juni 2017

HAFAL AL-QUR`AN SEJAK KECIL

Oleh: Fajar Yunan Fanani

Apa kabar iman teman-teman sekalian? Sholatnya sudah tepat waktu? Selanjutnya, apakah teman-teman sudah membaca Al-Qur`an? Jika ada yang belum baca, silahkan membaca Al-Quran   dahulu. Dijamin hati akan menjadi tenang. Dapat pahala lagi.

 Setelah ini, saya mau menceritakan kisah ulama yang dengan Al-Qur`an, orang ini mulia di dunia dan di akhirat. Ulama ini bernama Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Kita lebih sering mengenalnya dengan nama Imam Nawawi.

Imam Nawawi adalah seorang yatim sejak kecil. Beliau lahir pada bulan Muharam tahun 631 H di desa Nawa (yaitu sebuah kampung di Damaskus). Ibu dan bapaknya adalah seorang yang shalih. Beliau sejak kecil sudah tidak senang dengan bermain. Apakah teman-teman masih suka bermain? Tetapi anak ini sangat berbeda dengan anak-anak yang lain. Jika diajak bermain oleh teman-temannya Imam Nawawi malah menangis. Hal ini membuat teman-temannya tidak suka berkumpul dengan Imam Nawawi. Lalu apa yang Imam Nawawi lakukan jika tidak bermain? Sobat tahu? Ternyata alah satu hal yang disukai Imam Nawawi adalah menghafal Al-Qur`an.
           
Saat Imam Nawawi dewasa, beliau menjadi ulama yang terhormat. Buktinya, Imam Nawawi telah menulis beberapa karya besar. Teman-teman tahu apa nama karyanya? Yaitu kitab Riyadush Shalihin, Hadits Arba'in An-Nawawiyah, Kitab Al-Adzkar, dan masih banyak lagi.


Semoga kita semua akan menjadi Imam Nawawi selanjutnya. Insya Allah. Dan jangan lupa semangat, ikhtiar, tawakal, dan niat yang lurus.

KARENA AL-QUR`AN

Oleh: Silvia Maharani

Engkau diturunkan olehNya
Dengan perantara Jibril malaikatNya
Melalui RasulNya
Untuk umat manusia
Dari masa Rasulullah hingga akhir dunia

 Engkau sebagai teman dan pembela
 Bagi hamba yang selalu membacamu
 Dan mengamalkan setiap ayatmu

 Engkau, naikkan derajat para pembacamu
 Bagi yang meniatkan mencari ridhaNya semata
 Serta mengharap pahala dariNya

 Engkaulah kitab mulia, Al-Qur`an TAMAN SURGA

Masjid, Peran dan Keutamaannya

Oleh: Wahyu Setyawan 

Islam adalah agama yang paling tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi dari padanya. Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril. Disampaikan kepada kekasihNya Muhammad; untuk umat seluruh dunia. 

Islam berkembang begitu pesat. Setelah perintah Allah sebelumnya untuk menyeru secara sembunyi-sembunyi, maka Allah perintahkan kepada RasulNya untuk menyampaikan secara terang-terangan. Awal dakwah Islam adalah melalui pintu-pintu rumah. Kemudian rumah salah satu sahabat bernama Arqam bin Abi Arqam dijadikan tempat awal mula lembaga Islam. Melalui bait al-Arqam, risalah Islam disebarkan.

Ketika dakwah Islam ditentang oleh kaum musyrikin Qurasiy, kaum Muslimin mendapatkan penganiyaan kejam oleh kafir Quraisy. Rasulullah serta para sahabat pun diperintahkan  hijrah ke Madinah. Kedatangan Muhammad disambut baik oleh penduduk Madinah (kaum Anshar).


Setelah sampai Madinah, perlu kita ketahui, RasuluLlah tidak kemudian terlena dan puas dengan kenikmatan kenyamanan dan fasilitas yang diberikan kaum Anshar.

Sobat tahu apa yang beliau lakukan kemudian?

Rasulullah bergegas memulai dakwahnya dengan membangun sebuah masjid di Madinah; Masjid Nabawi. Masjid Nabawi inilah cikal bakal pusat peradaban Islam kala itu. Di Madinah-lah  RasuluLlah dan para sahabat memulai dakwahnya. Masjid menjadi pusat peradaban dengan peran dan fungsinya sebagai pendidikan dan pengajaran.

Demikianlah. Masjid merupakan pusat kegiatan kaum Muslimin. Peranan masjid dan fungsinya haruslah menyentuh hingga ke lapisan-lapisan masyarakat. Bersahabat untuk orang tua, akrab dan mengakrabkan bagi remaja, pemuda, hingga anak-anak pun dekat dengan masjid.

Sudah semestinya kaum Muslimin memulai bangkit kembali, melalui masjid-masjid sebagai pusat sendi kehidupan. Sampai masjid itu benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat. Bahkan, jika orang merasa dalam masa kesulitan, himpitan, mereka tak perlu lagi lari ke sana ke mari untuk menyelesaikan masalahnya. Masjid haruslah jadi salah satu andil dalam problema masyarakat.

Lalu, siapakah yang menjadi pemakmur masjid? Dan yang memuliakan masjid?

Allah menjawab dengan tegas dalam firman-Nya, Qs. At-Taubah ayat 18:

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Allah menerangkan bagi mereka; orang-orang yang bisa memakmurkan masjid hanya mereka yang memiliki kriteria beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mendirikan shalat, menuaikan zakat dan tidak takut –kepada siapa pun – selain Allah. Inilah kriteria bagi mereka yang menjadi sahabat masjid, menjadikan masjid sebagai teman akrab, dan segala aktivitas untuk akhiratnya.

Kemudian, apa keutamaan bagi mereka yang hatinya terpaut dengan masjid?

 Sungguh beruntung, bagi mereka yang mengetahuinya. Allah jamin mereka dengan naunganNya kelak di hari Kiamat. Lalu pertanyaannya, Sobat mau dinaungi Allah?

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy)Nya pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naunganNya...(di antaranya): Seorang hamba yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari)



MASJIDIL AL-AQSHA ADALAH MILIK KITA

Oleh: Annafi`af Firdaus 

“Ya Rabbi, sesungguhnya aku berjanji kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha). Karena itu, terimalah janjiku ...” (QS. Al-Imran: 35)

Inilah janji seorang wanita mulia. Wanita yang namanya In Sya Allah kelak dipanggil malaikat penjaga surga. Seorang wanita, yang meski belum dikaruniai putra saat berumur renta, tidak pernah berputus asa dalam meminta. Dia yakin bahwa ketetapan Allah adalah terbaik baginya. Dia yakin, dengan belum dikaruniainya putra, ia diminta Sang Pencipta untuk lebih dekat denganNya. Hingga akhirnya, ia mengandung seorang wanita terbaik di zamannya; Maryam binti Imran.

Hannah binti Faqudz yang merupakan seorang ahli ibadah ini, sebenarnya ingin sekali memiliki putra. Seorang putra yang kelak mengabdi di Masjidil Aqsha. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Anak yang dikandungnya ternyata wanita. Meski begitu, Hannah tidak mengingkari janji. Ia tetap menyerahkan Maryam binti Imran kepada Allah sebagai ahli ibadah dan “pelayan” di Masjidil Al-Aqsha.

Inilah Masjidil Al-Aqsha yang menjadi saksi janji Maryam dan sang ibunda. Di tempat ini, Maryam yang diasuh oleh Nabi Zakariyya menjadi mulia karena ibadahnya. Ya. Maryam mulia karena ia menyerahkan hidupnya untuk beribadah dengan sungguh-sungguh kepada Allah.

Maka, apabila sejak 1948 hingga hari ini Zionis Israel laknatulullah ingin menghancurkan Masjidil Aqsha, apakah kita tidak tercabik-cabik?       Itu adalah tempat yang suci. Di sanalah, menjadi saksi bagaimana perjuangan Maryam binti Imran diragukan kesuciannya karena hamil tanpa ada pernikahan. Di kota Jerussalem (Palestina) itulah, tempat bersaksi para Nabi dan Rasul diutus dan berdakwah di sana. Sebuah kota yang menyediakan air minum untuk para utusan Allah, udara mereka hirup, tanah dipijak, serta tempat merebahkan tubuh mereka yang mulia.

Hari ini, Palestina dengan segala isi sejarahnya sedang berduka. Apakah mereka butuh kita?Justru kita yang butuh Palestina dan Masjidil Al-Aqsha ...

Bismillah. Ayo peka dengan yang terjadi dengan Palestina dan saudara Muslim lain yang sedang tertindas.

Senin, 26 Juni 2017

CURHAT LEZAT SOBAT

Bagaimana agar bisa membagi waktu untuk mengerjakan tugas sehingga tidak perlu begadang?
Wulandari, Solo

Jawaban:

Beruntunglah! Mereka yang bisa mengatur waktunya. Mereka tidak menyia-nyiakan sedikit pun waktunya kecuali untuk hal bermanfaat. Semoga kita semua, termasuk hambaNya yang bijak mengatur waktu.

Nah, ada beberapa tips untuk Sobat agar bisa mengatur waktu. Pertama, buatlah perencanaan kegiatan harian beserta target harian. Termasuk jam istirahat ya. Kedua, disiplinkan diri dengan jadwal yang sudah dibuat. Jika  memang ada pekerjaan yang butuh ekstra tambahan waktu, tetaplah atur dengan baik. Pun, apabila harus begadang dengan tujuan jelas dan bermanfaat yaitu mengerjakan tugas, tidaklah apa-apa. Bismillah...niatkan begadangnya untuk Allah. Maka, ilmu yang dipelajari pun semakin lezat.

Begitu!


KABAR-KABAR NAH 46





Assalamu`alaikum! Gimana kabar kabar iman Sobat? Semoga setiap berganti malam dan siang, semakin cinta sama Allah. Jiwa makin tergugah. Badan tetap bergairah. Siap kejar cita dengan payah. Hingga kaki menginjak Jannah!

Alhamdulillah. Allah masih mudahkan segala kegiatan kita ya. Termasuk pekerjaan mencari ilmu. Adalah kesungguhan; satu di antara syarat untuk mencari ilmu. Meski rintangan datang, menuntut ilmu itu terasa mudah dan nikmat.

Adalah Hamka. Seorang yang kecilnya nakal. Beliau saat itu sangat berkeinginan kuat untuk mencari ilmu di tanah Jawa. Hingga beliau kabur dari rumah karena takut sang ayah tidak mengizinkan. Apa yang terjadi kemudian? Silahkan Sobat simak di kolom percik ya!

Berbicara tentang menuntut ilmu. Di mana sih kita bisa mencarinya? Ya. Satu di antaranya di masjid. Ia seharusnya pusat peradaban keilmuan. Ia seharusnya tempat yang dicintai pemuda. Hingga jadilah pemuda yang melegenda. Dengan imannya, dengan kontribusinya. Siap?

TAMAN SURGA

Oleh: Amin Novianto 

Beruntungnya engkau wahai Muslim!
Di dunia ini ada taman surga
Yang engkau diseru datang ke sana
Sehari lima kali waktunya
Untuk menghadap kepada-Nya

Wahai Muslim inilah tempatnya!
Tempatmu menyungkurkan wajah
Hingga ia sama tinggi dengan kakimu
Sebab sesungguhnya engkau sedang meminta pada-Nya
Engkau sedang berserah padaNya
Dan inilah sebaik-baik tempat dunia
Masjid!


Kamis, 15 Juni 2017

Adab Makan

Oleh: Silvia Maharani 

1.    Tidak makan bawang putih dan bawang merah sebelum shalat

Bawang putih dan bawang merah dapat menimbulkan bau yang tidak sedap. Jika seorang akan pergi ke masjid, tentu akan menggangu jama’ah masjid dan malaikat, dan juga ia melanggar larangan Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Jika ia ingin memakan keduanya, maka makanlah setelah bawang tersebut dimasak karena bawang merah dan bawang putih yang sudah dimasak tidak menimbulkan bau yang tak sedap.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang memakan bawang putih dan bawang merah, hendaklah ia menjauh dari kami dan menyingkir dari masjid kami. Hendaknya ia duduk di rumahnya sendiri.”

Beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda:

“Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, atau daun bawang, maka janganlah ia mendekati masjid kami. Sebab, para malaikat juga merasa terganggu dengan sesuatu yang dapat menganggu manusia.”

2.    Tidak makan di jalan
Menurut para Salaf, makan di jalan merupakan sikap yang dapat merusak nama baik. Meskipun kebiasaan masyarakat akan berubah dari zaman ke zaman, dan para ulama tetap menganggap bahwa makan merupakan salah satu aurat. Orang yang makan di jalan akan terlihat oleh banyak orang. Oleh karena itu, sebaiknya hal ini ditinggalkan.

Ahmad bin Hanbal berkata: “Menurut kami makan dan tidur termasuk aurat.”

3.    Bersyukur atas nikmat yang diberikanNya
Seseorang wajib mensyukuri nikmat makan dan minum yang telah dianugerahkan kepadanya. Bersyukur tidak hanya sekedar mengucapkan doa dan dzikir, namun harus direalisasikan dengan menaati Allah swt. Sebab Allah menetapkan nikmat makan sebagai nikmat yang wajib disyukuri.

Allah berfirman:
“....Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: (172))

Allah menjadikan amalan ketaatan sebagai standar dari rasa syukur kepada seorang hamba. Jika seorang hamba telah merasakan nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan, hendaklah ia melaksanakan hak Allah sebagai tanda rasa syukur kepadaNya.

Ditulis ulang dari buku: Ensiklopedia Adab karya `Abdul `Aziz bin Fathi 


Senjata Penting Penuntut Ilmu:



1. Ikhlas
2. Beramal dengan ilmu dan menjauhi maksiat
3. Tawadhu
4. Menghormati ulama dan majelis ilmu
5. Bersabar dalam menuntut ilmu
6. Berlomba dalam menuntut ilmu
7. Jujur dan amanah
8. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya
9. Zuhud
10. Mengoptimalkan waktu
11. Mendiskusikan ilmu agar tidak terlupa
12. Menjaga wibawa dan rasa malu
13. Pergaulan yang baik

Rabu, 07 Juni 2017

Mulia atau Hina

Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Al-Quran
Dengan dirinya akan terlihat
Orang yang mulia
Dan orang yang terhina

Al-Quran
Orang akan mulia denganmu
Apabila selalu membacamu
Selalu mengamalkan apa yang ada dalam dirimu

Al-Quran
Dengan dirimu pula orang akan terhina
Selalu mencela
Selalu memalingkanmu dari wajahnya
Dan akan tahu akibatnya sendiri
Di akhirat kelak nanti

Sungguh agung firman-Nya
Sungguh mulia kitab-Nya
Yang berisi kegembiraan

Dan ancaman

Kemenangan Pemuda


Oleh: Annafi`ah Firdaus

Binasalah pemuda yang hidupnya tanpa Alquran
Sibuk kerja-kerja dunia telah melenakan 
Bermegah-megahan telah melalaikan
Jadilah mereka bak berjalan tanpa arah tujuan
Sungguh amat kasian
Hingga tak tahu ia sedang dihinakan

Bukankah sungguh telah dilapangkan baginya berbagai kenikmatan?
Bukankah telah dimudahkan pula mempelajari Alquran?
Kenapa engkau masih jauh dari kalam Tuhan?

Wahai pemuda sekali-kali sungguh jangan!
Jangan tinggalkan Alquran sebagai kawan!
Karena ia sebaik-baik panduan
Sebaik-baik menentukan arah tujuan
Ia adalah petunjuk dalam keselamatan
Dan ia adalah syarat kemenangan
Kemenangan dari Allah Sang Pemilik Keabadian

Yang Muda, Yang Bercahaya


Oleh: M. Fatan Fantastik 

Telah masyhur perkataan Imam Asy-Syafi'i saat menyampaikan nasehat dari gurunda Waki' untuk dirinya:

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”

Ya. Ilmu adalah cahaya. Maka siapa yang bersungguh-sungguh dan berbanyak mengambilnya, dia sedang membuat dirinya dilimpahi cahaya. Dan siapa yang enggan padanya, dia pada hakekatnya sedang membuat gelap meliputi dirinya...

Ya. Ilmu adalah cahaya. Cahaya dariNya. Maka bagaimana engkau hendak menangkapnya, tapi engkau bermaksiat kepadaNya?

Sungguh mempesona dia yang masih muda, dan rela berpayah-payah demi ilmu. Dia tak akan rugi, sungguh tak akan rugi.

Ingatlah jerih payah Ibnu Abbas menuntut ilmu, dan Allah jadikan beliau "tintanya" ummat ini. Ingatlah disiplin belajar Imam Milik di majlis para Syaikh hingga berpuluh tahun, hingga kelak Al-Muwaththa' tersusun.

Asy-Syafi'i, Al-Bukhari, As-Suyuthi, Diponegoro-Sentot, Sudirman, dan deretan para pendahulu nan shalih telah memberi teladan: tak pantas waktu muda dibuang-buang. Waktu muda adalah waktu untuk berjuang. Waktu untuk menempa jiwa. Waktu untuk menuntut dan mengamalkan ilmu.

Ya. Waktu muda adalah waktu untuk bercahaya: dengan idealisme, dengan cita-cita, dengan tanggung jawab. Itu!