Selasa, 26 September 2017

MALAM-MALAM BERSAMA PENA

Oleh: Annafi`ah Firdaus

Kaya mereka bukan kaya harta. Miskin mereka bukan miskin ilmu. Itulah generasi pecinta ilmu terdahulu hingga sekarang, yang sebagian besar hidupnya bercukupan. Kesibukan menumpuk-numpuk harta dan kenikmatan dunia bukanlah cita-cita tertinggi mereka. Namun, capek dan payah mereka dilakukan untuk memperoleh ilmu.

Karena kondisi seperti itulah, terkadang mereka harus berpikir keras untuk melakukan perjalanan menuntut ilmu. Terkadang pula karena kondisi tiada harta, mereka tidak bisa membeli buku. Mereka juga tidak punya sesuatu yang dapat digunakan untuk menyewa orang untuk menyalin tulisan. Ingat ya, menyalin tulisan. Bukan seperti yang sangat mudah kita lakukan sekarang, copy-paste atau baca tulisan lewat digital.

Maka, apabila kita memperhatikan biografi dan sejarah perjalanan para generasi terdahulu, tentu kita bakal “iri” dan merasa malu. Apalah kita ini, yang perjuangannya menuntut ilmu tidak sesulit yang mereka lalui. Usaha yang sangat besar dan keras mereka kerjakan demi ilmu. Kesabaran yang indah serta waktu yang panjang untuk menuntut ilmu bagaikan kawan setia dalam meniti perjalanannya.

Adz-Dzahabi menyebutkan biografi Abu Abdillah Al-Humaidi Al-Andalusi (w. 488 H) bahwa Yahya bin Banna berkata, “Di antara satu bukti ketekunan Al-Humaidi adalah jika malam musim panas tiba, beliau menyalin buku sambil berendam di ember untuk mencuci pakaian yang telah diisi air agar tubuhnya hangat.”

Lain lagi dengan Muhammad bin Mukarram yang lebih masyhur dengan sebutan Ibnu Manzhur. Beliau termasuk generasi terdahulu yang paling suka meringkas buku-buku tebal dan tipis.

“Beliau selalu menulis dengan rela begadang untuk menulis, sehingga malam yang panjang pun beliau lalui dengan terjaga, beliau tidak tidur ataupun hanya sekadar memejamkan mata. Bejana air pun beliau letakkan di sampingnya, jika saat begadang tiba-tiba rasa kantuk menyerang, maka diambilah air tersebut lalu beliau usapkan ke kedua matanya, hingga akhir hidupnya beliau buta,” kata Ibnu Fadhlullah Al-`Amuri dalam buku “Gila Baca ala Ulama” karya Ali bin Muhammad Al-`Imran.


Jadi, bagaimana kabar malam-malam kita? Apakah bersama pena untuk berkarya? Semoga Allah mudahkan diri kita dalam memanfaatkan waktu terutama malam-malam kita. Sehingga tidak hanya kesia-siaan yang kita dapat. Pun dengan tidur, ia adalah waktu sejenak untuk merehatkan badan dan pikiran. Namun, sejatinya itulah persiapan kita untuk “bertempur” menyiapkan hati, fisik, dan pikiran dalam memahami ilmu di hari berikutnya ... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar