Kamis, 31 Agustus 2017

Itadakimaasu


Masakan tergantung bahan-bahan yang digunakan. Selihai apapun koki. Secanggih apapun resep. Cita rasa sejati ditentukan oleh bahan-bahan berkualitas. Sebagaimana pikiran kita tertuang dalam kata. Bisa menjadi masakan cita rasa tinggi yang dapat memberi manfaat hebat pada sang penikmat. Atau sekedar junk food yang rasanya tak seberapa padahal luar biasa merusaknya...

Membaca... adalah makan untuk pikiran. Terkadang kita ngemil dengan majalah-majalah gak jelas juntrungannya. Mengawali hari dengan makanan pembuka “koran harian”. Atau menghabiskan waktu mencerna makanan penuh cita rasa berujud novel-novel pilihan. Sekali lagi. Masakan tergantung bahan makanan yang digunakan. Untuk masakan yang bergizi, bahan dasar berkualitas merupakan keharusan. Quran? Nah. Ini baru makanan. Mak nyuss kalau kata Pak Bondan. Mak Nyess di hati, itulah Quran. Sudahkah Anda baca Quran hari ini? .

Membaca Quran jangan sampai hanya jadi kayak makan permen karet. Manis di mulut, habis sepah dibuang. Kayaknya nikmaaat banget waktu ngebaca dengan tartil dan lagu yang mendayu-dayu... Tapi isinya? Kagak ngarti?! Lha mana sampe hati, artinya aja nggak ngerti?! Makanan bergizi perlu dicerna di lambung lalu diserap oleh usus. Nah, Quran baru bisa disebut bergizi bagi jiwa, jika kita cerna dengan akal kita dan kita serap dengan hati kita. Itu baru mak nyess... Itadakimasuu!!*** 





Rabu, 30 Agustus 2017

ULAMA TERKEMUKA


Oleh: M. Rosyad

Nama aslinya Yahya bin Syaraf. Beliau lahir di Nawa pada tahun 631 Hijriyah. Beliau menuliskan kitab-kitab yang sampai sekarang masih dibaca dan kitab-kitab itu sangat terkenal. Seperti Riyadhush Shalihin, Al-Adzkar, Hadits Arba’in dan masih banyak lagi.

Kisah di masa kecilnya sangat menakjubkan. Tapi, sebelum melanjutkan cerita, penulis mau tanya. Hayo…. Jujur saja, pernahkah kamu menangis gara-gara disuruh berhenti bermain oleh ayahmu? Kamu pernah mengalamikan? Memang anak seusia teman-teman paling hobi bermain. Karena hobinya, ee.. kadang-kadang belajarnya lupa! Tapi, tokoh yang satu ini berbeda. Sejak kecil, menghafal Al-Qur’an, menghafal hadits dan membaca buku lebih ia sukai daripada bermain yang tidak ada manfaatnya (sia-sia).

Beliau di waktu kecil disuruh sang ayah untuk menjaga toko. Di sela-sela kesibukannya itu, ia dengan tekun menghafal Al-Qur’an dan membaca buku-buku yang bermanfaat. Tidak heran, ia sudah hafal Al-Qur’an saat umurnya belum mencapai sepuluh tahun.

Nah, sudah tahukan siapakah ini? Beliau adalah ulama terkemuka di zamannya. Dialah Imam An-Nawawi. Beliau bersungguh-sungguh untuk menghafal Al-Qur’an dan hadits. Jadi kita harus lebih bersungguh-sungguh.

Referensi:

Ditulis ulang diubah seperlunya dari: Abu Umar Abdillah, 2012, Masa Kecil Para Ulama, Klaten: Wafa Kids.

WAKTUMU, KUALITAS HIDUPMU!

Oleh: Annafi`ah Firdaus

Jelas. Waktu itu lebih mahal daripada emas. Bagi siapa? Tentu bagi mereka yang punya cita-cita tinggi. Dengan segenap perhatian, mereka manfaatkan waktu dengan “pelit” agar waktunya tidak sia-sia. Dengan sangat teliti, mereka timbang-timbang hal-hal yang layak dilakukan dan ataupun layak ditinggalkan.

Bagi penuntut ilmu sejati, waktu; sesungguhnya modal baginya. Waktu inilah yang membuat penuntut ilmu bisa memberikan perhatian terbaiknya bersama ilmu. Ia bisa membaca buku, mengkaji, menulis, mendengarkan guru atau ulama berujar atau hal-hal lain yang membuat bertambahnya ilmu.

Adalah Ibnu Rajab Al-Hanbali, yang meski kita jarang mendengar namanya, tapi ada teladan mulia dalam memanfaatkan waktunya. Beliau pernah berkata, “Aku berusaha membatasi waktu seminimal mungkin waktu makanku. Sampai-sampai aku lebih menyukai makan roti kering yang dicelupkan ke dalam air agar mudah dicerna dan dikunyah, daripada harus memakan roti biasa. Hai itu aku lakukan agar waktu membacaku lebih banyak sehingga bisa menulis ilmu yang belum kuketahui.”

Dan ternyata, ada yang lebih “gila” lagi para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu termasuk urusan membaca. Al-Lu`luai dituliskan dalam buku “Gila Baca ala Ulama” karya Ali bin Muhammad `Ali Imran pernah berkata, “Selama 40 tahun, aku tidak tidur siang ataupun tidur malam, serta tidak beristirahat sambil bersandar kecuali ada sebuah buku yang tergeletak di atas dadaku.”

Kawanku, tidakkah iri dengan kegigihan mereka dalam meraih ilmu? Mereka tetap istiqomah meski lelah fisik meronta-ronta. Mereka tinggalkan kesibukan dunia untuk sebuah kemuliaan dan harga diri; dengan memiliki ilmu.

Seharusnya kita segera sadar. Tentang waktu luang dan kesehatan yang telah berlalu dengan sia-sia.

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)




Rabu, 23 Agustus 2017

KABAR-KABAR: TRAINING FOR TRAINER BERSAMA JAN



Trainer, motivator, guru, atau pembicara. Pernahkah mengalaminya? Atau berharap menjadi satu diantaranya?

Jalan trainer tidak selalu bertabur riuh tepuk tangan. Ada kalanya peserta diam malas mendengarkan. Mereka datang sekadar menggugurkan kewajiban. Ada kalanya peserta ramai riuh. Bukan karena antusias mendengarkan trainer. Tetapi karena asyik ngobrol dengan teman sebelahnya.

Bahkan ketika peserta sudah siap memperhatikan, rasanya tidak pernah tenang. Ketika maju ke depan, seluruh mata memandang. Tangan memegang mic, keringat bercucuran. Lidah kelu, jantung berdegup kencang. Rasanya ingin segera turun dari panggung pembicara. Tapi ketika merasakan hal-hal ini, akhirnya aku bertanya," untuk apa aku datang ke sini? Untuk apa aku memberanikan diri?" Alasan itulah yang membuatku bertahan tampil di depan sampai sekarang ini.

Menemukan alasan, berjuang, melatih kemampuan, mempelajarii buku ilmiah relevan, menjaga diri dengan ilmu agama yang mencerahkan, terus dan terus melakukan hal tersebut adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk menjadi trainer andalan. Trainer yang ahli dan mencerahkan.

Mengajar tidak pernah lepas dari belajar. Trainer yang hebat terus belajar sampai ajal mendekat. Berbagi ilmu dan pengalaman adalah cara belajar yang menguatkan. Mari belajar bersama tentang dunia training. Be the best and keep on learning!

----------------------------------------

Mari belajar dan berbagi bersama kami. Tahun 2007-2017 beraktivitas di dunia training tentu masih banyak hal harus kami benahi. Oleh karena itu kami bekerjasama dengan Istrac (Islamic Training School) akan mengadakan acara ini:

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
*Training For Trainer*

💐💐🎤🎤🎤💐💐
InsyaAllah akan diadakan pada:

🗓Sabtu, 26 Agustus 2017
08.30-14.45 WIB
👤Denis Dinamiz (Direktur Ide Kreasi Jan, Trainer, Penulis) dan Tim Jan
🏡 Fakultas Psikologi UGM

Dalam acara ini ada 3 hal penting yang akan kita pelajari:
1. Menjadi Muslim Trainer
2. Prinsip-prinsip Training
3. Praktik singkat

Kontribusi Peserta:
Mahasiswa : 35rb
Umum : 50rb

Fasilitas:
Handout & Makan Siang

CP:
WA 0857.293.293.04

Segera daftarkan diri anda dan bagikan informasi ini kepada teman anda. *Kuota terbatas 40 Orang*




Sang Jenderal Besar


Oleh: Muhammad Fatan Fantastik 

24 Januari tahun sembilan belas enam belas. Di sebuah desa bernama Bodas. Di daerah Karangjati-Purbalingga, lahirlah ke dunia, seorang anak yang kelak akan dikenang di penjuru Nusantara. Dialah yang akan menjadi pahlawan kebanggaan bangsa: Soedirman.
Soedirman besar  dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas. Sedangkan  ibunya, Siyem, adalah keturunan Wedana Rembang. Sejak umur 8 bulan,  R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten Wedana Rembang yang masih merupakan saudara dari Siyem, mengangkatnya menjadi anak.

Kecintaan Soedirman pada ilmu telah tampak dari kecil. Dia bersekolah di Taman Siswa. Kemudian melanjutkan  ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah Surakarta tapi tidak sampai tamat. Saat itu dia juga giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Di sinilah jiwa kedisiplinan dan kepemimpinannya diasah.

Pernah dalam sebuah kegiatan kepanduan yang dilaksanakan di padang terbuka di daerah pegunungan, banyak peserta yang menyerah pada hawa dingin dan bergegas pulang. Tapi tidak dengan Soedirman! Dia tetap teguh bertahan di medan yang dingin untuk menyelesaikan tugas yang telah diamanahkan kepadanya. 

Setelah itu dia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Saat Jepang menduduki Indonesia, Soedirman bergabung ke dalam tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor yang dilatih oleh tentara Jepang. Setamat dari PETA, Soedirman diangkat sebagai Komandan Batalyon di Kroya, Jawa Tengah. Bersama dengan batalyon-nya, Soedirman berhasil merebut senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Banyumas. Ketika Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, Soedirman diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas.

12 November. Di tahun Soekarno-Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR atau Panglima Angkatan Perang RI. Bersamaan itu pula, penyakit tuberculosis mulai menggerogoti kesehatannya. Akan tetapi, penyakit itu tak mampu mematikan kegigihan Soedirman dalam berjuang.

Pada bulan November ini, Soedirman mulai memimpin peperangan melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda. Selama dua bulan, TKR bertempur dengan musuh di daerah Ambarawa. Dan pada 12 Desember 1945, di bawah pimpinan Panglima Besar-nya, TKR menyerang secara serentak terhadap semua kedudukan pasukan Inggris di Ambarawa. Akhirnya, setelah berlangsung selama lima hari, pada tanggal 16 Desember 1945, pasukan musuh mundur ke Semarang. Alhamdulillah, pasukan Indonesia menang! 

18 Desember. Sembilan belas empat puluh lima. Setelah kemenangan gemilang dalam Palagan Ambarawa, Presiden Soekarno melantik Soedirman sebagai Jenderal.
Saat Belanda melakukan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948, Soedirman kembali turun ke medan juang. Dengan ditandu karena penyakitnya yang kian parah, Sang Jenderal memimpin perlawanan secara bergerilya. Ibukota Negara sementara dipindahkan ke Yogyakarta.

Belanda akhirnya bisa menguasai Yogyakarta. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden serta beberapa anggota kabinet ditangkap Belanda. Kembali, Jenderal Soedirman turun berjuang. Dari hutan ke hutan, gunung ke gunung, selama 7 bulan, Jenderal Soedirman memimpin perlawanan dalam kondisi teramat payah.  Tanpa perawatan dan pengobatan medis yang memadai. Meski ingin terus berjuang, Jenderal Soedirman akhirnya pulang. Beliau tetap memimpin peperangan, dari balik layar.

Akhirnya, setelah berjuang sekian lama, Indonesia kembali ke pangkuan. Melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun 1949, Belanda resmi menyerahkan Indonesia kembali.
29 Januari. Sembilan belas lima puluh. Dalam usia relatif muda, 35 tahun, Sang Jenderal Besar kembali ke haribaan Sang Pencipta karena penyakit yang kian akut. Jenderal Soedirman  dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di daerah Semaki, Yogyakarta.

Jenderal Soedirman menang telah tiada. Tetapi, kita akan terus mengenangnya: sebagai seseorang yang berjuang dengan tulus dan gigih. Tanpa kenal lelah dan pamrih. Sebagaimana ucapannya saat dilantik  menjadi Panglima Besar TKR,” …perjuangan kita harus didasarkan pada kesucian.”

Nah!





Kamis, 17 Agustus 2017

SANG PANGERAN

sumber: BiografiKu.com

Oleh: Fatan Fantastik

Sebelas November, dua ratus dua puluh enam tahun yang lalu. Seorang bayi laki-laki tampan lahir dari rahim sang ibunda, Raden Ayu Mangkarawati. Seorang wanita agung yang memiliki garis keturunan Sunan Ampel Denta.  Inilah bayi yang kelak akan menjadi pengobrak-abrik kekuatan kaum kuffar, sebagaimana telah diprediksi oleh buyutnya, Sultan Hamengku Buwono I.

Melihat sendiri lingkungan kraton yang buruk akibat intrik politik serta pengaruh Belanda dengan berbagai kelakuan yang tak sesuai adat apalagi syariat, sang ibunda mengirim anaknya tercinta ke Tegalrejo (saat ini masuk dalam daerah Purworejo, Jawa Tengah). Di sana, Raden Mas Ontowiryo sang putra dididik oleh nenenda Ratu Ageng dalam lingkungan pesantren yang kental.  Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani, menanam dan memanen padi. Juga sering berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung.

Pendidikan agama Islam yang baik menjadikan Ontowiryo seorang yang berkepribadian tegas dan amat taat beribadah. Tumbuh dalam dirinya kesungguhan untuk menegakkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupannya. Maka ketika tawaran menjadi putra mahkota datang, sang pemuda yang kemudian memiliki nama Pangeran Diponegoro, memilih untuk tidak menerimanya. Mengapa? Karena untuk menjadi raja, yang mengangkat harus Belanda! Simaklah kata-kata beliau yang termaktub dalam Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40, sebagaimana tertulis di buku Dakwah Dinasti Mataram, “Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa”.

Begitulah. Angkara murka yang kian menggila, yang tampak di depan mata, membuat kian bulat tekadnya untuk bangkit melawan penjajah kapiran Belanda. Perlawanan yang lahir bukan semata karena makam nenek moyangnya dilewati proyek pembangunan jalan Yogya-Magelang yang dilakukan Belanda. Bukan hanya karena adat istiadat Kraton dirusak dengan pola sekuler dan liberalnya para antek Belanda. Perlawanan yang lahir lebih karena adanya kesewenang-wenangan dan ketidakadilan yang meraja lela. Serta kecintaan untuk menegakkan nilai-nilai ilahi. Simaklah tekadnya yang menyala,“Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.”
Inilah perlawanan melawan kemungkaran. Tak heran, dalam perang paling besar dalam sejarah penjajahan Belanda di Jawa ini, bergabung banyak tokoh penting:  108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru. Dari pihak kraton, 15 dari 19 pangeran juga turun ke medan juang  bersama Diponegoro!

Pedang di tangan kanan, keris di tangan kiri
Berselempang semangat, tak pernah mati
Membela kebenaran, demi tegaknya nilai imani!***




BEDAH BULETIN NIH DI BANJARNEGARA

Banjarnegara, 13 Agustus 2017 
Kegiatan Bedah Buletin Nih di Desa Simbang, Banjarnegara, Jawa Tengah. Sebanyak, 27 peserta membedah Buletin Nih edisi “Al-Qur`an” untuk mengetahui isinya (Ahad, 13 Agustus 2017).

Perintah dalam agama kita jelas dalam hal ilmu. Bacalah! Bacalah dengan menyebut nama Allah; Al-Qur`an dan bacaan-bacaan yang bikin cinta dan semangat beribadah kepada Allah.

Kamu pingin adakan Bedah Buletin Nih bersama teman-teman kamu? 

Peserta sedang membaca buletin nih 
Seluruh peserta  Madrasah Banjarnegara



Rabu, 16 Agustus 2017

CITA-CITA KITA

Foto: Sahabatalaqsha

Oleh: Annafi`ah Firdaus

Adalah Al-Aqsha
Tempat terjauh berkedudukan mulia 
Tempat terbaik untuk diminta
Tempat suci yang harus dijaga

Adalah Al-Aqsha
Yang Zionis Israel LaknatuLlah bukan “manusia”
Dengan tentara-tentara biadab bersenjata
Ingin menghancurkannya

Adakah kita rela?
Ketika negara bersejarah Palestina
Yang di dalamnya ada Al-Aqsha
Serta segala sejarah di dalamnya
Ingin direbut paksa
Oleh Israel tanpa hak apa-apa?

Adalah Al-Aqsha
Bukan milik mereka
Sejarahnya milik kita
Dan seharusnya ia cita-cita
Untuk dibebaskannya
Dengan karya-karya
Yang berani dan melegenda

Inilah cita-cita

Bebaskan Al-Aqsha! 

*Naskah lolos Kusen per 4 Agustus 2017 

JUAL BAJU, DEMI BUKU


Oleh: Fajar Yunan Fanani

Sobat yang shalih dan shalihah, pernah membaca buku? Tahu tidak, buku itu sangat berharga dan bermanfaat pada zaman ulama terdahulu. Sampai-sampai ada yang menjual nampan, hewan tunggangan, dan rumah untuk membeli buku. Nah, tokoh kita pada kisah kali ini adalah seorang ulama yang rela menjual baju yang dipakainya untuk membeli buku (kitab).

Namanya Syaikh Ahmad Al-Hajjar. Beliau wafat pada tahun 1277 H. Syaikh Ahmad Al-Hajjar sangat suka mengoleksi kitab. Pada suatu hari Syaikh Ahmad Al-Hajjar melihat sebuah kitab dijual. Syaikh Ahmad Al-Hajjar tertarik terhadap kitab itu. Karena tidak memiliki uang, maka Syaikh Ahmad Al-Hajjar menjual baju yang dipakainya untuk membeli kitab itu.


Sobat yang shalih dan shalihah, itu baru kisah salah satu ulama yang rela menjual baju demi membeli buku. Sesungguhnya masih ada kisah yang lebih menarik dari kesungguhan ulama untuk mendapatkan buku. Maka rawatlah dan bacalah bukumu dengan serius. Karena buku tidak akan habis. Sedangkan uang akan habis.

Referensi : Syaikh Abdul Fattah, 2012, Kisah-kisah Kesabaran Para Ulama, Solo : Zamzam.

Rabu, 09 Agustus 2017

Ilmu Itu Penting

Oleh: Muhammad Dias 

Ilmu itu penting kenapa? Karena ilmu itu menjadikan tahu yang hak dan batil. Sebelum menuntut ilmu hendaknya kita seorang menuntut ilmu melihat dan beristikharah kepada Allah tentang orang yang akan dijadikan guru, yaitu yang bisa menjadi contoh keteladanannya adab dan akhlak.

