Senin, 30 Oktober 2017

PETA-KAN HIDUPMU!

Oleh: Deniz Dinamiz

Apa rencanamu 1 tahun ke depan? Lulus sekolah atau naik kelas? Lalu, apa rencanamu 5 tahun, 10 tahun, sampai 20 tahun lagi? Buat kamu yang nggak punya rencana, siapin aja kata-kata sambutan:

SELAMAT DATANG KEGAGALAN, SELAMAT TINGGAL KESUKSESAN!!

Pernah denger kalo kegagalan dalam merencanakan berarti merencanakan kegagalan? Yap. Betul itu. Punya rencana matang aja masih ada kemungkinan nggak langsung berhasil, apalagi nggak punya rencana. Dijamin gagal !! (Mendingan juga dijamin halal…)

Nih, simak dong, pengalaman seorang pemuda yang berhasil menundukkan sebuah kota bernama Konstantinopel di usia 23 tahun!! Hehe.. Hebat ‘kan? Kenal dong ama dia? Kalau belum, yuk kenalan…

Namanya Muhammad Al-Fatih. Sejak kecil dia udah nyiapin segala yang diperlukan untuk jadi panglima jempolan. Yang pertama dan utama mulai dari kekuatan ruhani. Al-Fatih udah ngasah kekuatan ruhaninya dengan tidak pernah kelupaan untuk sholat malam atawa tahajud sejak dia udah baligh!! Naah… Kalo kamu gimana? Sholat lima waktu udah biasa di masjid? Alhamdulillah kalau udah. Semoga bisa merasakan indahnya sholat penuh kekhusyukan!

Terus, untuk ngelatih kekuatan fisiknya dalam berperang, Al-Fatih di waktu siang berlatih dengan memanah, bergulat, berkuda, dan segala macem latihan ketrampilan berperang lainnya. Tentu saja dengan selalu setia menunjukkan contoh yang terbaik untuk pasukannya!
Kalo malem, tidur dong? `Kan capek? Weits, kalau Al-Fatih malem dipakai untuk mengasah kekuatan akalnya dengan belajar Islam, strategi perang, dan ilmu-ilmu lainnya!! Gimana nggak jagoan? Nggak heran orang Islam pernah dibilang bagaikan “singa perkasa di siang hari, rahib di malam hari”. Udah siangnya semangat kerja tiada tara, malemnya penuh dengan dzikir dan tafakur atawa berfikir kepada Allah Ta’ala. Inilah Islam dengan wajahnya yang mempesona.

Kalau kamu gimana? Siangnya maen game, malemnya nonton bola? Yah… sayang sekali waktunya kurang disayang ya. Duuh kasian.. waktu nggak disayang sama yang punya…
Nah, kalau Al-Fatih udah punya rencana nundukin Konstantinopel sejak masih kecil dan udah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari, kalo kamu mau gimana? Apa dong rencana kamu? Seperti apa PETA HIDUPmu? Mau terus pasrah nunggu apa pun yang bakal terjadi dengan diri kamu? Atau kamu ingin menjadi penentu pertama dan utama dari nasib kamu? Ingat lho.. Allah nggak akan ngerubah apa-apa yang ada pada suatu kaum tanpa dia ngerubah apa-apa yang ada pada dirinya sendiri!! Jadi, tunggu apalagi? PETA-KAN HIDUP INI, ‘TUK RAIH RIDLO ILAHI! CIHUY!!!***


Sumber: Buletin Nah 30 

SANG PEMBELAJAR SEJATI

Oleh : Annafi`ah Firdaus

Siapa namamu wahai lelaki muda?” tanya Muslim ibn Khalid Az-Zanji; seorang imam, mufti, dan faqih Makkah. Suatu hari dia melihat seorang anak yang berpenampilan menarik hati. Bocah tersebut sedang menghafal syair `Arab yang indah.

 “Muhammad bin Idris,” Jawabnya dengan singkat.

Setelah diketahui lebih lanjut lagi, ternyata anak ini adalah seorang yatim yang berasal dari keturunan Muthalib ibn `Abdi Manaf. Adapun Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam adalah buyut dari Hasyim ibn `Abdi Manaf, kakak Muthalib. Ternyata masih keturunan Quraisy.

Apa yang kau lakukan di kota ini, Anakku?” Tanya Muslim

Belajar bahasa, nahwu, juga sharahnya serta menghafalkan syair-syair `Arab.”

Ketahuilah Nak, alangkah indahnya jika kefasihan lisanmu dan merdu suaramu digunakan untuk menjaga Sunnah Rasulullah. Menjaga hukum-hukum islam pada manusia. Mengajari mereka fiqh sehingga memahami agama ini.”

Nasehat Muslim ibn Khalid Az-Zanji telah menyengat Muhammad bin Idris untuk mempelajari Sunah Rasulullah dan fiqh. Usia 15 tahun anak ini kembali ke Mekkah usai melakukan pengembaraan ilmu. Saat itu, oleh Muslim ibn Khalid Az-Zanji diminta duduk ditempat biasa mengajar dan berfatwa.

Berfatwalah Nak, sungguh tiba saatnya bagimu untuk berfatwa.”

Nasehat sang guru itulah yang menjadi awalan. Menghafal Al-Quran di usia 7 tahun, menyelesaikan Al-Muwatha` karya Imam Malik di depan penulisnya Imam Malik pada usia 10 tahun. Taukah siapa dia? Ya, beliau adalah Imam Syafi`i. Nih !


Sumber: Nah 1 

KEMANAKAH PAHLAWAN ITU?

Oleh: Fadlan al-Ikhwani

Dari mana asalnya mutiara? Terbentuk sendirikah? Tidak! Berkat pengorbanan si kerang ia terbentuk. Ketegaran menghadapi rasa sakit, kesabaran merasakan penderitaan, masuknya benda asing ke dalam cangkang yang sakitnya luar biasa itulah yang membentuk batuan indah, mutiara. Dan, nilai sebutir mutiara lebih mahal dari berkilo-kilo batuan kali.

Coba bandingkan dengan kerang biasa yang tidak mau berkorban. Tidak mau menanggung rasa sakit. Tidak mau ada benda asing yang masuk ke dalam cangkangnya. Ia akan jadi kerang murahan. Dijual di pasar dengan harga rendah. Dua ribu rupiah sudah dapet 5 tusuk. Sate kerang! Sate kerang!

Hidup adalah perjuangan, Kawan. Setiap perjuangan pasti butuh pengorbanan. Jelas! Setiap kesulitan yang menimpa, jika kamu mau menghadapi dengan sabar, akan menghasilkan mutiara-mutiara indah di hadapan Allah. Apakah mutiara itu? Surga!

Ya! Surga! Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Siapa yang tidak ingin surga? Ada yang tidak ingin surga?

Perang uhud adalah contoh perjuangan yang memerlukan pengorbanan. Kaum muslimin betul-betul diuji pada perang ini. Berat sekali ujiannya. Bayangkan! Sekitar tujuh puluh orang sahabat gugur sebagai syuhada. Termasuk pamanda Rasulullah Saw tercinta, Hamzah. Ia gugur dengan usus terburai. Hidungnya terpotong, telinganya juga. Mush'ab bin Umair juga syahid dengan tubuh terpotong-potong.

Kekalahan di Uhud adalah pil pahit bagi kaum muslimin. Pasukan pemanah telah lengah. Mereka tidak mengindahkan seruan Nabinya untuk tidak turun gunung, apapun yang terjadi. Namun mereka nekad meninggalkan pos-nya, lantaran tergoda oleh ghanimah (harta rampasan perang). Akibatnya, pos pertahanannya diserang oleh pasukan Khalid bin Walid. 

Pasukan muslimin pun dibuat kocar-kacir. ENDing-nya: kekalahan di pihak kaum muslimin.
Itulah sekilas fenomena Uhud. Namun di sisi lain, Uhud adalah rahasia Allah. Mengapa bisa begitu? Karena pada perang ini terkuak. Siapa yang mukmin dan siapa yang munafik. Perang ini juga merupakan bentuk kasih sayang-Nya. Lho kok? Iya! Karena perang ini banyak ”mewisuda” para sahabat terbaik menjadi syuhada. Bukankah memang itu yang mereka damba-dambakan? Berjumpa Rabbnya  dengan tubuh penuh luka. Berdarah-darah. Tapi, kelak akan diganti lumuran darahnya itu dengan wangi kasturi. Dan, disambut oleh para bidadari bermata jeli. Duh suenengnya.

Rasa sakit dalam setiap perjuangan adalah tempaan, yang akan membuat hidup lebih bermakna. Maka, tantangan dan kesulitan yang menghadang, jangan sampai menjadikan dirimu lemah. Apalagi sampai mundur dan surut ke belakang. Kata seorang penyair Arab, Al-Mutanabbi, “Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan jadi pahlawan.” 


Sumber: Buletin Nah #4

Menyambut Cahaya Penerang Jiwa

Oleh: Amin Novianto 

Beragama namun kosong jiwa. Apakah mungkin? Jika itu terjadi maka sungguh betapa mengkhawatirkan. Padahal bagi setiap muslim, tidak semestinya demikian. Semakin paham agama, semakin tenang jiwa. Jika tidak, pasti ada yang salah pada diri pelakunya, bukan Islamnya yang salah.

Ada proses yang harus selalu dijalani. Setiap saat bersamaan dengan berlalunya waktu. Proses ini adalah proses panjang, bahkan hingga nyawa teregang. Inilah proses penyucian jiwa.

Di dalam Al-Qur'an ada beberapa kata yang berkaitan dengan jiwa; antara lain: Nafs, Ruh, Qolb, Aql, Jism, Insan, Nas, Basyar, Ins, dan Fitrah. Pembahasan mengenai beberapa hal terkait dengan jiwa itu tak bisa selesai dalam waktu pendek. Maka pada pertemuan Lesehan Jum'at Jan (19/10/2017) ini baru sebatas perkenalan saja yang disampaikan oleh Pak Denis.

Dalam sudut pandang akademis pada umumnya, mempelajari tentang kejiwaan secara khusus dikaji dalam ilmu Psikologi. Psikologi mempelajari tentang perilaku dan potensi perilaku manusia. Jauh sebelum teori-teori Psikologi itu muncul dan berkembang Islam telah lebih dahulu memberi petunjuk. Pada beberapa pertemuan ke depan, forum Lesehan Jum'at JAN akan mempelajari bersama dalam rangkaian tema "Psikologi Islam."


Selasa, 24 Oktober 2017

UNTUK SIAPA SEGALA KARYA?

Oleh: Eko Megawati

Untuk siapa kita berpayah-payah mengerjakan tugas yang menguras pikiran? Untuk siapa kita bekerja keras mengumpulkan harta hingga peluh membasahi raga? Untuk siapa kita berlelah-lelah mendayakan energi kita dalam mengerjakan banyak hal yang kita suka ataupun mungkin tidak kita suka? Lantas, bagi mereka yang senang bersantai dan memanjakan dirinya, untuk siapa segala yang dilakukannya?

Mungkin di antara kita ada yang sering melalaikan amanah dan kewajibannya. Ada pula yang lalai pada janji dan tanggung jawab yang sepantasnya kita jaga. Dengan berbagai alasan kita menyangkal, berdalih bahwa berbagai kesibukan telah menyita waktu kita. Adakah demikian?
Tentu saja kita akan disibukkan oleh berbagai urusan. Bahkan mereka yang berstatus sebagai pengangguran sekalipun akan disibukkan dengan segala sesuatu yang menjadi ujian kehidupan. Untuk itulah sebuah nasihat pernah diajarkan, jika kita tidak disibukkan oleh kebaikan, maka kita akan disibukkan dengan perkara keburukan. Sobat, hendak memilih kesibukan yang akan mengantarkan ke surga, atau justru menjadi penjerumus ke neraka? Semoga Allah menjaga kita dari segala perkara yang sia-sia. Semoga Allah selalu menunjuki kita kepada jalan lurus yang diridhoi-Nya.

Sobat, mungkin kita perlu mengingat Quran Surat Ali-Imran ayat lima yang disampaikan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW, bahwa “Sesungguhnya, bagi Allah, tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” Di dalam firman-Nya yang lain turut disebutkan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar mengawasi, bersama kita di mana saja kita berada. Allah pulalah yang melihat sesiapa di antara hamba-Nya yang berdiri untuk shalat, dan melihat pula perubahan gerak badan seseorang di antara orang-orang yang sujud. “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (Ghafir: 19).

Sobat, apapun yang kita kerjakan, tentu Allah Maha Melihat. Apapun yang terbersit dalam niatan kita, tentu Allah mengetahui. Jadi, jangan pernah lelah memohon pertolongan dan kasih sayang Allah. Jika rasa bosan mulai menghampiri aktivitas kebaikan yang kita lakukan, ingatlah Allah sebagai tujuan. Tak ada sesuatu perbuatan yang kita anggap sangat remeh sekalipun yang tidak diganjar oleh Allah. Sebagaimana Luqman mengingatkan kepada anaknya tercinta, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16).

Jika kita seringkali lalai, mungkin ada niat yang harus diluruskan. Jika kita seringkali abai dengan seruan kebaikan, mungkin perlu menambah ilmu untuk menguatkan iman. Jika hati terasa kering dan gersang, emosi seringkali tak bisa dikendalikan, mungkin kita sedang diingatkan untuk kembali mengingat Dzat Yang Maha Pemberi Kesejukan. Mungkin kita sedang diingatkan untuk senantiasa mengingat Allah di segala kesibukan. Jadi, untuk apa segala karyamu?


Sumber: Buletin Nah #36 

Senin, 23 Oktober 2017

PEMUDA KITA


Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Apabila pemuda enggan membaca
Tak peduli sesama
Hanya berebut wanita
Tergila-gila dengan lelaki durjana
Diperdaya oleh nikmat dunia
Akan jadi apa bangsa kita?
Bangsa yang sejatinya
Berharap besar kepada pemudanya

Tengoklah para pemuda utama kita
Mereka tiada galau dan nelangsa
Senantiasa teguh beragama
Perjuangan adalah nafas utama
Membaca adalah kesibukannya
Menjaga diri menjadikannya perwira
Hingga mereka dibanggakan penduduk surga
Sebagai bonusnya
Penduduk dunia mencintainya

Akankah engkau termasuk pemuda utama?

*Naskah lolos KUSEN per 20 Oktober 2017

Rabu, 18 Oktober 2017

BERKELANA KE LANGIT DUNIA


Oleh: Fatan Fantastik

Ketika telah sampai di langit dunia, Jibril berkata kepada penjaga langit, ”Bukalah."

”Siapakah engkau?” Penjaga langit bertanya.

“Ini Jibril."

”Apakah ada orang lain yang bersamamu?” Sang penjaga kembali bertanya.

”Ya. Aku bersama Muhammad SAW”, jawab Jibril.

“Apakah ia diutus kepada Allah?”

“Ya."

Maka pintu pun dibuka. Rasulullah bersama Jibril lalu naik melewati langit dunia. Saat itulah mata Rasulullah tertumbuk pada sosok seorang laki-laki yang sedang duduk di sana. Di sebelah kanannya terdapat sekumpulan orang. Di kirinya juga ada sekumpulan orang. Anehnya, jika lelaki itu melihat ke kanan, ia tertawa. Jika menengok ke kiri, ia mencucurkan air mata.

Belum hilang keheranan Rasulullah, lelaki itu menyapanya,”Marhaban bin-nabiyyish shaalih wal ibnish shoolih. Selamat datang wahai Nabi yang shalih dan anak orang yang shalih."

Rasulullah bertanya kepada Jibril, ”Siapakah orang ini?” Jibril menerangkan,”Ini adalah Adam. Kumpulan orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah arwah anak keturunannya. Orang-orang yang berada di sebelah kanannya adalah para penduduk surga. Sedangkan yang berada di samping kirinya adalah para warga neraka. Jika melihat ke kanan, ia tertawa. Jika melihat ke kiri, ia mencucurkan air mata."

Olala... Dimanakah posisi kita? Di sebelah kanan, alias (calon) penghuni surga? Atau di sebelah kiri alias cikal bakal kayu bakar neraka? Apakah engkau tahu jawabannya?

Selasa, 17 Oktober 2017

Berani Berburu Ilmu


Oleh: Deniz Dinamiz
Berani yang benar adalah berani yang berdasar. Berani karena berilmu. Tidak hanya ikut-ikutan atau bergaya sesukamu. Kamu harus tahu benar kenapa dan bagaimana cara melakukan sesuatu. Sehingga kamu bener-bener berani beraksi melawan segala kesulitan yang menimpamu. Termasuk berani beraksi dalam berburu ilmu.

Yuk kita perhatikan satu diantara penelitian dari seorang yang bernama Dr. Rosenzweig. Dari penelitian Dr. Ros ini, kita bisa tahu bahwa ternyata ada tingkatan dalam mengingat. Yap. Mengingat bisa bertingkat-tingkat. Semakin banyak proses yang terlibat, semakin kuat kita mengingat.

TINGKAT PERTAMA: MEMBACA.

Kata Dr. Ros, dengan membaca, kita bakal menyerap sampai 10 %. Itu juga masih dipengaruhi banyak faktor, seperti tingkat perhatian terhadap bacaan, konsentrasi ketika membaca, metode membaca, dan faktor membaca lainnya. Membaca saja? Kurang lah ya!

TINGKAT KEDUA: MENDENGAR.

Kalau yang ini, sampai dengan 20 %.

TINGKAT KETIGA: MELIHAT.

Nah, yang ini, sampai 30 %.
Walhasil, adanya seorang guru yang bisa kita lihat dan dengar (tentu saja tidak ditinggal ngobrol sendiri, apalagi sampai molor), menguatkan ingatan kita sampai dengan 50 % (20 ditambah 30 berapa? 50? Pinter, anak-anak!). So, kamu kudu berani menolak kalau diajak ngobrol teman waktu guru menjelaskan. Gitu!

TINGKAT KEEMPAT: MENGATAKAN (berbicara).

Sedangkan yang ini, sampai 70 % (Nggak perlu ngomong “wow”). Langkah nyata untuk mencapainya: Berani bertanya! Berani berpendapat! Berani menjawab pertanyaan dari guru! Tentu saja yang dimaksud adalah segala macam “bicara” yang ada hubungannya dengan materi yang disampaikan. Itu baru bicara yang bermutu!

TINGKAT KELIMA: MEMPRAKTEKKAN
Ini dia tingkat teratas, 90 %! Setelah memahami ilmunya, tidak cukup hanya suka belajar dan diskusi. Usahakan agar kamu dapat mempraktekkan ilmu yang kamu peroleh dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu pelajaran bisa kamu gunakan untuk mengerjakan soal-soal latihan dan ujian. Bisa juga untuk bahan berbagi ilmu dengan teman.

Kenapa harus malu berburu ilmu? Berani Berburu, Raih Ilmu Selalu!

SAATNYA PEMUDA BERKARYA*


Oleh: Annafiah Firdaus

Inilah karya literasi terbesar sepanjang sejarah: Al-Quran. Mudah untuk dibaca. Penuh dengan hal luar biasa. Bisa sobat NAH! bayangkan, jika Zaid bin Tsabit di kala muda saat itu dan sahabat yang lain tidak menghimpun secara sabar? Ayat Al-Quran mungkin akan berserakan. Maka, kita akan kesulitan untuk membacanya. Dan ini adalah sebuah karya besar yang sangat bermanfaat untuk umat. Tidakkah kau merasakannya?

Lain lagi dengan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam berkarya. Dua ulama ahli hadits yang namanya masih menggaung hingga kini karena tak lepas dari satu sebab. Karena apa? Yah, atas karyanya. Hadist-hadist shahih mereka susun sesuai syarat. Syarat akan metode dalam memilih periwayat benar-benar orang shalih. Sanad (jalur periwayat) bersambung sampai Rasulullah haruslah orang taqwa, hafalan kuat, tak pelupa, dan tak cacat hadistnya. Luar biasa, bukan?

Lebih lagi seorang Imam Al-Bukhari sangatlah hati-hati pula saat menggoreskan pena. Ada satu syarat yang amat ketat yang tak dilakukan imam lain. Mau tau? Gini. Imam Al-Bukhari akan menerima hadist dari rawi (periwayat) yang sejaman dan ada kemungkinan bertemu dengan rawi yang diambil hadistnya. Itu yang membuat kitab beliau lebih dapat dipercaya dari pada kitab hadits lain. Luar biasa bukan, kerja keras dan pengorbanannya?

Sobat, ada hal yang harus diperjuangkan dalam tiap goresan pena kita. Tak sekedar retorika untuk membusungkan dada. Akan tetapi, retorika yang sarat akan makna. Retorika yang tak memandang untuk siapa kecuali Dia. Menulis adalah retorika. Menulis adalah salah satu cara mengubah jiwa. Menulis adalah berbagi ilmu dan hikmah. Menulis adalah tawashou bil-haq wa tawashou bish-shabr.

Maka, seperti halnya Imam Al-Bukhari dan Muslim. Tidakkah kita ingin bergerak memperjuangkan tiap kegelisahan dalam dada kita? Dalam tiap goresan yang kita harap sebagai batu bata membangun peradaban islam di dunia?

Goreskan penamu. Tekan keyboard-mu. Menulislah!
*berkarya dengan tulisan


Sumber: Buletin Nah #31

Kamis, 12 Oktober 2017

LESEHAN JUM'AT JAN


Mengingat mati adalah perkara penting. Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?". Beliau menjawab, "Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas." (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy).

Ya. Mari berproses menjadi orang "cerdas". Mari "Berjuang Mencari Ilmu Hingga Maut Menjemput".

Tema inilah yang akan menjadi pembahasan terakhir dalam serial "Jadi Hebat Tanpa Bakat." InsyaAllah akan kita pelajari bersama pada forum Lesehan Jum'at Jan pekan ini. Catat jadwalnya:

Waktu  : Jum'at, 13 Oktober 2017
Jam     : 16.00-17.25
Pengisi :Tim Jan
Tempat: Kantor Jan: Kompleks Ponpes Rumah Sajada, Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman.

Cara daftarnya mudah sekali. Bisa langsung via WA dengan klik link ini:
https://goo.gl/DFWjEU

Atau hubungi CP: 085729329304.
Gratis! Sebarkan dan ajak teman-temanmu ya..! 

Selasa, 10 Oktober 2017

Wujudkan Cita-Citamu


Oleh: Fadlan Al-Ikhwani

Berapa usiamu, itu tidak penting. Siapa bapakmu, juga bukan sebuah kebanggan, bila hanya kau jadikan sandaran untuk nebeng keberhasilan orangtuamu. Apa warna kesukaanmu? Hobimu? Cita-citamu sekalipun, semua itu tidak penting. Apa yang lebih penting dari itu semua? Prestasi. Hasil. Tekad membulat dan semangat membara untuk mewujudkannya. Cita-cita yang hanya ada dalam pikiran adalah angan-angan kosong. Cita-cita yang sekadar dituliskan adalah peta perjalanan. Semua tidak akan ada artinya, tanpa adanya tekad yang membulat dan semangat yang membara untuk meraihnya.

Tengoklah pemuda ini. Usianya baru 15 tahun. Tapi semangatnya luar biasa. Di usia masih belia itu, ia terus melatih kudanya bolak-balik menerjang lautan. Tekadnya sudah membaja. Cita-citanya sudah bulat. Konstantinopel harus takluk. 8 tahun kemudian, sejarah pun mencatatkan namanya. Di usia 23 tahun itu, Konstantinopel benar-benar takluk di tangan pemuda ini. Dialah Muhammad al-Fatih.

Pemuda ini pun tidak kalah prestasinya. Usia 7 tahun, di saat teman-teman seusianya asyik bermain di sungai Dajlah dan menyeberangi jembatan, ia justru menghadiri majelis di serambi masjid yang diselenggarakan oleh ulama ahli hadis. Mengurung diri dalam kamar untuk menghafal 1 juz al-Qur’an. Menimba ilmu dan tidak akan berhenti mengkaji sebelum berhasil menguasainya dengan sangat mahir. Tibalah saat itu. Sejarah pun menunggunya. Dari tangannya telah lahir 2000-an jilid kitab di zaman yang tidak ada komputer ataupun notebook.

 Di hadapannya 100 ribu orang telah mengungkapkan taubat. Sebanyak 10.000 orang Yahudi dan Nasrani juga telah diislamkan. Pemuda ini adalah Al Imam Jamaluddin bin Faraj Abdurrahman Ibnul Jauziy Al-Baghdady atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu al-Jauziy. Satu karyanya yang sangat monumental dan dianggap karya terbaiknya adalah Saidul Khatir.

Berkorban memang lebih nikmat daripada menjadi korban. Berkorban waktu, usia, tenaga lebih nikmat daripada nanti menyesal di kemudian hari. Kita perhatikan bagaimana Muhammad Al Fatih memanfaatkan masa mudanya. Di usianya yang baru 15 tahun. Disaat sebagian teman-temannya masih bergelayut manja di tangan orangtuanya, dia sudah menancapkan cita-citanya yang kuat: menaklukkan Konstantinopel. Demikian pula dengan Ibnu Al-Jauziy. Disaat teman-temannya asyik dengan agenda bermainnya, beliau justru asyik dengan kesibukannya mendalami ilmu. Mengahadiri majelis hadis yang dihadiri juga oleh para khalifah, wazir dan pembesar.

Jadi, berapa usiamu, memang tidak penting. Karena yang lebih penting adalah seberapa besar prestasi yang telah kauhasilkan. Seberapa optimal masa muda ini kau manfaatkan. Tiada kata terlambat untuk berbuat. Let’s Go!

Sumber: Buletin Nah #12

            

Pagi Ini


Oleh: Arif Jadmiko

Alhamdulillah…
Hari ini kubuka mata
Sayup terdengar ayam bertasbih padaNya
Saat para manusia masih berkemul dengan selimutnya

            Alhamdulillah…
            Kuhirup udara pagi
            Segarnya merasuk ke dada
            Bersih, sehat, dan melegakan jiwa

Kutatap gemintang di langit tinggi
Tinggi namun tetap berbaik pada manusia
Karena cahyanya yang indah
Susunannya unik, memanjakan pemandangnya
           
            Itulah gemintang
            Mengajari untuk tak bersombong dengan diri
            Allah yang mencipta semua
            Dan berkuasa atas segala

Sinaran mentari memecah kegelapan
Kumulai pagi ini dengan senyuman
Berharap hariku penuh harapan

Tetap semangat mengejar impian! 

Senin, 09 Oktober 2017

Bolak-balik Asyik!


Oleh: Deniz Dinamiz

“Dibolak-balik kok makin asyik
Dibaca semakin menarik
Coba diresapi kok tambah asyik
Sampai-sampai mata gak mau melirik!”

Membaca memang luar biasa. Bikin kita semakin kaya. Bukan hanya dunia, akhirat pun jadi kian dekat surga (tergantung baca buku apa, tentu saja!) Karena kaya nggak melulu berarti berapa cm tebal dompetmu. Kaya ilmu itu favoritku. Setuju?

Buat kamu yang ingin semakin bermutu dan berilmu, tentunya sepakat sama abang: membaca sama saja dengan makan. Bedanya: Yang satu masuk perut, yang satunya lagi? Masuk otak kita lalu menjalar ke se-antero bodi!

Bayangkan! Apa yang terjadi kalau kita setiap hari hanya makan mie instan? Bisa keriting usus kita karena kerja keras mencerna. Belum efek MSGnya?

Nah, kalau tiap hari mata kita dibiarkan melahap tanpa sisa tayangan televisi yang nggak jelas bin nggegilani (baca: mengerikan), apa jadinya otak kita ini?

Cerita pilu yang jangan ditiru: Ada seorang anak sedang dimarahi ayahnya. Tiba-tiba sang anak menjawab dengan santainya:

”HAAA... HAAA... HAAA....!”

Anak tersebut tertawa dengan gaya yang sama dengan tokoh kartun gurita kesukaannya...
Apa yang keluar dari kita tergantung dari apa yang masuk ke dalamnya. Ingin menebarkan kebaikan? Serap dalam-dalam kebaikan. Satu diantara caranya adalah dengan membaca.
Banyak makanan bergizi tinggi yang layak kita nikmati: kisah-kisah inspiratif dan motivatif di dalam Al-Qur’an, contoh-contoh menawan dari Nabi Muhammad SAW, dan tulisan atau buku lainnya yang beraroma surga.   

TIPS SAAT INI: LIRIK buku beraroma surga terdekat

Lalu?

LAHAPP!!!

Ingat: baca bismillah agar kian berkah! Semoga istiqomah!***

*Sumber naskah: Nah #16


Kamis, 05 Oktober 2017

Guruku Terimakasihku



Guruku Terimakasihku
.............................................
Menjadi muridnya guru, bukan muridnya buku. Prinsip ini perlu dipegang teguh oleh para pembelajar. Tanpa adanya guru kita tak bisa mengecek kepahaman kita akan suatu ilmu. Sebab membaca buku saja tidak cukup, setiap pembelajar pasti butuh guru.

Untuk menjadi hebat tanpa bakat, tangga selanjutnya adalah “Bersahabat dengan Guru Hebat”. Tema ini akan kita pelajari bersama pada forum Lesehan Jum'at Jan pekan ini. Catat jadwalnya:
 Waktu         : Jum'at, 6 Oktober 2017Jam             :16.00-17.25 Pemateri   : Denis Dinamiz Kantor Jan: Kompleks Ponpes Rumah Sajada, Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman.

Cara daftarnya mudah sekali. Bisa langsung via WA dengan klik link ini:
https://goo.gl/DFWjEU

Atau hubungi CP:
085729329304.

*Gratis*
Sebarkan dan ajak teman-temanmu ya... 
https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f4c/1/16/1f642.png🙂

Selasa, 03 Oktober 2017

GILA SURGA


Oleh: M. Fatan Fantastik

Gila! Mana ada orang yang mau ngasih satu milyar rupiah begitu saja ke orang lain? Satu milyar! Kalau ada, boleh dong ketemu dengannya…

Hari itu, Madinah tenang. Lengang menguasai kota. Senyap menyergap segenap penjurunya. Tiba-tiba….debu tebal mendekati Madinah. Debu itu membumbung tinggi menutupi angkasa. Angin yang bertiup membawa pusaran debu itu ke gerbang-gerbang Madinah. Warga mengira, badai sedang mengancam pemukiman mereka. Dan sang badai mengirimkan warta melalui debu pepasirnya. Tapi…bukan badai yang muncul dari luar sana. Malahan, terdengar hiruk pikuk suara dari gumpalannya. SubhanalLah! Ternyata itu adalah sebuah rombongan yang BESAR dan panjang!   

Bukan main. Tujuh ratus unta penuh dengan beraneka barang!  Warga pun geger. Berita pun cepat menyebar laksana aliran listrik yang mendapatkan penghantar. Banyak yang kemudian turut turun ke jalan, menyaksikan keramaian. Kafilah dagang dari mana pula ini?

”Apa yang sedang terjadi di Madinah?” tanya Aisyah, sang ibunda orang-orang beriman.

”Kafilah dagang Abdurrahman bin Auf datang dari Syam membawa barang dagangannya.”

”Satu kafilah dagang menyebabkan kegaduhan seperti ini?”

”Ya, wahai Ummul Mu'minin. Kafilah itu terdiri dari 700 unta penuh muatan.”
Wanita mulia itu menggelengkan kepala. Ia pun berkata,”Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,'Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”

Beberapa sahabat yang mendengar perkataan itu, segera memberitahukan kepada Abdurrahman bin Auf. Begitu mendengar hal tersebut, dengan bergegas, tanpa sempat menurunkan muatan dari rombongan dagangnya, Ibnu Auf menemui 'Aisyah ra. 

”Ibunda mengingatkan saya kepada sabda Rasulullah SAW yang tak pernah saya lupakan. Ketahuilah, Bunda. Semua kafilah dengan muatannya ini, saya  persembahkan untuk perjuangan di jalan Allah.” Allaahu akbar! Semoga Allah melimpahkan barakahNya pada dirimu, keluargamu, dan hartamu wahai Abdurrahman!

Gila! Tak hanya 1 milyar! Bahkan 700 unta penuh dengan muatan! Ah, jadi pingin ketemu dengan orang-orang seperti putra Auf, Abdurrahman. Kini, dimanakah Abdurrahman-Abdurrahman lainnya?

Sumber: Buletin Nah #5