Rabu, 27 September 2017

Menangkap Makna Saat Duduk Bersama

Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

“Silahkan duduk,” lanjut Mush’ab bin Umair, duta Islam yang diutus Rasulullah  berdakwah di Madinah, “agar engkau bisa mendengar apa yang hendak kusampaikan.”

“Jika engkau suka terhadap sebagiannya, maka engkau bisa menerimanya, dan jika engkau tidak menyukainya, maka engkau tidak perlu menerima apa yang tidak engkau sukai,” kata Mush’ab memperjelas tawarannya dengan penuh kelembutan.

“Engkau cukup adil”, kata Usaid bin Hudair yang menjadi lawan bicara Mush’ab.
Lalu Mush’ab, lelaki yang terkenal ketampanan dan kewibawaannya ini membacakan ayat Al-Qur`an yang ia dapatkan dari gurunya yang mulia, Rasulullah SAW. Ia tawarkan Islam kepada Usaid, yang sebelumnya datang dengan rencana buruk; menghardik dan menghalangi dakwahnya.

Usaid telah merencanakan hal itu dengan Sa’ad bin Mu’adz, karena mereka adalah pemimpin kaum yang cukup disegani. Serta mereka menganggap ajaran yang hendak disebarkan oleh Mush’ab adalah hal baru yang akan merusak keyakinan lama mereka.

Rona wajah cerah telah tampak pada Usaid, yang akhirnya ia menerima Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu pun dengan Sa’ad bin Mu’adz, melihat perubahan yang dialami Usaid, ia pun mendatangi Mush’ab dengan niat yang sama.

Masih dengan cara yang sama, Mush’ab mempersilahkan duduk dan mengajak bicara bersama, Jika suka, maka ia boleh menerima, jika tidak suka, maka boleh ditolak. Memang tawaran yang memberikan rasa keadilan. Lantas benar, rona wajah cerah juga tampak pada diri Sa’ad. Ia pun menerima Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Duduk bersama, maka engkau akan mendapat makna, itulah kiranya kalimat yang tepat dari kejadian yang dialami Mush’ab dengan Usaid, dan Mush’ab dengan Sa’ad. Mereka berdua mendapat makna yang sama, bahkan makna baru yang mampu memberikan perubahan pada diri keduanya. Duduk bersama, menjadikan mereka merubah pola pikir jahiliyah menjadi pola pikir yang penuh dengan misi masa depan. Duduk bersama menjadikan mereka mengetahui yang benar dan yang salah, dan mereka mampu memilih sesuatu yang benar.

Apa yang terjadi andai kebiasaan duduk bersama ini kita lakukan? Namun, yang pasti tidak sekadar duduk bersama lalu tidak melakukan apa-apa atau saling sibuk dengan urusan masing-masing. Bukan itu maksud saya, duduk bersama lalu mulai menata pembicaraan, pembicaraan yang penuh dengan manfaat, bukan yang sia-sia, maka engkau akan menangkap makna. Ketika engkau berselisih duduklah bersama dan bicaralah. Saat engkau merasa berat pada suatu hal, duduklah bersama dan bicaralah. Saat engkau  gundah memikirkan peradaban, duduklah bersama dan bicaralah.


Jika demikian, ide-ide sebagai titik temu dari perselisihan akan engkau temukan, solusi sebuah masalah akan engkau dapatkan, dan misi kehidupan untuk membangun peradaban akan muncul layaknya biji-bijian yang Allah keluarkan dari dalam tanah. Allah dan Rasulnya menyebutnya dengan musyawarah. Ya, musyawarah, dengannya makna-makna kebenaran akan mampu terungkap. Waallahu a`alam. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar