Senin, 31 Juli 2017

BEBASKAN Al-AQSHA!



Al-Aqsha adalah bagian tubuh kita. Jika ia terjajah, harusnya diri kita “terjajah”. Jangan ragu! Bahwa ia adalah milik kita.


Jangan ragu! Bahwa ia adalah sejarah penting Isra` Mi`raj yang dilakukan Rasulullah.

Karena itulah yang tertulis jelas dalam Al-Qur`an surat Al-Isra`. Jangan ragu untuk bercita-cita shalat di Masjid Al-Aqsha.

Karena tiga tempat yang layak diperjuangkan untuk ke sana adalah masjidil Al-Haram, Masjid An-Nabawii, dan Masjidil Al-Aqsha.

Lalu, jika hari ini Masjidil Al-Aqsha akan dihancurkan oleh Zionis Israel LaknatuLlah, apa kita diam saja? 

Belajar Dari Kisah

Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Kisah menjadi peneguh sekaligus pengokoh generasi terbaik di zaman ini. Generasi yang dididik dengan sentuhan kenabian yang begitu mulia. Mereka adalah generasi para sahabat, yang dididik langsung oleh nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam.

Kisah, menjadi satu di antara sekian materi pengokohan akidah dan akhlak pada masa itu. Tak heran, porsi kisah sangat banyak sebagai isi dari Al-Qur'an. Yaitu, 1/3 dari al-Qur'an adalah kisah.

Kisah bukan dongeng. Prinsip ini harus dipegang. Sekali lagi, kisah bukan dongeng. Kisah bukanlah cerita fiktif. Bukanlah sebuah cerita bohong yang sengaja dibuat-buat.
Andai kita pelajari kisah dengan tepat, kita sampaikan dengan tepat pula, maka ia (kisah) akan merasuk ke dalam jiwa, menjadi penasihat dalam melangkah, teguran yang tidak menyakiti, serta menjadi motivator alami yang tidak akan pernah mencaci maki.

Selamat mendidik diri dan generasi dengan kisah! 

Rabu, 26 Juli 2017

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU 3


“Sesiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan bukakan baginya salah satu jalan menuju surga.

Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu. Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar menuntut ilmu akan dimintakan ampun oleh semua penduduk langit dan bumi, bahkan ikan hiu yang ada di dasar air.

Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam bulan purnama atas seluruh bintang.

Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu.

Maka, sesiapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil jatah yang cukup banyak.” (HR. Abu Dawud)

Sumber: Tips Belajar Para Ulama 


BERLOMBALAH MenujuNya, Hai Pemuda


Oleh: M. Fatan Fantastik

Wahai para pemuda, berlombalah pada apa-apa yang disukaiNya. Teruslah kejar apa-apa yang diridlaiNya. 

Akan tiba saat dimana jatah waktu kita di dunia akan usai.
Akan datang utusanNya untuk mencabut ruh yang dititipkanNya. 

Inilah dunia yang menjadi sawah-ladang kita, untuk memanen hasilnya di akhirat kelak. Berpayah-payahlah untuk akhirat, berpayah-payahlah untukNya. Karena tiap keringat ada nilainya.

Engkau sia-siakan kesempatan ini, menyesallah nanti... Ketika nyawa telah tiada, ketika sudah ada di persidanganNya; padahal bekal amatlah sedikit dan tipis... .

Inilah saatnya! Saat ragamu masih sehat sentausa. Saat jiwamu masih segar lagi mekar. Berlombalah menyambut seruanNya. Kumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Selagi kesempatan masih ada, berlomba-lombalah!

“Memperhatikan Detailnya"


Oleh: A. yusuf Wicaksono 

Pendidikan, urusannya tidak sebatas guru masuk ke dalam kelas, lalu menyampaikan apa yang hendak disampaikan, jika sudah lalu pergi. Itu hanyalah bagian kecil dari sebuah proses pendidikan.

Bicara pendidikan, maka sebenarnya kita bicara tentang sesuatu yang detail, baik di kelas ataupun di luar kelas. Tidak ada hal kecil yang boleh disepelekan. Satu pun, satu pun dan sekecil apa pun tidak bisa untuk disepelekan.

Contoh jika di dalam kelas, saat guru tengah menyampaikan ilmu, namun murid malah menghadapkan wajah, tubuh, tangan dan kaki mereka ke arah temannya, ia tidak menghadap gurunya, ini satu di antara yang tidak tepat, adab kepada guru telah dilanggar. Penting bagi guru untuk mengondisikan segera, duduk menghadap agar leboh fokus, dan begitulah seharusny. Jika untuk menghadap perlu menyerong, ya harus serong. .

Sekarang kita berpindah ke luar kelas. Setiap momen penting bisa dijadikan sebagai pengokohan iman murid. Dulu Rasulullah Muhammad SAW, pernah melakukannya dan ini bisa menjadi pengajaran.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah berkumpul bersama para sahabatnya, di saat mereka sedang duduk di sisi beliau, tiba-tiba beliau memandang ke arah bulan purnama. Momen inilah yang beliau gunakan untuk mengokohkan iman para sahabat. Rasulullah bersabda, "Ingatlah, sesungguhnya kalian akan dapat melihat Rabb kalian sebagaimana kalian dapat melihat bulan ini ..." Maka momen yang tepat, sebagai pendidikan yang tepat pula.

Detail-detail apa lagi yang perlu diperhatikan? Tampaknya perlu banyak tempat jika semua detail-detail dibahas dalam tulisan pendek ini. Maka pentinglah kita, memperhatikan setiap detail itu, mempelajarinya, dan menseriusinya. Mulai dari gurunya, lingkungan si murid berada; sekolah, rumah dan masyarakat, suasananya, tempat belajarnya (bersih atau kotor), benar tidaknya ilmu yang diberikan dan masih sangat banyak contoh lainnya. Bahkan, senyumnya guru saat mengajar yang mungkin tidak direncanakan, itu juga bagian dari detail tersebut.

Maka, pendidikan bukanlah urusan remeh, tidak hanya transfer pengetahuan yang ujungnya hanyalah berupa angka. Tapi lebih dari itu.


Selasa, 25 Juli 2017

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU 2

Mari kita dengarkan perkataan yang amat mulia, dari orang yang termulia sepanjang masa...

Perkataannya yang bisa kita renung-renungkan. Termasuk yang manakah kita? 

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku diutus oleh Allah dengannya adalah seperti hujan deras yang mengenai tanah.

Di antara tanah itu ada yang subur yang akan menyerap air dan menumbuhkan rerumputan yang sangat banyak.

Ada juga tanah yang keras (tidak subur) yang bisa menampung air, lalu Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia sehingga mereka bisa minum, menyirami tanaman dan bercocok tanam.

Ada pula kelompok lain yang seperti tanah tandus yang tidak bisa menampung air dan tidak bisa menumbuhkan rerumputan.

Itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah, di mana petunjuk yang aku bawa akan bermanfaat baginya, lalu ia berilmu dan mengajarkannya. Juga, perumpamaan orang yang tidak pernah mengangkat kepalanya untuk ikut serta orang yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku bawa.”  (HR. Bukhari) 

Pertanyaanya, manakah tipe tanah yang beruntung? Subur, kering, ataukah tandus? Semoga Allah jadikan diri kita minimal menjadi "kering" yang siap menerima segala ilmu dari sumber ilmu sehingga orang-orang bisa memanfaatnya ... Tapi jangan pernah berharap menjadi "tandus", yang keberadaan kita tidak memberi manfaat bahkan menimbulkan bencana. 

Sumber: Tips Belajar Para Ulama 

Wanita Pemimpin Surga


Oleh: Isna Nurbaiti

Tak inginkah kita menjadi pemimpin wanita di surga?  Sudah barang tentu semua wanita menginginkan hal itu. Tak merasa irikah kita terhadap hamba Allah ini? Sudah tentu iri, ini adalah kisah seseorang yang sangat digemari oleh penduduk bumi terutama wanita, yang menjadi panutan bagi wanita pada masanya maupun hingga akhir kehidupan ini. Betapa beruntungnya beliau, sehingga mendapatkan kedudukan ini. Berikut adalah kisah dari Fatimah binti Muhammad Rasulullah.

Kesabaran dan ketabahannya menjadikannya  pemimpin bagi wanita di surga. Selama hidupnya, Fatimah hidup dengan kefakiran dan ketawadhu’an (kerendahan hati) yang berbeda jauh dengan kemewahan. Sehingga Fatimah mengurus sendiri rumahnya, menumbuk (menggiling) gandumnya dengan tangannya sendiri sehingga nampak sekali pada alat penumbuk (penggiling) itu bekas pegangan tangannya. Menimba air sendiri dengan geriba (kantong air yang terbuat dari kulit), sehingga nampak sekali pada geriba itu bekas tangannya ketika menumpahkan air. Mengurus rumah sendiri, sehingga debu menempel pada pakaiannya. Memasak makanan sendiri di atas kuali sehingga pakaiannya kotor karenanya, terkadang juga terluka dan mendidik anak-anaknya.

Begitulah, cerita beliau yang mengesankan, betapa beliau sangat sabar dalam menjalani kehidupan yang  penuh dengan kesusahan, pasrah dan ridha  terhadap apa yang diterimanya hingga akhir hayat. Bahkan, beliau tidak pernah mengeluhkan kehidupan yang dijalaninya, dan tidak mengutuk taqdir (ketentuan Allah) yang diperuntukkan untuknya. Ini jauh berbeda dengan wanita pada umumnya, yang sering mengeluhkan masalah  kehidupannya kepada orang lain, yang mencaci dirinya sendiri atas apa yang dihadapinya, menyalahkan Allah karena sudah memberinya cobaan, dan sederet keluhan yang diutarakan akibat kurangnya iman di dalam hati, kurang bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan. Untuk itu, kita senantiasa untuk berbenah diri dan menjadikan kisah di atas sebagai panutan untuk kehidupan kita yang lebih baik. Baik di dunia maupun di akhirat.


Referensi: Abu Bakar Al Jazairy, 2001, Ilmu dan Ulama, Jakarta Selatan: Pustaka Azzam.

Kamis, 20 Juli 2017

BEDAH BULETIN NIH "ALQURAN"




Karena Alquran, seseorang bisa ditinggikan.
Karena Alquran pula, seseorang bisa dihinakan. 
Lalu, kita pingin yang gimana? Ditinggikan atau direndahkan?
Sungguh, janganlah kita berlepas dari Alquran. Karena ia adalah sebaik-baik kawan perjalanan. Sebaik-baik kawan menuju kesuksesan.
BismiLlah!
-------

Bedah Buletin Nih di Rumah Sajada/ Kamis, 13 Juli 2017

TAMAN SURGA


"Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah dzikir."

Para Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu?"

"Majelis ilmu." Jawab Rasulullah.

Jadi, kalaulah ingin mencicipi taman surga di dunia, datanglah ke majelis ilmu. Bagaimana rasanya? Coba saja!

Sumber: Tips Belajar para Ulama 

"Sudahkah Kita Puas"


Oleh: Adik Yusuf Wicaksono 

Kita tidak memungkiri bahwa sahabat Rasulullah adalah sebaik-baik generasi. Mereka utama, mereka mulia, dan mereka tinggi kedudukannya.

Mereka lahir dari sebuah pendidikan yang tidak biasa, yang tidak mementingkan nilai raport atau pun deretan angka dalam ijazah. Bukan angka 10 atau 9 untuk pelajaran Akidah, Akhlak, Ibadah yang mereka harapkan. Bukan juga nilai 10 atau 9 ketika mereka mampu melaksanakan praktek shalat dengan baik dan benar. Tapi ilmu yang benar, lantas di amalkan, dan mengharap ridho Allah Ta'ala, itulah yang mereka dambakan.

Mereka generasi utama dan mulia, mereka terlahir dari pendidikan yang utama dan mulia pula. Dengan Rasulullah SAW sebagai guru utama, sekaligus sosok guru yang menjadi teladan bagi muridnya, dengan materi-materi penguat iman, dengan materi yang langsung merujuk pada Al-Quran. Dengan racikan metode-metode yang luar biasa, di sesuaikan waktunya, usianya, kondisinya bahkan tempatnya.

Jika ada yang mengatakan itu metode klasik dan sudah tidak zamannya, yang menjadi pertanyaan, "apakah pendidikan hari ini, dengan model pendidikan barat yang dikatakan 'modern' sudah mampu melahirlan output sekelas sahabat?" Dengan quantum learning, quantum teaching membuat peserta didik menjadi sekelas sahabat? Dengan pengajaran tepuk diam, tapuk anak shalih dan sejenisnya itu mampu? Tampaknya tidak.

Semua telah terbukti, mereka (para sahabat) pernah ada. Model pendidikan mereka pernah ada, output pendidikannya telah kita pelajari sejarahnya yang sangat jelas keberhasilannya. Namun hari ini itu semua tergeser oleh model pendidikan yang dianggap modern itu. Nilai jadi prioritas, angka-angka jadi prioritas, ilmu dinomer sekiankan, pengokohan iman di tiap pelajaran tampaknya dilupakan, peserta didik yang berakhlak tampak hanya slogan yang terpampang. .

Semua perlu berbenah! Benar, semua perlu berbenah jika ingin lahir orang-orang di masa depan seperti para sahabat yang utama lagi mulia.

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU #1


“Sesiapa yang Allah kehendaki baik, niscaya Dia memahamkannya terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari)

Ya. Jika Allah berkendak baik pada seseorang, pasti ia akan menjadi baik. Sebagai buktinya apa? Ia paham terhadap urusan agama. Ia dimudahkan Allah memahami ilmu-ilmu yang mengantarkannya ke Surga. Dan inilah satu di antara karunia dan rizki yang besar dari Allah.

Mari kita lihat contoh seorang ulama yang “dikehendaki Allah” baik. Sebut saja Abu Darda. Saking pahamnya keutamaan mencari ilmu, ia pernah berkata, “Aku belajar satu masalah saja itu lebih aku sukai daripada shalat sunah semalam suntuk.”

Tak ketinggalan Imam Syafii juga pernah menyampaikan, “Tidak ada sesuatu yang lebih utama setelah fardhu melebihi menuntut ilmu.”

Semoga kita dikendaki Allah baik! Mari berdoa dan berjuang!

Sumber:
Buku Tips Belajar Para Ulama

Rabu, 12 Juli 2017

BELAJARNYA ULAMA



Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya ilmu itu memiliki banyak keutamaan.

Kepalanya adalah tawadhu'.

Matanya adalah berlepas diri dari sifat dengki.

Telinganya adalah pemahaman.

Lisannya adalah kejujuran, hafalan adalah muroja'ah.

Hatinya adalah niat baik.

Akalnya adalah mengetahui perkara-perkara yang wajib.

Tangannya adalah Rahmat.

Kakinya adalah mengunjungi para ulama.

Tempat tinggalnya adalah kejayaan.

Komandannya adalah pemaaf.

Kendaraannya adalah menepati janji.

Senjatanya adalah kata-kata yang lembut.

Pedangnya adalah sifat ridho.

Busurnya adalah sikap lunak.

Tentaranya adalah berdekatan dengan para ulama.

Hartanya adalah etika yang baik.

Harta simpanannya adalah menjauhi dosa.

Bekalnya adalah kebaikan.

Airnya adalah kasih sayang.

Penunjuk jalannya adalah hidayah.

Dan, sahabat karibnya adalah bergaul dengan orang-orang baik. 

(Ali bin Abi Thalib)


Membuat Orang Mulia


Oleh: Zakiy Zakaryya Ali 
Orang yang mencari ilmu, akan dimuliakan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang tidak suka mencari ilmu ia akan sengsara di dunia dan di akhirat.

Ilmu bisa didapat apabila seseorang ingin mendapatkan ilmu tersebut. Sedangkan ilmu sendiri secara syari’at memiliki arti; pengetahuan yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah  dan diamalkan baik amalan hati, lisan maupun amalan anggota badan. Ilmu yang paling sempurna terdapat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

            Semua orang wajib menuntut ilmu karena menuntut ilmu itu hukumnya fardhu‘ain bagi semua kaum muslimin. Dan sesungguhnya para nabi itu tidak mewarisi harta tapi mewarisi ilmu. Maka sesiapa yang menuntut ilmu berarti ia sudah mengambil warisan dari para nabi.

            Seorang penuntut ilmu hendaknya menghiasi dirinya dengan adab-abab. Karena orang yang menghiasi dirinya dengan adab dengan orang yang tidak menghiasi dirinya dengan adab, akan berbeda sangat jauh. Dan paling penting, seorang penuntut ilmu harus ikhlas karena Allah. Belajar karena Allah, bukan karena yang lain. Karena orang yang berniat bukan karena Allah, ia akan rugi karena amalannya tidak diterima oleh Allah.

Referensi:

1.    Abdullah Hadrami, 2015, Mata Air Inspirasi, Yogyakarta: Pro-U Media
2.    Abu Anas Majid al-Bankani, 2012, Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu, Jakarta: Darul Falah

3.    Abu Ammar dan Abu Fatilah Al-Adnani, 2009, Mizanul Muslim, Solo: Cordova Mediatama

Persinggahan Sepi

Oleh M.Chazim

Kita semua akan melewati lubang sepi, sunyi, dan sendiri. Lebih dari itu, sempit dan sangat gelap. Tidak ada teman sama sekali. Kalaupun ada, dia adalah makhluk yang belum pernah kita kenali.

Tahukah kalian, siapa di antara makhluk ini? Dialah Munkar dan Nakir yang ditugaskan Allah untuk menanyakan sesuatu.

Jika ia bertanya, bisakah kita menjawabnya? Karena siapa saja yang tak dapat menjawab pertanyaan yang ia ajukan, maka celakalah yang akan kita dapatkan.

Mari kita tengok kehidupan kita, sudahkah kita persiapkan dengan matang perjumpaan dengan hari-hari sepi itu? Tapi sayangnya, banyak manusia sekarang yang lalai dengan tempat persinggahan yang sepi itu. Mereka justru berasyik ria menjalankan berbagai tindakan maksiat. Semoga bukan kita.

Jika dahulu Nabi Yusuf a.s. dipenjara karena menolak berzina, maka sekarang banyak manusia masuk penjara karena berzina. Betul tidak? Maka, marilah beristighfar kepada-Nya: astaghfiruLlahal ‘azhim. Senantiasa memohon pertolongan kepadaNya. Sebelum diturunkan kerenda itu; dibuka penutupnya; terbujur berkafan; diturunkan pelan-pelan; sampailah jasad itu; di liang lahat.

Pelan ditimbun bergantian hingga membentuk gundukan. Ditancap nisan kehidupan si mayit. Engkau sendiri, sunyi, sepi, dan gelap.

Semoga menjadi renungan penting hari ini ...

Ditulis dan diubah seperlunya dari:
-         Mahroji Khudori, 2014, Lebih Baik Dipaksa Masuk Surga Daripada Sukarela Masuk Neraka, Yogyakarta: Pro-U Media.

-         Mbah Dipo, 2014, Muslim Klakson, Yogyakarta: Pro-U Media.

Rabu, 05 Juli 2017

IKLAN

Oleh: Annafi`ah Firdaus

“Glegekkk...glegekkk...glegekk....glegekkk...glegekkk.”

Suara cukup keras seorang lelaki di layar televisi. Minum sambil berdiri, pegang botol pakai tangan kiri, dan minum satu botol langsung habis.

Pernah minum dengan cara seperti itu? Kira-kira sudah betul cara si lelaki di layar televisi tadi?

Karena minum adalah satu di antara kebutuhan tubuh kita, perlulah kita tahu cara yang benar ketika minum. Adalah sesuai petunjuk Rasulullah agar minum kita tidak sekadar menghilangkan haus semata. Tapi sekaligus dapat pahala.

Adalah Rasulullah, pertama, kalau minum menggunakan tangan kanan. Kenapa pakai tangan kanan? Inilah sunah. Sesiapa yang mengikuti Rasulullah, termasuk golongan Rasulullah. Kalau pakai tangan kiri? “Sesungguhnya syaitan itu makan dan minum dengan tangan kirinya,” kata Rasulullah. Bisa disimpulkan sendiri ya!

Kedua, Rasulullah minum sebanyak tiga kali. Maksudnya? Apabila Rasulullah minum, beliau baca bismillaah lalu minum kemudian mengucapkan alhamdulillaah dan menjauhkan bejana (gelas) dari mulutnya. Setelah itu, baca bismillaah lagi, lalu minum, kemudian mengucapkan alhamdulillaah dan menjauhkan bejana (gelas) dari mulut beliau. Sesudah itu, mengucapkan bismillaah lalu minum untuk ketiga kalinya, kemudian menjauhkan gelas dari mulutnya dan mengucapkan alhamdulillaah.

Ternyata cara Rasulullah ini, selain yang mengamalkannya dapat pahala, dapat pula manfaat kesehatan yang banyak. Sebagian dokter menyebutkan bahwa bagian rongga dalam manusia ketika haus, biasanya suhunya lebih panas dari pada suhu air minum. Oleh karena itu, minum Rasulullah adalah cara yang tepat. Yaitu awalnya sedikit, lalu ditambah, lalu ditambah lagi, dan minum sampai haus hilang sehingga rongga dalam tubuh suhunya bisa normal lagi. Bukan seperti si lelaki dalam layar televisi tadi!

Selain itu, minum dengan cara Rasulullah yang tidak langsung habis dan bersuara keras seperti halnya unta, “Yang demikian lebih segar, lebih nikmat, dan lebih mengenyangkan.”

Lalu bagaimana minum dengan cara berdiri?

Rasulullah bersabda, “Jangan salah seorang dari kalian minum dengan berdiri. Apabila ia lupa, hendaknya ia memuntahkannya.” (HR. Muslim)

Jelas ya? Jangan tertipu dengan iklan di televisi. Bisa jadi kalau kita cek lagi tentang sebuah iklan, eh ternyata bertentangan dengan yang diperintahkan Allah dan diteladankan Rasulullah. Pastinya tidak mau jadi orang yang merugi, termasuk urusan minum.