Dan bagaimana sikap seorang  menuntut ilmu? Yaitu menghormatinya, memuliakan kedudukannya, dan tidak sombong atau malu untuk bertanya. Munculkan rasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu seperti contoh orang-orang terdahulu yang sangat antusias dalam majelis ilmu untuk mendapatkannya.

Dari Ahmad  bin Sinan berkata “Dalam majelis ‘Abdurrahman bin Mahdi tidak ada seorang pun yang berbicara, tidak ada pensil yang diraut, dan tidak ada seorang pun berdiri. Seolah-olah di atas mereka ada burung atau seolah-olah mereka sedang shalat. Jika mereka melihat salah seorang di antara mereka tersenyum atau bercakap-cakap, maka ia memakai sendalnya lalu keluar."

Itulah kisahnya orang-orang terdahulu yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu dengan memperhatikan dan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.


Setiap seorang muslim itu wajib untuk menuntut ilmu dari Al-Qur’an dan as-sunnah. Maka dari itu kita munculkan niat kita dari sekarang untuk menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh pantang menyerah walau banyak cobaan dan rintangan yang akan dihadapi. Karena itu kita perhatikan guru atau yang didepan yang menyampaikan karena ilmu itu penting oke!

KUAT DENGAN ILMU

Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Kejadian langka.

Apabila seseorang sakit parah, ianya butuh obat dari ahli kedokteran. Ia butuh diperiksa kondisinya sehingga tepat diagnosa penyakit dan tepat pemberian obat penyembuh.

Namun, berbeda dengan seorang ulama yang tidak pernah kenyang dengan ilmu ini. Seorang ulama yang tidak pernah berhenti mengkaji, tidak bosan bekerja, dan tidak letih dalam belajar.

Suatu hari ia sakit parah. Dokter pun memeriksa kondisi fisiknya. Dengan suara yang lembut dan menasehati, ia berkata kepada ulama ini, “Sesungguhnya aktivitasmu dalam menelaah dan membicarakan ilmu memperparah penyakitmu.”

Ia pun berkata, “Saya tidak sabar melakukan hal itu.”

“Saya akan menerangkan kepadamu dengan ilmumu. Bukankah jika jiwa itu bergembira dan bahagia, maka tabiatnya akan kuat sehingga mampu menolak penyakit?” Ianya melanjutkan.

“Ya.” Jawab dokter dengan singkat.

“Sesungguhnya jiwaku bahagia dengan ilmu sehingga menjadikannya kuat dan tentram!”

“Jika demikian, maka ini di luar pengobatan kami.” Jawab dokter.

Sesungguhnya, ada orang-orang yang sudah Allah karuniakan kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu. Ada orang pula yang sudah bertahun-tahun duduk di bangku ilmu namun merasa hampa dengan yang dilakukannya.

Ada orang yang amat bahagia bisa hidup karena menempuh jalan ilmu. Ada pula orang yang amat sengsara di dunia ini karena ia tidak memahami pentingnya ilmu bagi keselamatannya.

Ada orang yang amat berpayah-payah, hingga sakit memuncak, namun ia tidak merasakan sakit yang sesungguhnya bersebab ilmu. Ada pula orang yang kepayahan karena kerja rodinya di dunia hingga sakit, dan ia semakin kesakitan bersebab kebodohan ilmu yang dipeliharanya.

Termasuk manakah kita? Termasuk ulama ini?

Ulama ini, Syaikh Ibnu Taimiyyah mengajari kita. Untuk kuat dengan ilmu. Untuk sukses dengan ilmu. Untuk bersakit-sakit dan berpayah demi ilmu.

Hingga ketika suatu kondisi yang amat sakit, perih, serta terjepit dalam perjalanan menempuh ilmu, yakinlah bahwa itu semua tidak apa-apa. Bersabarlah. Karena kemuliaan ilmu itulah yang sedang dikejar!

*Naskah Lolos Kusen per 4 Agustus 2017 di Aula Sajada 


Kamis, 03 Agustus 2017

MEMBACA


Oleh: Muhammad Dias

Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah ­­Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang di dalam hatinya tidak ada Al-Qur’an maka laksana rumah yang runtuh.”

Sahl bin Abdillah pernah bertanya kepada salah seorang muridnya, “Apakah kamu hafal Al-Qur’an?”

“Tidak,” jawab si murid.

“Kasihan sekali, orang mukmin yang tidak hafal Al-Qur’an. Dengan apa yang ia berdendang dan dengan apa ia dapat kebahagiaan?” kata Sahl kemudian.

“Seorang mukmin hendaknya mengetahui bahwa yang dibacanya itu bukanlah ucapan manusia. Ia harus dapat merasakan keagungan Zat yang mengucapkannya (Allah) dan menadaburi firman-Nya, sebab tadabur adalah tujuan diperintahkannya seorang muslim untuk membaca (Al-Qur’an). Jika ia dapat menadaburinya dengan mengulang-ulang bacaaannya, ia pun harus mengulanginya.” Demikian pesannya Ibnu Qudamah.

Nah, apakah teman-teman suka membaca? Kalau belum ayo kita bareng-bareng membaca Al-Qur`an supaya mendapat keutamaannya.

Rabu, 02 Agustus 2017

Guru


Oleh: Muhammad Dias

Guru
Ketika hujan kau tepis itu
Ketika panas kau rangkul ia
Walau terik menyengat
Walau dingin menusuk
Kau acuhkan itu demi kami
Demi kami yang kadang tak peduli
Demi kami yang kadang menyakiti
Demi kami yang kadang tak menghormati

Guru
Harus dengan segunung emaskah kubalas kau?
Benar!
Tak cukup dan tak pernah cukup
Guru
Maafkan aku yang selalu meresahkan hidupmu
Maafkan aku yang selalu duri di jalanmu
Ikhlaskah engkau?
Sabarkah engkau?
Jika begitu, Allah akan menantimu di surga-Nya nanti



*Naskah lolos KUSEN per 28 Mei 2017

Ilmu adalah Cahaya


Sesiapa yang mencari ilmu, layaknya ia menuju cahaya.

Sesiapa yang mendapat ilmu, ia adalah cahaya.

Cahaya bagi sekitarnya. Cahaya bagi gelapnya kebodohan. Cahaya bagi cita-citanya. Cahaya bagi cita-cita umatnya.

Sungguh beruntung yang ia menjadi cahaya. Artinya, sungguh beruntung yang ia dikarunia kepahaman ilmu.

Membaca Al-Qur’an dengan Tartil


                            
                                                        Oleh: Muhammad Rosyad

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (Al-Qamar: 17).

Apakah teman-teman sudah tahu bagaimana kita bisa membaca Al-Qur’an dengan tartil? Kalau belum tahu? Silahkan simak ya!

Membaca Al-Qur’an dengan tartil itu mudah teman! Kalau kita bersungguh-sungguh untuk membacanya. Dan ada juga di dalam Al-Qur’an kalau kita diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil. Yaitu Allah berfirman, “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan).” (Al-Muzzammil: 4).

Dan membaca dengan tartil artinya membaca dengan pelan dan perlahan, serta mengucapkan huruf-huruf dari makhrajnya dengan tepat. Dan ada salah satu sahabat Nabi berpesan,
“Janganlah kalian membacanya dengan cepat seperti membaca prosa dan sya’ir. Berhentilah pada ayat-ayat yang menakjubkan dan buatlah hati kalian bergetar karenanya.”
“Wahai anak Adam,” Kata Al-Hasan, “Bagaimana hatimu akan luluh jika yang ingin segera kau capai adalah akhir dari sebuah surat (ingin segera selesai mambaca).”

Nah, cukup sekian sedikit belajar tentang membaca Al-Qur’an dengan tartil mudah-mudahan sebagai penyemangat untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil. Dan bisa mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala. Mau? Pasti mau!

*Naskah Lolos Kusen per 29 Juli 2017