Senin, 30 Oktober 2017

KEMANAKAH PAHLAWAN ITU?

Oleh: Fadlan al-Ikhwani

Dari mana asalnya mutiara? Terbentuk sendirikah? Tidak! Berkat pengorbanan si kerang ia terbentuk. Ketegaran menghadapi rasa sakit, kesabaran merasakan penderitaan, masuknya benda asing ke dalam cangkang yang sakitnya luar biasa itulah yang membentuk batuan indah, mutiara. Dan, nilai sebutir mutiara lebih mahal dari berkilo-kilo batuan kali.

Coba bandingkan dengan kerang biasa yang tidak mau berkorban. Tidak mau menanggung rasa sakit. Tidak mau ada benda asing yang masuk ke dalam cangkangnya. Ia akan jadi kerang murahan. Dijual di pasar dengan harga rendah. Dua ribu rupiah sudah dapet 5 tusuk. Sate kerang! Sate kerang!

Hidup adalah perjuangan, Kawan. Setiap perjuangan pasti butuh pengorbanan. Jelas! Setiap kesulitan yang menimpa, jika kamu mau menghadapi dengan sabar, akan menghasilkan mutiara-mutiara indah di hadapan Allah. Apakah mutiara itu? Surga!

Ya! Surga! Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Siapa yang tidak ingin surga? Ada yang tidak ingin surga?

Perang uhud adalah contoh perjuangan yang memerlukan pengorbanan. Kaum muslimin betul-betul diuji pada perang ini. Berat sekali ujiannya. Bayangkan! Sekitar tujuh puluh orang sahabat gugur sebagai syuhada. Termasuk pamanda Rasulullah Saw tercinta, Hamzah. Ia gugur dengan usus terburai. Hidungnya terpotong, telinganya juga. Mush'ab bin Umair juga syahid dengan tubuh terpotong-potong.

Kekalahan di Uhud adalah pil pahit bagi kaum muslimin. Pasukan pemanah telah lengah. Mereka tidak mengindahkan seruan Nabinya untuk tidak turun gunung, apapun yang terjadi. Namun mereka nekad meninggalkan pos-nya, lantaran tergoda oleh ghanimah (harta rampasan perang). Akibatnya, pos pertahanannya diserang oleh pasukan Khalid bin Walid. 

Pasukan muslimin pun dibuat kocar-kacir. ENDing-nya: kekalahan di pihak kaum muslimin.
Itulah sekilas fenomena Uhud. Namun di sisi lain, Uhud adalah rahasia Allah. Mengapa bisa begitu? Karena pada perang ini terkuak. Siapa yang mukmin dan siapa yang munafik. Perang ini juga merupakan bentuk kasih sayang-Nya. Lho kok? Iya! Karena perang ini banyak ”mewisuda” para sahabat terbaik menjadi syuhada. Bukankah memang itu yang mereka damba-dambakan? Berjumpa Rabbnya  dengan tubuh penuh luka. Berdarah-darah. Tapi, kelak akan diganti lumuran darahnya itu dengan wangi kasturi. Dan, disambut oleh para bidadari bermata jeli. Duh suenengnya.

Rasa sakit dalam setiap perjuangan adalah tempaan, yang akan membuat hidup lebih bermakna. Maka, tantangan dan kesulitan yang menghadang, jangan sampai menjadikan dirimu lemah. Apalagi sampai mundur dan surut ke belakang. Kata seorang penyair Arab, Al-Mutanabbi, “Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan jadi pahlawan.” 


Sumber: Buletin Nah #4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar