Kamis, 17 Agustus 2017

SANG PANGERAN

sumber: BiografiKu.com

Oleh: Fatan Fantastik

Sebelas November, dua ratus dua puluh enam tahun yang lalu. Seorang bayi laki-laki tampan lahir dari rahim sang ibunda, Raden Ayu Mangkarawati. Seorang wanita agung yang memiliki garis keturunan Sunan Ampel Denta.  Inilah bayi yang kelak akan menjadi pengobrak-abrik kekuatan kaum kuffar, sebagaimana telah diprediksi oleh buyutnya, Sultan Hamengku Buwono I.

Melihat sendiri lingkungan kraton yang buruk akibat intrik politik serta pengaruh Belanda dengan berbagai kelakuan yang tak sesuai adat apalagi syariat, sang ibunda mengirim anaknya tercinta ke Tegalrejo (saat ini masuk dalam daerah Purworejo, Jawa Tengah). Di sana, Raden Mas Ontowiryo sang putra dididik oleh nenenda Ratu Ageng dalam lingkungan pesantren yang kental.  Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani, menanam dan memanen padi. Juga sering berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung.

Pendidikan agama Islam yang baik menjadikan Ontowiryo seorang yang berkepribadian tegas dan amat taat beribadah. Tumbuh dalam dirinya kesungguhan untuk menegakkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupannya. Maka ketika tawaran menjadi putra mahkota datang, sang pemuda yang kemudian memiliki nama Pangeran Diponegoro, memilih untuk tidak menerimanya. Mengapa? Karena untuk menjadi raja, yang mengangkat harus Belanda! Simaklah kata-kata beliau yang termaktub dalam Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40, sebagaimana tertulis di buku Dakwah Dinasti Mataram, “Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa”.

Begitulah. Angkara murka yang kian menggila, yang tampak di depan mata, membuat kian bulat tekadnya untuk bangkit melawan penjajah kapiran Belanda. Perlawanan yang lahir bukan semata karena makam nenek moyangnya dilewati proyek pembangunan jalan Yogya-Magelang yang dilakukan Belanda. Bukan hanya karena adat istiadat Kraton dirusak dengan pola sekuler dan liberalnya para antek Belanda. Perlawanan yang lahir lebih karena adanya kesewenang-wenangan dan ketidakadilan yang meraja lela. Serta kecintaan untuk menegakkan nilai-nilai ilahi. Simaklah tekadnya yang menyala,“Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.”
Inilah perlawanan melawan kemungkaran. Tak heran, dalam perang paling besar dalam sejarah penjajahan Belanda di Jawa ini, bergabung banyak tokoh penting:  108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru. Dari pihak kraton, 15 dari 19 pangeran juga turun ke medan juang  bersama Diponegoro!

Pedang di tangan kanan, keris di tangan kiri
Berselempang semangat, tak pernah mati
Membela kebenaran, demi tegaknya nilai imani!***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar