Selasa, 25 Juli 2017

Wanita Pemimpin Surga


Oleh: Isna Nurbaiti

Tak inginkah kita menjadi pemimpin wanita di surga?  Sudah barang tentu semua wanita menginginkan hal itu. Tak merasa irikah kita terhadap hamba Allah ini? Sudah tentu iri, ini adalah kisah seseorang yang sangat digemari oleh penduduk bumi terutama wanita, yang menjadi panutan bagi wanita pada masanya maupun hingga akhir kehidupan ini. Betapa beruntungnya beliau, sehingga mendapatkan kedudukan ini. Berikut adalah kisah dari Fatimah binti Muhammad Rasulullah.

Kesabaran dan ketabahannya menjadikannya  pemimpin bagi wanita di surga. Selama hidupnya, Fatimah hidup dengan kefakiran dan ketawadhu’an (kerendahan hati) yang berbeda jauh dengan kemewahan. Sehingga Fatimah mengurus sendiri rumahnya, menumbuk (menggiling) gandumnya dengan tangannya sendiri sehingga nampak sekali pada alat penumbuk (penggiling) itu bekas pegangan tangannya. Menimba air sendiri dengan geriba (kantong air yang terbuat dari kulit), sehingga nampak sekali pada geriba itu bekas tangannya ketika menumpahkan air. Mengurus rumah sendiri, sehingga debu menempel pada pakaiannya. Memasak makanan sendiri di atas kuali sehingga pakaiannya kotor karenanya, terkadang juga terluka dan mendidik anak-anaknya.

Begitulah, cerita beliau yang mengesankan, betapa beliau sangat sabar dalam menjalani kehidupan yang  penuh dengan kesusahan, pasrah dan ridha  terhadap apa yang diterimanya hingga akhir hayat. Bahkan, beliau tidak pernah mengeluhkan kehidupan yang dijalaninya, dan tidak mengutuk taqdir (ketentuan Allah) yang diperuntukkan untuknya. Ini jauh berbeda dengan wanita pada umumnya, yang sering mengeluhkan masalah  kehidupannya kepada orang lain, yang mencaci dirinya sendiri atas apa yang dihadapinya, menyalahkan Allah karena sudah memberinya cobaan, dan sederet keluhan yang diutarakan akibat kurangnya iman di dalam hati, kurang bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan. Untuk itu, kita senantiasa untuk berbenah diri dan menjadikan kisah di atas sebagai panutan untuk kehidupan kita yang lebih baik. Baik di dunia maupun di akhirat.


Referensi: Abu Bakar Al Jazairy, 2001, Ilmu dan Ulama, Jakarta Selatan: Pustaka Azzam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar