Kamis, 31 Agustus 2017

Itadakimaasu


Masakan tergantung bahan-bahan yang digunakan. Selihai apapun koki. Secanggih apapun resep. Cita rasa sejati ditentukan oleh bahan-bahan berkualitas. Sebagaimana pikiran kita tertuang dalam kata. Bisa menjadi masakan cita rasa tinggi yang dapat memberi manfaat hebat pada sang penikmat. Atau sekedar junk food yang rasanya tak seberapa padahal luar biasa merusaknya...

Membaca... adalah makan untuk pikiran. Terkadang kita ngemil dengan majalah-majalah gak jelas juntrungannya. Mengawali hari dengan makanan pembuka “koran harian”. Atau menghabiskan waktu mencerna makanan penuh cita rasa berujud novel-novel pilihan. Sekali lagi. Masakan tergantung bahan makanan yang digunakan. Untuk masakan yang bergizi, bahan dasar berkualitas merupakan keharusan. Quran? Nah. Ini baru makanan. Mak nyuss kalau kata Pak Bondan. Mak Nyess di hati, itulah Quran. Sudahkah Anda baca Quran hari ini? .

Membaca Quran jangan sampai hanya jadi kayak makan permen karet. Manis di mulut, habis sepah dibuang. Kayaknya nikmaaat banget waktu ngebaca dengan tartil dan lagu yang mendayu-dayu... Tapi isinya? Kagak ngarti?! Lha mana sampe hati, artinya aja nggak ngerti?! Makanan bergizi perlu dicerna di lambung lalu diserap oleh usus. Nah, Quran baru bisa disebut bergizi bagi jiwa, jika kita cerna dengan akal kita dan kita serap dengan hati kita. Itu baru mak nyess... Itadakimasuu!!*** 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar