Rabu, 28 Juni 2017

Masjid, Peran dan Keutamaannya

Oleh: Wahyu Setyawan 

Islam adalah agama yang paling tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi dari padanya. Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril. Disampaikan kepada kekasihNya Muhammad; untuk umat seluruh dunia. 

Islam berkembang begitu pesat. Setelah perintah Allah sebelumnya untuk menyeru secara sembunyi-sembunyi, maka Allah perintahkan kepada RasulNya untuk menyampaikan secara terang-terangan. Awal dakwah Islam adalah melalui pintu-pintu rumah. Kemudian rumah salah satu sahabat bernama Arqam bin Abi Arqam dijadikan tempat awal mula lembaga Islam. Melalui bait al-Arqam, risalah Islam disebarkan.

Ketika dakwah Islam ditentang oleh kaum musyrikin Qurasiy, kaum Muslimin mendapatkan penganiyaan kejam oleh kafir Quraisy. Rasulullah serta para sahabat pun diperintahkan  hijrah ke Madinah. Kedatangan Muhammad disambut baik oleh penduduk Madinah (kaum Anshar).


Setelah sampai Madinah, perlu kita ketahui, RasuluLlah tidak kemudian terlena dan puas dengan kenikmatan kenyamanan dan fasilitas yang diberikan kaum Anshar.

Sobat tahu apa yang beliau lakukan kemudian?

Rasulullah bergegas memulai dakwahnya dengan membangun sebuah masjid di Madinah; Masjid Nabawi. Masjid Nabawi inilah cikal bakal pusat peradaban Islam kala itu. Di Madinah-lah  RasuluLlah dan para sahabat memulai dakwahnya. Masjid menjadi pusat peradaban dengan peran dan fungsinya sebagai pendidikan dan pengajaran.

Demikianlah. Masjid merupakan pusat kegiatan kaum Muslimin. Peranan masjid dan fungsinya haruslah menyentuh hingga ke lapisan-lapisan masyarakat. Bersahabat untuk orang tua, akrab dan mengakrabkan bagi remaja, pemuda, hingga anak-anak pun dekat dengan masjid.

Sudah semestinya kaum Muslimin memulai bangkit kembali, melalui masjid-masjid sebagai pusat sendi kehidupan. Sampai masjid itu benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat. Bahkan, jika orang merasa dalam masa kesulitan, himpitan, mereka tak perlu lagi lari ke sana ke mari untuk menyelesaikan masalahnya. Masjid haruslah jadi salah satu andil dalam problema masyarakat.

Lalu, siapakah yang menjadi pemakmur masjid? Dan yang memuliakan masjid?

Allah menjawab dengan tegas dalam firman-Nya, Qs. At-Taubah ayat 18:

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Allah menerangkan bagi mereka; orang-orang yang bisa memakmurkan masjid hanya mereka yang memiliki kriteria beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mendirikan shalat, menuaikan zakat dan tidak takut –kepada siapa pun – selain Allah. Inilah kriteria bagi mereka yang menjadi sahabat masjid, menjadikan masjid sebagai teman akrab, dan segala aktivitas untuk akhiratnya.

Kemudian, apa keutamaan bagi mereka yang hatinya terpaut dengan masjid?

 Sungguh beruntung, bagi mereka yang mengetahuinya. Allah jamin mereka dengan naunganNya kelak di hari Kiamat. Lalu pertanyaannya, Sobat mau dinaungi Allah?

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy)Nya pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naunganNya...(di antaranya): Seorang hamba yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar