Sabtu, 30 September 2017

TERCECER


Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Betapa malunya andai kita melihat perjuangan pemuda di masa kejayaan Islam dulu. Di usia yang sekarang kita anggap sebagai "masa remaja", mereka telah memiliki tujuan yang jelas dibarengi tekad yang sangat kuat.

Coba perhatikan, hari ini andai melihat lebih detail, pemuda usia 15 tahun atau yang mendekati itu berbuat keburukan, tidak sesuai syariat Islam bahkan jauh dari aturan Allah, tampaknya hanya komentar ringan yang akan muncul, "itu memang masa mereka, masa mencari jati diri." Atau semua sepakat dengan itu? Jika iya, yang terjadi hanyalah pembiaran dan pembiaran, yang dampaknya mereka akan semakin jauh dari aturan Allah.

Seakan memang ada yang hilang, ada yang masih ganjil di sini. Harusnya tidak seperti itu jika kita melihat pembenaran Ali bin Abi Thalib terhadap Islam di usia 10 tahun, Zaid bin Tsabit sang penerjemah Rasulullah di usia 13 tahun, pejuang cilik Mu'adz bin Amr bin Al-Jamuh dan Muawwidz bin Afra', Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Arqam bin Abu Arqam, dan tentu masih banyak lagi yang seperti mereka.

Mereka semua pemuda, bahkan ada yang masih anak kecil. Tapi keseriusan mereka seakan lebih besar dari ukuran badan dan usia mereka.


Tandanya, ada yang hilang dalam diri pemuda hari ini, ada yang tercecer. Dr Raghib As-Sirjani dalam bukunya, "Menjadi Pemuda Peka Zaman (terj.)" setidaknya ada empat yang menjadikan generasi hari ini mengalami kemerosotan. Mulai dari hilangnya ruh tarbiyah Islamiah, dimana kesungguhan belajar ilmu agama kini hanya sebatas untuk menghadapi ujian.

Lalu hilangnya keteladanan, dan ini menjadi PR semua kalangan. Pemuda perlu orang yang menjadi contoh, contoh nyata yang itu jelas kebenaran iman dan kejujurannya, dan Islam sudah memberitahu siapa teladan terbaik itu, ya dialah Muhammad SAW, bukan artis atau pemain sepak bola.

Berikutnya, frustasi dan kecewa dengan kondisi umat. Seakan mereka sudah pasrah tanpa ada usaha untuk merubahnya. Terakhir, munculnya media dan informasi yang bahkan ruang dan waktu tidak mampu membendungnya. Hanya iman, hanya dengan iman pemuda mempu membendungnya.

Lantas, kapan kita segera menyadari semua itu?

@buletinnah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar