Rabu, 23 Agustus 2017

Sang Jenderal Besar


Oleh: Muhammad Fatan Fantastik 

24 Januari tahun sembilan belas enam belas. Di sebuah desa bernama Bodas. Di daerah Karangjati-Purbalingga, lahirlah ke dunia, seorang anak yang kelak akan dikenang di penjuru Nusantara. Dialah yang akan menjadi pahlawan kebanggaan bangsa: Soedirman.
Soedirman besar  dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas. Sedangkan  ibunya, Siyem, adalah keturunan Wedana Rembang. Sejak umur 8 bulan,  R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten Wedana Rembang yang masih merupakan saudara dari Siyem, mengangkatnya menjadi anak.

Kecintaan Soedirman pada ilmu telah tampak dari kecil. Dia bersekolah di Taman Siswa. Kemudian melanjutkan  ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah Surakarta tapi tidak sampai tamat. Saat itu dia juga giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Di sinilah jiwa kedisiplinan dan kepemimpinannya diasah.

Pernah dalam sebuah kegiatan kepanduan yang dilaksanakan di padang terbuka di daerah pegunungan, banyak peserta yang menyerah pada hawa dingin dan bergegas pulang. Tapi tidak dengan Soedirman! Dia tetap teguh bertahan di medan yang dingin untuk menyelesaikan tugas yang telah diamanahkan kepadanya. 

Setelah itu dia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Saat Jepang menduduki Indonesia, Soedirman bergabung ke dalam tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor yang dilatih oleh tentara Jepang. Setamat dari PETA, Soedirman diangkat sebagai Komandan Batalyon di Kroya, Jawa Tengah. Bersama dengan batalyon-nya, Soedirman berhasil merebut senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Banyumas. Ketika Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, Soedirman diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas.

12 November. Di tahun Soekarno-Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR atau Panglima Angkatan Perang RI. Bersamaan itu pula, penyakit tuberculosis mulai menggerogoti kesehatannya. Akan tetapi, penyakit itu tak mampu mematikan kegigihan Soedirman dalam berjuang.

Pada bulan November ini, Soedirman mulai memimpin peperangan melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda. Selama dua bulan, TKR bertempur dengan musuh di daerah Ambarawa. Dan pada 12 Desember 1945, di bawah pimpinan Panglima Besar-nya, TKR menyerang secara serentak terhadap semua kedudukan pasukan Inggris di Ambarawa. Akhirnya, setelah berlangsung selama lima hari, pada tanggal 16 Desember 1945, pasukan musuh mundur ke Semarang. Alhamdulillah, pasukan Indonesia menang! 

18 Desember. Sembilan belas empat puluh lima. Setelah kemenangan gemilang dalam Palagan Ambarawa, Presiden Soekarno melantik Soedirman sebagai Jenderal.
Saat Belanda melakukan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948, Soedirman kembali turun ke medan juang. Dengan ditandu karena penyakitnya yang kian parah, Sang Jenderal memimpin perlawanan secara bergerilya. Ibukota Negara sementara dipindahkan ke Yogyakarta.

Belanda akhirnya bisa menguasai Yogyakarta. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden serta beberapa anggota kabinet ditangkap Belanda. Kembali, Jenderal Soedirman turun berjuang. Dari hutan ke hutan, gunung ke gunung, selama 7 bulan, Jenderal Soedirman memimpin perlawanan dalam kondisi teramat payah.  Tanpa perawatan dan pengobatan medis yang memadai. Meski ingin terus berjuang, Jenderal Soedirman akhirnya pulang. Beliau tetap memimpin peperangan, dari balik layar.

Akhirnya, setelah berjuang sekian lama, Indonesia kembali ke pangkuan. Melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun 1949, Belanda resmi menyerahkan Indonesia kembali.
29 Januari. Sembilan belas lima puluh. Dalam usia relatif muda, 35 tahun, Sang Jenderal Besar kembali ke haribaan Sang Pencipta karena penyakit yang kian akut. Jenderal Soedirman  dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di daerah Semaki, Yogyakarta.

Jenderal Soedirman menang telah tiada. Tetapi, kita akan terus mengenangnya: sebagai seseorang yang berjuang dengan tulus dan gigih. Tanpa kenal lelah dan pamrih. Sebagaimana ucapannya saat dilantik  menjadi Panglima Besar TKR,” …perjuangan kita harus didasarkan pada kesucian.”

Nah!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar