Rabu, 27 September 2017

BAKAR SEMUA KAPAL…!!

Oleh Arif Jadmiko

Ada kejadian menarik di suatu hari pada tahun 711 M. Waktu itu, ada seorang lelaki yang sedang berdiri di bukit karang di wilayah pantai Spanyol. Tubuhnya perkasa, sosoknya teguh kukuh, dan semangatnya membara menyala-nyala. Ia sedang memandang ke arah ombak yang bergolak dan kapal-kapal yang barusan digunakannya menyeberang dari Afrika menuju Eropa. Sesaat ia mengumpulkan tenaga setelah perjalanan jauh dan menghela nafas panjang, dia punya strategi yang aneh dan gila. Setelah membulatkan tekad, dengan mantap ia berkata,
Bakar semua kapal kita ..!!

Semua prajuritnya terpana menatap panglimanya dan keheranan tak percaya dengan perintah itu. Mereka kebingungan dan memberanikan diri untuk bertanya,
Kenapa Anda melakukan ini panglima??

Lalu, bagaimana kita akan kembali nanti??

Lelaki perkasa itu tidak bergeming dan menjawab dengan lantang, sehingga jawaban itu menjadi kalimat yang menyejarah.

Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita datang ke sini bukan untuk menjadi pecundang. Kita datang ke sini untuk dua pilihan, yaitu menaklukkan negeri ini dan kita menetap di sini atau kita semua akan binasa.

Subhanallah, luar biasa bukan? Kalimat itulah yang kemudian menyuntikan motivasi kepada pasukan kaum Muslimin yang berbaris di pantai itu. Kalimat itulah yang membakar semangat kaum Muslimin untuk berperang habis-habisan. Pengucapnya adalah seorang pahlawan Islam yang menyejarah, yang kita kenal sebagai Thariq bin Ziyad.

Satu hikmah yang dapat kita serap: kita harus menutup peluang untuk gagal. Dua pilihan yang diberikan Thariq adalah pilihan terbaik. Menang dan hidup mulia atau syahid mendapat surga. Faidza azamta fa tawakkal alallah, setelah kamu membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah.

Kadang kita terlalu merasa khawatir dengan hal-hal yang akan kita kerjakan. Sehingga pikiran itu menghalangi kita untuk berhasil. Kekhawatiran itu membuat kita tidak melakukan apapun. Sehingga kita tidak pernah belajar dari pengalaman, akibatnya kita tidak mendapat pengetahuan. Dan tanpa adanya pengetahuan membuat kita semakin khawatir akan apa yang terjadi. Begitu seterusnya.

Rasa khawatir itu harus kita hilangkan. Setelah kita merencanakan dengan matang (emang buah mangga? he he), maksudnya merencakan dengan baik-baik, kita harus yakin untuk melaksanakan apa yang sudah direncanakan. Kalau kita saja tidak yakin, bagaimana mungkin usaha yang kita lakukan akan maksimal. Dan kalau kurang maksimal, hasilnya pun tidak optimal. Ya to??

Maka, keyakinan itu harus ditanamkan dalam diri kita. Dalam jiwa-jiwa setiap manusia, sehingga keraguan itu akan hilang dengan sendirinya. Dengan begitu, usaha yang dilakukan pun akan maksimal. Hasilnya akan optimal pula.

Masa lalu adalah sejarah yang dapat diambil pelajarannya. Masa depan belum kita ketahui maka harus dipersiapkan, direncanakan, dan berdoa agar kebaikan yang kita dapatkan. Hari ini adalah milik kita yang harus kita jalani dengan penuh motivasi.


Setelah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah. Setelah merencakan dengan berbagai pertimbangan, bulatkan tekad, kerjakan dengan sungguh-sungguh kemudian serahkan hasilnya kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah bersama orang-orang beriman. Jangan bersedih, sungguh Allah bersama kita.

*Naskah Buletin Nah Edisi 18 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar