Sabtu, 30 September 2017

TERCECER


Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Betapa malunya andai kita melihat perjuangan pemuda di masa kejayaan Islam dulu. Di usia yang sekarang kita anggap sebagai "masa remaja", mereka telah memiliki tujuan yang jelas dibarengi tekad yang sangat kuat.

Coba perhatikan, hari ini andai melihat lebih detail, pemuda usia 15 tahun atau yang mendekati itu berbuat keburukan, tidak sesuai syariat Islam bahkan jauh dari aturan Allah, tampaknya hanya komentar ringan yang akan muncul, "itu memang masa mereka, masa mencari jati diri." Atau semua sepakat dengan itu? Jika iya, yang terjadi hanyalah pembiaran dan pembiaran, yang dampaknya mereka akan semakin jauh dari aturan Allah.

Seakan memang ada yang hilang, ada yang masih ganjil di sini. Harusnya tidak seperti itu jika kita melihat pembenaran Ali bin Abi Thalib terhadap Islam di usia 10 tahun, Zaid bin Tsabit sang penerjemah Rasulullah di usia 13 tahun, pejuang cilik Mu'adz bin Amr bin Al-Jamuh dan Muawwidz bin Afra', Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Arqam bin Abu Arqam, dan tentu masih banyak lagi yang seperti mereka.

Mereka semua pemuda, bahkan ada yang masih anak kecil. Tapi keseriusan mereka seakan lebih besar dari ukuran badan dan usia mereka.


Tandanya, ada yang hilang dalam diri pemuda hari ini, ada yang tercecer. Dr Raghib As-Sirjani dalam bukunya, "Menjadi Pemuda Peka Zaman (terj.)" setidaknya ada empat yang menjadikan generasi hari ini mengalami kemerosotan. Mulai dari hilangnya ruh tarbiyah Islamiah, dimana kesungguhan belajar ilmu agama kini hanya sebatas untuk menghadapi ujian.

Lalu hilangnya keteladanan, dan ini menjadi PR semua kalangan. Pemuda perlu orang yang menjadi contoh, contoh nyata yang itu jelas kebenaran iman dan kejujurannya, dan Islam sudah memberitahu siapa teladan terbaik itu, ya dialah Muhammad SAW, bukan artis atau pemain sepak bola.

Berikutnya, frustasi dan kecewa dengan kondisi umat. Seakan mereka sudah pasrah tanpa ada usaha untuk merubahnya. Terakhir, munculnya media dan informasi yang bahkan ruang dan waktu tidak mampu membendungnya. Hanya iman, hanya dengan iman pemuda mempu membendungnya.

Lantas, kapan kita segera menyadari semua itu?

@buletinnah

MENAKAR MURU SEBUAH FORUM


Oleh: Amin Novianto 


Setiap proses pembelajaran tak bisa lepas dari timbangan mutu. Kita pun patut bertanya, seberapa mutu forum pembelajaran yang selama ini kita jalani? Agar kita memiliki standar mutu yang tinggi (bukan asal-asalan) perlulah kita memahami standar mutu forum pembelajaran.

Belajar dari bagaimana guru terbaik sepanjang zaman, kita akan dapati mutiara yang berharga dari setiap hal yang dicontohkannya. Akan kita dapati bahwa pembelajaran yang diajarkannya adalah mulai bangun tidur hingga akan tidur kembali. Baik itu secara individual, maupun meluas hingga pada kehidupan bermasyarakat. Dan guru tersebut bernama Muhammad SAW.

Pada Lesehan Jum'at Jan sore lalu (Jum'at/29/09/2017) pembelajaran yang berlangsung membahas tema "Berburu Forum Ilmu Bermutu." Memang benar setiap orang bisa mendapat pengetahuan lewat membaca buku. Namun siapakah yang menjamin ia bisa mendapat pemahaman yang benar hanya sebatas dari membaca buku saja? Dari sini setiap pembelajar membutuhkan forum untuk menimba ilmu.

Berbincang mengenai forum yang bermutu, maka sesungguhnya perlu diketahui apakah forum itu bermutu tinggi atau rendah? Sebab ini menentukan benar/salahnya pemahaman juga tindakan. Sebab kelak yang namanya pendengaran, pengelihatan, dan hati akan diminta pertanggungjawaban dari apa yang diketahui.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam menimbang mutu sebuah forum:

1. Adab
Adab di sini meliputi dua hal. Adab lahir dan adab batin. Adab lahir berkaitan dengan hal-hal yang tampak dalam proses pembelajaran (tampilan fisik murid maupun guru, juga tampilan tempat yang digunakan untuk proses pembelajaran). Mengenai adab batin ia berkaitan dengan sikap batin yang tidak bisa selalu tampak, namun ini sangat penting. Adab batin ini justru memiliki nilai lebih dalam takaran mutu forum ilmu.

2. Ilmu yang dipelajari
Perlu dipahami betul tentang Ilmu apa yang dipelajari. Maka setiap pembelajar harus tahu akan hal ini. Bahwa ada ilmu yang wajib hukumnya untuk dipelajari, ada yang boleh, dan bahkan ada yang dilarang untuk dipelajari. Bermula dari sini akan membuat para pembelajar terarah dengan benar, bisa mengatur prioritas dalam belajar.

Pembahasan sore itu lebih mengulas mengenai adab lahir. Inilah hal penting harus diperhatikan agar forum ilmu menjadi bermutu. Setidaknya ada 5 hal harus diperhatikan mengenai adab batin ini:

1. Sikap prihatin. Jika dalam istilah lain bisa juga disebut "wani perih". 
 Inilah pertanda adanya tekad yang kuat. Tak surut langkah meski berbagai aral menghadang.
2. Lembut kepada guru. Bertutur kata halus yang disertai dengan sikap menghormati sang guru.
3. Sabar dengan gurunya. Ini berlaku untuk banyak hal, baik dalam menjalani proses belajar maupun ketika melihat sikap-sikap guru yang tidak mudah dipahami atau tidak sesuai harapan murid.
4. Merasa tidak puas dengan ilmu. Sikap ini membentuk mental pembelajar sejati. Ia tak mudah puas dengan berbagai hal yang sudah diilmui. Ia akan terus belajar.
5. Memperbaiki niat. Inilah fondasi utama setiap langkah dalam belajar. Salah niat berbahaya akibatnya; terutama nanti ketika dibangkitkan setelah mati. Tak akan mencium bau surga bagi sesiapa yang mencari ilmu hanya untuk mendapat harta. Ngeri betul. Na'udzubillahi min dzalik.

Demikian sedikit catatan Lesehan Jum'at ini semoga bermanfaat. Oh ya pekan depan tanggal 6 Oktober 2017 insyaAllah akan berlanjut pada tema selanjutnya --> Bersahabat dengan Guru Hebat. Luangkan waktumu ya, Sobat!

Perempuan Itu*


Oleh: Muhammad Faqih

Kuingat perempuan itu
Dalam rahimnya aku tumbuh
Aku meloncat berputar
Dan menendang-nendang sepuasku

 Aku tak tahu...
Kalau perempuan itu menderita karenanya
Tapi aku yakin
Perempuan itu juga amat bahagia

Ibu...
Engkaulah perempuan itu
Perempuan yang kusayangi sepenuh hati
Tak ada kasih sayang setulus milikmu
Tak sanggup aku membalas kasihmu

*Sumber: Naskah lolos kusen 29 September 2017





BACA BULETIN TIGA EDISI SEKALIGUS


Buku dan ilmu adalah kecintaannya. Tidak satu pun buku yang pernah beliau pegang kecuali akan dilahapnya sampai habis.

Pernah, beliau sewa toko yang isinya buku dan kertas. Dia pun bermalam di toko tersebut dan baca buku. Ya. Demi baca buku dia sewa toko buku dan bermalam.

Siapakah dia? Al-Jahizh namanya. Maka, adakah yang pingin seperti dia? Yang GILA BACA demi memahami ilmu.

Maka, yang pingin melahap sekaligus @buletinnah edisi 43, 44, dan 45 boleh. GRATIS!

#bacabuku#pengobarbelajar #penguatsemangat

Rabu, 27 September 2017

Mencintai Karena Allah Ta’ala Semata

Oleh: Siti Muti`ah

Hendaknya seorang Muslim mencintai saudaranya atau para sahabatnya karena Allah Ta’ala, bukan karena dari urusan duniawi, seperti kekerabatan, urusan bisnis, dan lain sebagainya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tiga perkara yang dengannya seseorang bisa merasakan manisnya iman:… Ia mencintai seseorang dan tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah…”

Inilah dia cinta sejati, tali iman yang paling kuat, dan cabang iman yang agung sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Buhul iman yang paling kuat adalah: ber-wala’ (loyal) karena Allah, bermusuhan karena Allah, mencintai kerena Allah, dan membenci karena Allah.”

Adapun cinta  karena tujuan-tujuan duniawi, sesungguhnya ia akan hilang seiring hilangnya tujuan-tujuan itu. Ini adalah cinta yang semu dan labil, tidak akan bertahan, tidak ada kebaikan di dalamnya, dan tidak akan membawa pelakunya kepada kebaikan. Kebanyakan cinta yang demikian akan berubah menjadi permusuhan hanya karena sebab sepele atau sedikit perselisihan.

Sumber: Ditulis ulang dan diubah seperlunya dari buku ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada (2017) Ensiklopedi Adab Islam terbitan Pustaka Syafi`i.


Menangkap Makna Saat Duduk Bersama

Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

“Silahkan duduk,” lanjut Mush’ab bin Umair, duta Islam yang diutus Rasulullah  berdakwah di Madinah, “agar engkau bisa mendengar apa yang hendak kusampaikan.”

“Jika engkau suka terhadap sebagiannya, maka engkau bisa menerimanya, dan jika engkau tidak menyukainya, maka engkau tidak perlu menerima apa yang tidak engkau sukai,” kata Mush’ab memperjelas tawarannya dengan penuh kelembutan.

“Engkau cukup adil”, kata Usaid bin Hudair yang menjadi lawan bicara Mush’ab.
Lalu Mush’ab, lelaki yang terkenal ketampanan dan kewibawaannya ini membacakan ayat Al-Qur`an yang ia dapatkan dari gurunya yang mulia, Rasulullah SAW. Ia tawarkan Islam kepada Usaid, yang sebelumnya datang dengan rencana buruk; menghardik dan menghalangi dakwahnya.

Usaid telah merencanakan hal itu dengan Sa’ad bin Mu’adz, karena mereka adalah pemimpin kaum yang cukup disegani. Serta mereka menganggap ajaran yang hendak disebarkan oleh Mush’ab adalah hal baru yang akan merusak keyakinan lama mereka.

Rona wajah cerah telah tampak pada Usaid, yang akhirnya ia menerima Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu pun dengan Sa’ad bin Mu’adz, melihat perubahan yang dialami Usaid, ia pun mendatangi Mush’ab dengan niat yang sama.

Masih dengan cara yang sama, Mush’ab mempersilahkan duduk dan mengajak bicara bersama, Jika suka, maka ia boleh menerima, jika tidak suka, maka boleh ditolak. Memang tawaran yang memberikan rasa keadilan. Lantas benar, rona wajah cerah juga tampak pada diri Sa’ad. Ia pun menerima Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Duduk bersama, maka engkau akan mendapat makna, itulah kiranya kalimat yang tepat dari kejadian yang dialami Mush’ab dengan Usaid, dan Mush’ab dengan Sa’ad. Mereka berdua mendapat makna yang sama, bahkan makna baru yang mampu memberikan perubahan pada diri keduanya. Duduk bersama, menjadikan mereka merubah pola pikir jahiliyah menjadi pola pikir yang penuh dengan misi masa depan. Duduk bersama menjadikan mereka mengetahui yang benar dan yang salah, dan mereka mampu memilih sesuatu yang benar.

Apa yang terjadi andai kebiasaan duduk bersama ini kita lakukan? Namun, yang pasti tidak sekadar duduk bersama lalu tidak melakukan apa-apa atau saling sibuk dengan urusan masing-masing. Bukan itu maksud saya, duduk bersama lalu mulai menata pembicaraan, pembicaraan yang penuh dengan manfaat, bukan yang sia-sia, maka engkau akan menangkap makna. Ketika engkau berselisih duduklah bersama dan bicaralah. Saat engkau merasa berat pada suatu hal, duduklah bersama dan bicaralah. Saat engkau  gundah memikirkan peradaban, duduklah bersama dan bicaralah.


Jika demikian, ide-ide sebagai titik temu dari perselisihan akan engkau temukan, solusi sebuah masalah akan engkau dapatkan, dan misi kehidupan untuk membangun peradaban akan muncul layaknya biji-bijian yang Allah keluarkan dari dalam tanah. Allah dan Rasulnya menyebutnya dengan musyawarah. Ya, musyawarah, dengannya makna-makna kebenaran akan mampu terungkap. Waallahu a`alam. 


BAKAR SEMUA KAPAL…!!

Oleh Arif Jadmiko

Ada kejadian menarik di suatu hari pada tahun 711 M. Waktu itu, ada seorang lelaki yang sedang berdiri di bukit karang di wilayah pantai Spanyol. Tubuhnya perkasa, sosoknya teguh kukuh, dan semangatnya membara menyala-nyala. Ia sedang memandang ke arah ombak yang bergolak dan kapal-kapal yang barusan digunakannya menyeberang dari Afrika menuju Eropa. Sesaat ia mengumpulkan tenaga setelah perjalanan jauh dan menghela nafas panjang, dia punya strategi yang aneh dan gila. Setelah membulatkan tekad, dengan mantap ia berkata,
Bakar semua kapal kita ..!!

Semua prajuritnya terpana menatap panglimanya dan keheranan tak percaya dengan perintah itu. Mereka kebingungan dan memberanikan diri untuk bertanya,
Kenapa Anda melakukan ini panglima??

Lalu, bagaimana kita akan kembali nanti??

Lelaki perkasa itu tidak bergeming dan menjawab dengan lantang, sehingga jawaban itu menjadi kalimat yang menyejarah.

Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita datang ke sini bukan untuk menjadi pecundang. Kita datang ke sini untuk dua pilihan, yaitu menaklukkan negeri ini dan kita menetap di sini atau kita semua akan binasa.

Subhanallah, luar biasa bukan? Kalimat itulah yang kemudian menyuntikan motivasi kepada pasukan kaum Muslimin yang berbaris di pantai itu. Kalimat itulah yang membakar semangat kaum Muslimin untuk berperang habis-habisan. Pengucapnya adalah seorang pahlawan Islam yang menyejarah, yang kita kenal sebagai Thariq bin Ziyad.

Satu hikmah yang dapat kita serap: kita harus menutup peluang untuk gagal. Dua pilihan yang diberikan Thariq adalah pilihan terbaik. Menang dan hidup mulia atau syahid mendapat surga. Faidza azamta fa tawakkal alallah, setelah kamu membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah.

Kadang kita terlalu merasa khawatir dengan hal-hal yang akan kita kerjakan. Sehingga pikiran itu menghalangi kita untuk berhasil. Kekhawatiran itu membuat kita tidak melakukan apapun. Sehingga kita tidak pernah belajar dari pengalaman, akibatnya kita tidak mendapat pengetahuan. Dan tanpa adanya pengetahuan membuat kita semakin khawatir akan apa yang terjadi. Begitu seterusnya.

Rasa khawatir itu harus kita hilangkan. Setelah kita merencanakan dengan matang (emang buah mangga? he he), maksudnya merencakan dengan baik-baik, kita harus yakin untuk melaksanakan apa yang sudah direncanakan. Kalau kita saja tidak yakin, bagaimana mungkin usaha yang kita lakukan akan maksimal. Dan kalau kurang maksimal, hasilnya pun tidak optimal. Ya to??

Maka, keyakinan itu harus ditanamkan dalam diri kita. Dalam jiwa-jiwa setiap manusia, sehingga keraguan itu akan hilang dengan sendirinya. Dengan begitu, usaha yang dilakukan pun akan maksimal. Hasilnya akan optimal pula.

Masa lalu adalah sejarah yang dapat diambil pelajarannya. Masa depan belum kita ketahui maka harus dipersiapkan, direncanakan, dan berdoa agar kebaikan yang kita dapatkan. Hari ini adalah milik kita yang harus kita jalani dengan penuh motivasi.


Setelah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah. Setelah merencakan dengan berbagai pertimbangan, bulatkan tekad, kerjakan dengan sungguh-sungguh kemudian serahkan hasilnya kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah bersama orang-orang beriman. Jangan bersedih, sungguh Allah bersama kita.

*Naskah Buletin Nah Edisi 18 

Selasa, 26 September 2017

Menjadi Penghafal Al-Qur’an


Oleh: Silvia Maharani*

1.    Menghafal Al-Qur’an dimudahkan bagi seluruh umat manusia, tidak ada hubungannya dengan kecerdasan atau usia. Banyak sekali contoh orang yang berhasil menghafal Al-Qur’an meski usia mereka sudah lanjut. Bahkan Al-Qur’an juga bisa dihafal oleh orang-orang non-Arab yang tidak bisa berbahasa Arab, begitu pula oleh kalangan anak-anak.

2.    Menghafal Al-Qur’an adalah proyek yang tak mengenal kata “rugi”.
Ketika seorang muslim mulai menghafal Al-Qur’an dengan kemauan yang kuat, kemudian dihinggapi rasa malas dan lemah sehingga dia berhenti menghafal, maka apa yang telah dihafalnya tetap bermanfaat dan tidak akan sia-sia. Bahkan sekiranya dia belum hafal sedikit pun dari Al-Qur’an, maka dia tidak terhalang dari memperoleh pahala dari membaca Al-Qur’an. Sebab setiap huruf darinya diganjarkan dengan sepuluh kebaikan.

3.    Para penghafal Al-Qur’an adalah keluarga Allah dan orang-orang terdekatNya.

4.    Menghafal Al-Qur’an dan mempelajarinya itu lebih baik daripada perhiasan dunia.

5.    Menghafal Al-Qur’an memperoleh kedudukan yang mulia di dunia dan akhirat.

6.    Penghafal Al-Qur’an ketika meninggal didahulukan penguburannya.
Setelah perang Uhud berakhir dan ketika jenazah para syuhada dikuburkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpulkan dua jenazah dalam satu kubur, dan mendahulukan penguburan jenazah yang hafalannya paling banyak.

7.    Pada hari kiamat Al-Qur’an akan datang membawa syafa`at.

8.    Seorang penghafal Al-Qur’an akan bersama malaikat As-Safaratul Kiramul Bararah.
Allah berfirman:
“Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah, yang ditinggikan (dan) disucikan, di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti.” QS. Abasa: 13-16.

*Murid MTs Rumah Sajada

Referensi:
Dikutip dan diubah seperlunya dari buku Menjadi Hafizh Tips dan Motivasi Menghafal Al-Qur’an karya Ahmad Baduwailan (2016).  




MALAM-MALAM BERSAMA PENA

Oleh: Annafi`ah Firdaus

Kaya mereka bukan kaya harta. Miskin mereka bukan miskin ilmu. Itulah generasi pecinta ilmu terdahulu hingga sekarang, yang sebagian besar hidupnya bercukupan. Kesibukan menumpuk-numpuk harta dan kenikmatan dunia bukanlah cita-cita tertinggi mereka. Namun, capek dan payah mereka dilakukan untuk memperoleh ilmu.

Karena kondisi seperti itulah, terkadang mereka harus berpikir keras untuk melakukan perjalanan menuntut ilmu. Terkadang pula karena kondisi tiada harta, mereka tidak bisa membeli buku. Mereka juga tidak punya sesuatu yang dapat digunakan untuk menyewa orang untuk menyalin tulisan. Ingat ya, menyalin tulisan. Bukan seperti yang sangat mudah kita lakukan sekarang, copy-paste atau baca tulisan lewat digital.

Maka, apabila kita memperhatikan biografi dan sejarah perjalanan para generasi terdahulu, tentu kita bakal “iri” dan merasa malu. Apalah kita ini, yang perjuangannya menuntut ilmu tidak sesulit yang mereka lalui. Usaha yang sangat besar dan keras mereka kerjakan demi ilmu. Kesabaran yang indah serta waktu yang panjang untuk menuntut ilmu bagaikan kawan setia dalam meniti perjalanannya.

Adz-Dzahabi menyebutkan biografi Abu Abdillah Al-Humaidi Al-Andalusi (w. 488 H) bahwa Yahya bin Banna berkata, “Di antara satu bukti ketekunan Al-Humaidi adalah jika malam musim panas tiba, beliau menyalin buku sambil berendam di ember untuk mencuci pakaian yang telah diisi air agar tubuhnya hangat.”

Lain lagi dengan Muhammad bin Mukarram yang lebih masyhur dengan sebutan Ibnu Manzhur. Beliau termasuk generasi terdahulu yang paling suka meringkas buku-buku tebal dan tipis.

“Beliau selalu menulis dengan rela begadang untuk menulis, sehingga malam yang panjang pun beliau lalui dengan terjaga, beliau tidak tidur ataupun hanya sekadar memejamkan mata. Bejana air pun beliau letakkan di sampingnya, jika saat begadang tiba-tiba rasa kantuk menyerang, maka diambilah air tersebut lalu beliau usapkan ke kedua matanya, hingga akhir hidupnya beliau buta,” kata Ibnu Fadhlullah Al-`Amuri dalam buku “Gila Baca ala Ulama” karya Ali bin Muhammad Al-`Imran.


Jadi, bagaimana kabar malam-malam kita? Apakah bersama pena untuk berkarya? Semoga Allah mudahkan diri kita dalam memanfaatkan waktu terutama malam-malam kita. Sehingga tidak hanya kesia-siaan yang kita dapat. Pun dengan tidur, ia adalah waktu sejenak untuk merehatkan badan dan pikiran. Namun, sejatinya itulah persiapan kita untuk “bertempur” menyiapkan hati, fisik, dan pikiran dalam memahami ilmu di hari berikutnya ... 

Kamis, 14 September 2017

JADI HEBAT TANPA BAKAT


Oleh Denis Dinamis

Mozart. Wolfgang Amadeus Mozart. Menyusun musik di usia 5 tahun. Tampil di depan umum, sebagai pianis dan musisi biola di usia 8 tahun. Menciptakan ratusan karya. Beberapa karya disebut sebagai harta karun budaya barat. Di dunia musik dikenal sebagai orang paling berbakat .

Benarkah?

Yuk kita lihat faktanya dengan lebih jeli.

Ayah Mozart bernama Leopold Mozart. Seorang komposer dan musisi terkenal di zamannya. Sebagai orang tua, ayah Mozart kecil memulai program pelatihan intensif anaknya dari usia 3 tahun. Kenapa dari sebegitu kecil? Ayah Mozart sangat tertarik pada satu hal: mengajarkan musik pada anak-anak.

Sebagai musisi, Leopold sih biasa-biasa saja. Sebagai pendidik anak, nah, dia luar biasa. Bukunya tentang cara bermain biola menjadi rujukan selama beberapa dekade. Pada tahun  kelahiran Mozart kecil, lahir pula buku itu. Dua kelahiran yang sangat berarti bagi Leopold.
Sejak usia muda, Mozart kecil dapat pendidikan musik yang sangat berbobot dari seorang pakar, yaitu ayahnya. Nggak heran, karya-karya awal Mozart tampak luar biasa! Pssst.. For your Information, karya awal Wolfgang bukan karyanya sendiri lho..  Ayah Mozart selalu “mengoreksi” hasil karyanya sebelum orang lain mendengarkan karya itu. Layak dicatat juga: Leopold berhenti menghasilkan karya di tahun yang sama saat Mozart mulai belajar dari ayahnya.

Lebih tampak lagi pada 4 konser piano (piano concerto) pertama Mozart di usia 11 tahun. Ternyata tidak orisinil. Tidak asli karangan Mozart. Mozart menggabungkan karya-karya komposer lain. Lebih lagi, 3 karya yang dihasilkannya pada usia 16 tahun adalah aransemen dari Johann Christian Bach, guru Mozart di London. Simfoni awal Mozart di usia 8 tahun juga sangat mirip dengan gaya John Christian Bach, gurunya pada saat itu.
Tidak ada satu pun dari karya tersebut yang dianggap fenomenal. Karya luar biasa tingkat dunia (atau bisa dibilang masterpiece) Mozart adalah Piano Concerto No.9. Dia menyusunya di usia 21 tahun. Sangat muda ya? Kamu perlu ingat bahwa Mozart belajar musik sejak usia 3 tahun. Artinya: Mozart melalui proses belajar dan latihan yang sangat keras dari ahlinya selama 18 tahun.

Jadi, kalau yang kamu maksud dengan orang berbakat adalah orang yang bisa menjadi ahli dengan cepat dan mudah, coba pikir lagi. Apa benar ada yang seperti itu? Malcolm Gladwell menyebutkan di buku Outliers bahwa waktu latihan minimal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli tingkat dunia adalah 10.000 jam. Rata-rata waktu itu juga yang dipenuhi oleh Bill Gates, The Beatles, dan ahli-ahli lain ketika menghasilkan karya tingkat dunia.
Jadi, bagaimana cara menjadi hebat tingkat dunia? Bakat? Terbukti tidak tepat. Latihan? Ya. Tapi bukan sembarang latihan. Para peneliti menyebutnya Deliberate Practice atau Latihan Penuh Kesadaran (LPK).

Lalu apa itu LPK dan bagaimana caranya? Semoga Allah ijinkan untuk bersua kembali di edisi selanjutnya!***

Sumber: Gelegar Belajar Buletin Nah Edisi 29


Selasa, 12 September 2017

Makan dan Minum dengan Baik


Oleh: M. Rosyad

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah,  jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Makan dan minum adalah kebutuhan manusia yang cukup penting. Dalam sehari, berapa kali Sobat Nih makan? Berapa gelas air yang Sobat Nih minum? Nah, dari sekian makan dan minum yang Sobat Nih lakukan, kira-kira sudah sesuai dengan cara Islam belum ya?
Ketahuilah! Dengan makan dan minum pun tidak hanya lapar dan dahaga yang hilang. Namun bisa pula berpahala. Sudah tahu belum tata cara makan minum dengan baik dan berpahala? Mau tahu? Silahkan simak ya!

1. Makanlah yang baik dan halal.
2. Baca Basmalah sebelum makan.
3. Memulai dengan yang terdekat.
4. Gunakan dengan tangan kanan.
5. Bernafas di luar bejana ketika hendak minum.
6. Tidak makan minum sambil berdiri dan berjalan
7. Tidak mencaci makanan.
8. Ucapkan Alhamdulillah setelah selesai makan dan minum.

Itulah tata cara untuk makan dan minum dengan baik yang diringkaskan dari buku “Ensiklopedia Adab” karya `Abdul `Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada. Nah, cukup sekian sedikit ilmu tentang tata cara makan minum dengan baik dan berpahala. Mudah-mudahan kita bisa mengamalkannya.

Sumber: Buletin Nih #19 


SAUDARA KITA ROHINGYA

Oleh: Anafi`ah Firdaus 

Demi langit beserta gugusan bintangnya
Demi bumi yang segala isi adalah milikNya
Demi hari, yang tiada luput atas pembalasanNya
Tidakkah engkau mengetahui kabar saudara?
Saudara nun jauh di sana
Yang kini sedang berjuang demi membela agama
Dipaksa pergi dari kampung halamannya
Hanya karena mereka memiliki satu “harta”
Beriman kepadaNya!

Sungguh biadab dan celaka
Mereka yang menyiksa saudara kita Rohingya
Yang membunuh anak-anak tiada dosa
Yang melecehkan dengan keji kaum wanita
Yang memenggal kepala bak hewan Idul Adha
Serta membakar rumah Rohingya agar tiada daya

Kami Muslim, sungguh tidak suka berperang saudara!
Apalagi melakukan genosida!

Wahai kalian yang menyiksa Rohingya
Tidakkah kalian takut dengan Allah Ta`ala?
Tidakkah kalian mengetahui kisah-kisah Musa?
Yang musuhnya Fir`aun adalah orang paling celaka
Karena mengaku dirinya Sang Pencipta
Serta menyiksa orang-orang yang beriman kepadaNya

Namun, jika kalian tidak segera bertaubat padaNya 
Dan tidak menghentikan ini semua
Tunggulah di hari yang Dia janjikan ke semua manusia
Bahwa, setiap perbuatan ada balasannya
Kami tidak akan rugi karena kami di surga
Kalian, di Neraka Jahanam yang apinya membara



Makan Buah Terlarang

Oleh: Fajar Yunan Fanani

Allah menceritakan di dalam Al-Qur`an surat Al-A`raf ayat sembilan belas tentang kisah Nabi Adam dan Hawa (istrinya). Allah membolehkan Nabi Adam dan Hawa bertempat tinggal di surga. Mereka berdua, diperbolehkan pula memakan semua buah-buahan yang ada di surga. Kecuali sebuah buah pada suatu pohon.  

Saat itulah Iblis merasa iri dan dengki dengan nikmat yang diterima Nabi Adam beserta istrinya. Tambah, Iblis juga mendapatkan hukuman dari Allah Ta`ala yaitu dikeluarkan dari surga karena tidak mau sujud kepada Nabi Adam atas perintah Allah. Maka, sebelum dikeluarkan dari surga, Iblis meminta untuk dihidupkan sampai hari Kiamat untuk mengganggu atau mengajak anak cucu Adam ke neraka. Allah Ta`ala mengabulkan permintaan Iblis.


Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada Nabi Adam dan Hawa bahwa mereka tidak akan kekal di surga kecuali dengan memakan buah terlarang tersebut. Dan (setan) berkata, “Rabbmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (QS. Al-A'raf: 20)

Selasa, 05 September 2017

Beberapa Penyakit Penuntut Ilmu

Foto agenda JAN di SMA 11 Yogyakarta
Oleh: Novtinof K

Ada beberapa penyakit yang banyak menimpa para penuntut ilmu. Barangsiapa yang terkena penyakit tersebut, maka ia akan tersungkur. Kita memohon kesehatan dan keselamatan kepada Allah Ta’ala.

Pertama, riya’ di dalam mencari ilmu, memberi bimbingan dan dakwah, serta ingin selalu tampil di depan (dihormati). Terapinya adalah tulus dan ikhlas.

 Kedua, hasad (iri). Betapa banyaknya penyakit ini menimpa pada para pelajar. Ia merupakan bagian dari dosa besar. Terapinya adalah dengan beriman kepada qodo’ dan qodar, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, serta ingat selalu akan karunia yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala.

Ketiga, sombong. Ini merupakan thoghut hati, ‘Fir’aun ruh’ dan ‘Namrud para penuntut ilmu’. Balasan bagi orang seperti ini adalah kehinaan, kekerdilan, dan kerendahandi dunia dan akhirat. Cara terapinya adalah dengan tawadhu’ (rendah hati) serta mengkaca diri.

Ditulis ulang dari buku Tips Belajar Para Ulama karya `Aidh Al-Qorni.



Makan dan Minumlah

Oleh: Silvia Maharani

Makan dan minumlah
Dari rizki yang halal
Bukan dari rizki
Yang haram

Makan dan minumlah
Dengan baik dan benar
Jangan yang buruk dan salah

Makan dan minumlah
Dengan adab yang baik
Bukan dengan adab yang buruk
Janganlah kau ikuti langkah setan
Karena, setan adalah musuh nyata bagimu  

Sumber: Buletin Nih #19